Kenali Cedera Saat Olahraga dan Cara Penanganannya
Olahraga merupakan salah satu jenis kegiatan yang menyenangkan sekaligus menyehatkan. Tidak salah jika seseorang diwajibkan untuk berolahraga, namun harus ada yang diperhatikan agar olahraga yang dijalankan aman bagi tubuh, jangan sampai olahraga yang dilakukan timbul cedera yang berkepanjangan.
Taufan Favian Reyhan, Sp.KO mengatakan orang mengalami cedera saat berolahraga tergantung pada jenis olahraga yang dilakukannya. Ada tiga jenis olahraga yakni olahraga non kontak, olahraga semi kontak dan olahraga kontak.
“Olahraga yang non kontak misalkan badminton, atletik dia tidak mungkin kontak dengan lawannya, dia bertarung untuk dirinya. Olahraga yang semi kontak contohnya adalah sepakbola dan basket. Kenapa disebut semi kontak, karena memang tidak ada niatan untuk melakukan kontak pada olahraga tersebut. Apabila terjadi kontak biasanya dianggap foul atau pelanggaran,” kata dokter Taufan saat menjadi pembicara dalam program EL JOHN Medical Forum yang ditayangkan EL JOHN TV. Program ini dipandu oleh Miss Earth Indonesia 2019 Cinthia Kusuma Rani.
Yang terakhir yang sifatnya kontak, yang disengajakan harus pukul-pukulan, tinju misalkan terus MMA yang lagi tren atau rugby atau American football itu yang memang sifatnya harus kontak karena sengaja harus tabrak lawannya,” sambung dokter Taufan.
Menurut dokter Taufan, ketiga olahraga tersebut memiliki resiko yang rata-rata cukup sama, tergantung pada bagaimana cara orang tersebut dalam berolahraga. Dokter Taufan pun mengambil contoh misalkan sepakbola, olahraga ini belum tentu aman dari cedera karena menjadi olahraga jeni semi kontak. Justru olahraga ini akan mengalami cedera serius jika seseorang asal dalam bermain sepakbola.
Cedera yang sering terjadi saat bermain sepakbola adalah cedera engkel. Para pemain sepakbola profesional biasanya pernah dalam karirnya mengalami cedera engkel, kecuali kiper yang jarang kontak langsung dengan lawan.
“Sering sekali seseorang itu jarang melatih keseimbangannya. Cedera engkel sangat berhubungan kemampuan keseimbangan seseorang, kemampuan sensor otak ke engkelnya, ke otot-otot dari engkelnya. Jadi biasanya pesepakbola hanya bermain, dia sesuai bakatnya, dia akan melatih fisiknya, tetapi tidak pernah melatih engkelnya dengan baik. Akhirnya pada saat dia main, dia lompat, dia mendarat, engkelnya posisinya tidak baik akhirnya cedera di situ,” ujar tim dokter Persija ini
Kemudian cedera lainnya yang dialami pemain sepakbola adalah cedera lutut. Cedera ini menjadi menjadi cedera yang tidak diinginkan pemain sepak bola, karena jika mengalaminya harus menjalani operasi yang biayanya cukup mahal.
“Cedera lutut ini sendiri merupakan cedera yang menjadi momok bagi pesepakbola. Karena misalkan dia cedera lutut mengalami putus ligamennya harus menjalani operasi yang biayanya ratusan juta terus dia harus recovery selama 6 sampai 9 bulan. Bisa jadi putus karirnya jika tidak ditanggung klubnya dan itu menjadi momok. Dan yang terakhir yang tidak mau ini terjadi adalah cedera robeknya otot, jadi bisa terjadi pada hamstring, bisa juga terjadi pada robekan otot paha,” terang dokter Taufan.
Dokter Taufan menjelaskan untuk mengatasi cedera saat berolahraga ada dua, yakni dengan menggunakan metode dingin atau panas. Hampir 90 persen pengobatan orang yang mengalami cedera saat berolahraga menggunakan metode dingin
“Ada istilah umum yang disebut sebagai Rest, Ice, Compression dan Elevation. Jadi kita istirahatkan, kita berikan es, kita kompres lalu kita angkat supaya aliran darahnya turun. Semua cedera berikan es, kecuali satu jenis cedera yang tidak diberikan es yaitu kram. Pada saat dia kram jangan dikasih es, berikan yang hangat, berikan cream panas, berikan pijatan,” ungkap dokter Taufan.
“Kita lihat perkembangannya apabila cedera berkurang tidak semakin bengkak, tidak makin biru misalkan, ya sudah diistirahatkan. Tetapi apabila massif, dia menjadi bengkak, biru sekali, nyeri sekali, datang ke UGD atau ke rumah sakit untuk dicek apakah ada patah atau robekan di ligament besar,’ lanjutnya.
Dokter taufan mengajak masyarakat untuk memahami cara menangani cedera akibat berolahraga, jangan sampai penanganannya salah yang dapat berakibat fatal kedepannya. Karena itu, masyarakat dituntut perlu mengetahui edukasi yang benar dalam pengobatan pertama untuk cedera.
“Misalkan kita tau ini cedera engkel tetapi malah dipijat, kita tarik-tarik engkelnya yang ada robekan yang awalnya sebagian malah jadi putus total. Apalagi ditangani oleh orang yang tidak paham, tidak berdasarkan ilmu media dalam penyembuhannya,” ungkap dokter Taufan.
