Kisah Laura, Finalis Putri Bumi Indonesia 2026, Lulusan Bioengineering Institut Teknologi Bandung (ITB)

0
WhatsApp Image 2026-06-17 at 15.24.17

El John News, Jakarta – El John Pageants resmi mengumumkan deretan finalis Putri Bumi Indonesia 2026. Salah satu nama yang sukses terpilih dan mencuri perhatian adalah Laura Tessalonika, seorang lulusan Bioengineering yang siap membawa inovasi nyata untuk bumi.

Bagi Laura, terpilih menjadi finalis bukan sekadar memenangkan kompetisi kecantikan. Langkah ini merupakan jawaban atas komitmen mendalam yang telah ia bangun sejak lama untuk mendapatkan platform yang lebih luas dalam menyuarakan isu-isu keberlanjutan.

“Menjadi bagian dari Putri Bumi Indonesia 2026 adalah rasa syukur yang dalam bagi saya. Kesempatan ini sangat berarti karena sejalan dengan kepedulian lingkungan yang telah saya bangun sejak lama,” ungkap Laura penuh rasa syukur.

Membawa latar belakang akademis yang kuat, Laura terbiasa meneliti dunia sains ramah lingkungan. Ia fokus mempelajari bagaimana inovasi teknologi dapat diintegrasikan secara nyata untuk menjawab berbagai tantangan ekologi di masyarakat.

“Saya bertekun di bidang Bioengineering untuk mencari tahu bagaimana ilmu pengetahuan dapat menjawab tantangan lingkungan. Hal ini mendorong saya aktif mencari solusi berkelanjutan bagi masyarakat,” jelas Laura mengenai latar belakangnya.

Laura Tessalonika – Finalis Putri Bumi Indonesia 2026

Melalui ajang ini, Laura ingin memperluas dampak positifnya dari ruang laboratorium ke masyarakat luas. Ia siap memaksimalkan suara dan platform barunya untuk mengajak publik agar lebih peduli pada kelestarian bumi.

“Jika sebelumnya saya berkontribusi melalui ilmu pengetahuan, kini saya memiliki kesempatan menggunakan suara dan pengaruh saya untuk mengajak lebih banyak masyarakat peduli terhadap bumi,” tegasnya penuh percaya diri.

Saat ditanya mengenai tantangan ekologi terbesar di Indonesia, Laura menyoroti masalah budaya. Menurutnya, masih banyak masyarakat yang menganggap isu lingkungan sebagai tanggung jawab pihak lain, bukan bagian dari gaya hidup harian.

“Tantangan terbesar kita adalah membangun kebiasaan hidup berkelanjutan. Banyak orang menganggap masalah sampah sebagai tanggung jawab pihak tertentu, padahal keberlanjutan harus menjadi budaya sehari-hari,” ulasnya kritis.

Oleh karena itu, Laura menekankan pentingnya peran generasi muda sebagai agen perubahan masa kini. Pemuda harus bisa menjadi teladan konkrit melalui tindakan-tindakan kecil yang dilakukan secara konsisten di lingkungan sekitar mereka.

“Generasi muda adalah agen perubahan masa kini melalui tindakan nyata. Saya percaya perubahan besar selalu dimulai dari komunitas kecil yang konsisten melakukan hal-hal sederhana dengan tujuan yang sama,” paparnya.

Laura Tessalonika – Finalis Putri Bumi Indonesia 2026

Jika terpilih sebagai Putri Bumi Indonesia 2026, Laura telah menyiapkan program lingkungan prioritas yang berfokus pada masyarakat akar rumput, yaitu sebuah gerakan ekonomi sirkular di pasar tradisional bernama “Pasar Putar”.

“Saya ingin mengembangkan program Pasar Putar, gerakan ekonomi sirkular di pasar tradisional untuk mengurangi limbah. Pasar dipilih karena dekat dengan aktivitas harian masyarakat, sehingga perubahan perilaku lebih mudah tercipta,” urai Laura.

Secara teknis, program Pasar Putar ini akan menggabungkan aksi lapangan lewat dua sub-proyek, yaitu Putar Sampah (olah kompos) dan Putar Plastik (satu hari tanpa kantong plastik), yang diperkuat dengan kampanye digital di media sosial.

“Program ini fokus pada aksi lapangan melalui gerakan olah kompos ‘Putar Sampah’ dan pengurangan plastik lewat ‘Putar Plastik’. Kami juga mendukungnya dengan kampanye digital di media sosial agar bisa direplikasi di berbagai daerah,” jelas Laura.

Sebagai penutup, Laura mematahkan stigma bahwa menjaga lingkungan itu mahal. Baginya, investasi terbesar yang dibutuhkan bumi dari manusia bukanlah teknologi tinggi, melainkan konsistensi. “Hal termahal dalam menjaga lingkungan bukanlah teknologi, melainkan konsistensi.” -Ujarnya

“The sincerest love we can give to Earth is not measured by how much we spend, but by how consistently we care,” pungkas Laura.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *