Kementerian PU Siagakan Ribuan Personel dan 5.755 Alat Berat Hadapi Cuaca Ekstrem Akhir 2025
Menjelang akhir tahun 2025, potensi cuaca ekstrem yang diprediksi meningkat oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) membuat pemerintah pusat bergerak cepat. Kementerian Pekerjaan Umum (PU) menyiapkan langkah besar dalam menghadapi potensi bencana hidrometeorologi, termasuk banjir dan tanah longsor, melalui penyebaran ribuan alat berat, bahan penanganan banjir, dan personel siaga di seluruh Indonesia.
Langkah ini menjadi bagian dari strategi nasional menghadapi ancaman cuaca ekstrem yang diperkirakan mencapai puncaknya pada November hingga Februari 2026.
BMKG melaporkan, dalam tiga bulan terakhir, terjadi peningkatan curah hujan yang signifikan di berbagai wilayah Indonesia. Pada Agustus 2025, mayoritas wilayah masih berada pada kategori Rendah hingga Menengah, namun pada September dan Oktober terjadi lonjakan ke kategori Menengah hingga Tinggi.
Sebanyak 69,45% wilayah Indonesia kini mengalami curah hujan sedang, sementara lebih dari 23% wilayah tercatat berintensitas tinggi. Kondisi ini menimbulkan risiko meningkatnya banjir di wilayah padat penduduk seperti Jawa, Sumatera, dan Kalimantan bagian selatan.
Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo menegaskan bahwa kesiapsiagaan penuh menjadi prioritas utama agar infrastruktur publik tetap berfungsi optimal.
“Kami menyiapkan langkah tanggap darurat dengan alat berat, kendaraan evakuasi, dan bahan penanganan banjir. Unit Disaster Relief Unit (DRU) akan siaga di titik strategis, dan bila diperlukan akan dibangun Posko Banjir di lokasi rawan,” ujar Dody dalam keterangan resmi di Jakarta, Jumat (7/11/2025).
Kementerian PU juga menyiapkan anggaran tanggap darurat untuk mendukung operasi lapangan, termasuk penyediaan logistik dan bahan cepat guna bagi wilayah terdampak bencana.
Hingga awal November 2025, Kementerian PU telah menyiapkan dan mendistribusikan:
- 5.755 unit alat berat,
- 382.044 unit bahan penanganan banjir, serta
- 3.455 personel siaga.

Sumber daya ini telah tersebar di seluruh Unit Pelaksana Teknis (UPT) di provinsi-provinsi strategis, terutama di wilayah berisiko tinggi. Fokus utama diarahkan ke Jawa Barat, Jawa Tengah, DKI Jakarta, Sumatera Utara, Riau, dan Kalimantan Selatan.
“Kami pastikan seluruh peralatan siap digunakan kapan saja. Balai-balai di daerah telah kami instruksikan untuk siaga penuh,” jelas Dody.
Untuk memperkuat efektivitas di lapangan, tiga direktorat teknis di bawah Kementerian PU telah menyiapkan langkah khusus sesuai bidang masing-masing:
Direktorat Jenderal Sumber Daya Air (SDA): menyiagakan Excavator, Amphibious Excavator, Mobile Pump, Perahu Karet, hingga Weed Harvester. Bahan penguatan seperti bronjong, sandbag, geobag, dan sheet pile juga telah disiapkan.
Direktorat Jenderal Bina Marga: fokus menjaga konektivitas jalan dan jembatan. Mereka menyiapkan Wheel Loader, Dump Truck, Jack Hammer, Chainsaw, hingga material CPHMA untuk menutup longsoran dan memperbaiki akses darurat.
Direktorat Jenderal Cipta Karya: menyiapkan fasilitas sanitasi dan air bersih darurat, termasuk mobil toilet, hidran umum, vacuum tinja, dan tenda pengungsian.
Sinergi lintas direktorat ini diharapkan dapat mempercepat proses pemulihan pascabencana dan mengurangi dampak terhadap masyarakat.
Menteri Dody menekankan bahwa keberhasilan menghadapi bencana hidrometeorologi tidak dapat hanya mengandalkan satu instansi. Kementerian PU terus menjalin kolaborasi erat dengan BNPB, BPBD, BMKG, Kementerian Perhubungan, Polri, TNI, serta pemerintah daerah.
“Kami tidak bisa bekerja sendiri. Kolaborasi lintas sektor adalah kunci. Pemerintah pusat dan daerah harus bergerak seirama agar respons di lapangan cepat dan terukur,” tegasnya.

Dody juga mengingatkan pentingnya peran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan, terutama dengan tidak membuang sampah ke saluran air dan menjaga fungsi daerah resapan.
Selain tanggap darurat, Kementerian PU tengah menyiapkan program normalisasi dan rehabilitasi sungai serta drainase perkotaan yang akan dimulai pada tahun 2026. Program ini menjadi kelanjutan dari upaya penanganan jangka panjang untuk mencegah bencana banjir tahunan, khususnya di Jabodetabek dan kota-kota besar lainnya.
“Kita tidak bisa hanya reaktif. Tahun depan kami akan melanjutkan program normalisasi sungai di beberapa wilayah prioritas, termasuk Kali Krukut, Ciliwung, dan Cakung,” jelas Dody.
Seluruh langkah ini, lanjut Dody, merupakan bagian dari strategi nasional pengurangan risiko bencana yang mengutamakan ketangguhan infrastruktur dan kesiapan SDM.
Kementerian PU juga memastikan sistem pelaporan cepat antarwilayah berjalan efektif dengan dukungan pusat komando digital di kantor pusat dan seluruh balai besar wilayah sungai.
“Kami tidak hanya siap menghadapi bencana, tetapi juga memastikan pemulihan cepat agar aktivitas masyarakat segera kembali normal,” tandasnya.
