KSAL Targetkan Kapal Induk Pertama Indonesia Tiba Sebelum HUT TNI

Kapal induk buatan Italia, Giuseppe Garibaldi sedang berlayar (Foto: tangkapan layar Youtube Baku Hantam)
El John News, Jakarta-TNI Angkatan Laut masih melanjutkan proses pembicaraan terkait rencana akuisisi kapal induk milik Italia, Giuseppe Garibaldi. Hingga kini, komunikasi dengan sejumlah pihak disebut masih berjalan dan belum mencapai tahap final.
Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Muhammad Ali menjelaskan, pembahasan melibatkan TNI AL, Angkatan Laut Italia, galangan kapal Fincantieri, serta Kementerian Pertahanan.
“Jadi masih proses negosiasilah antara TNI AL dengan Angkatan Laut Italia, dengan Fincantieri pabrikan, dan Kemhan,” kata Ali usai meresmikan SPPG di Mako Puspomal, Jakarta Utara, Kamis (12/2/2026).
Ali berharap proses tersebut dapat segera menemukan titik terang sehingga kapal induk itu bisa memperkuat jajaran armada nasional dalam waktu dekat. Ia bahkan memasang target optimistis.
“Harapannya bisa sampai di Indonesia sebelum HUT TNI,” katanya.
Bukan untuk Invasi, tapi Diplomasi
Sebelumnya, Ali menegaskan bahwa jika nantinya kapal induk itu resmi bergabung, perannya bukan untuk kepentingan agresi militer. TNI AL memproyeksikannya sebagai alat diplomasi pertahanan sekaligus instrumen soft power Indonesia di kawasan.
Dalam visi pengembangan kekuatan laut, kapal sepanjang sekitar 180 meter tersebut juga dirancang untuk mendukung misi kemanusiaan, termasuk distribusi logistik ke wilayah terpencil pada masa damai. Langkah ini sejalan dengan arah pembangunan TNI AL yang memperkuat posisi sebagai green water navy sebelum bertransformasi menuju blue water navy.
Kapal dengan bobot sekitar 13 ribu ton itu juga memiliki peluang untuk dimodifikasi menjadi kapal induk wahana udara nirawak (drone), mengikuti perkembangan teknologi maritim global.
Spesifikasi dan Sistem Persenjataan
Secara teknis, Giuseppe Garibaldi memiliki panjang 180,2 meter dan mampu melaju hingga 30 knot atau sekitar 56 kilometer per jam. Kapal ini dirancang sebagai pengangkut pesawat tempur dan dilengkapi berbagai sistem pertahanan modern.
Persenjataannya antara lain peluncur oktupel Mk.29 untuk rudal antipesawat Sea Sparrow/Selenia Aspide, meriam Oto Melara kembar 40L70 DARDO, tabung torpedo rangkap tiga kaliber 324 mm, serta rudal permukaan-ke-permukaan Otomat Mk 2 SSM. Sistem radar dan perangkat jamming juga terpasang guna menunjang kemampuan tempur.
Menariknya, kapal induk ini memiliki keterkaitan dengan dua kapal perang terbaru TNI AL, yakni KRI Brawijaya-320 dan KRI Prabu Siliwangi-321, yang sama-sama diproduksi oleh Fincantieri.
Jika proses negosiasi rampung dan akuisisi terealisasi, langkah tersebut dipandang sebagai bagian dari penguatan daya tangkal serta kemampuan proyeksi kekuatan Indonesia di kawasan maritim.
KRI Prabu Siliwangi-321 Berlayar Menuju Tanah Air
Di tengah pembahasan kapal induk, TNI AL juga bersiap menyambut kehadiran kapal perang terbaru, KRI Prabu Siliwangi-321. Kapal tersebut telah meninggalkan Base Navale Della Spezia, Italia, pada Rabu (11/2) dan kini dalam perjalanan menuju Indonesia.
KRI Prabu Siliwangi-321 disebut sebagai kapal perang terbesar dan termutakhir yang saat ini dimiliki Indonesia. Dibangun oleh Fincantieri, kapal ini mengusung teknologi modern dengan sistem persenjataan canggih serta kemampuan manuver tinggi.
Menurut Ali, perjalanan kapal dilakukan melalui rute panjang dengan mengelilingi Benua Afrika sebelum tiba di perairan Indonesia.
“Kemudian karena melalui jalur Afrika, mengelilingi Afrika, jadi mungkin sampai di Indonesia awal April. Mudah-mudahan bisa langsung bergabung dengan jajaran,” ujarnya.
Kehadiran kapal tersebut diharapkan segera memperkuat struktur pertahanan laut nasional sembari menanti kepastian akuisisi kapal induk dari Italia.
