Kunjungan Yacht ke Indonesia Dorong Pengembangan Pariwisata dan Perekonomian Lokal
Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman (Kemenko Maritim) mengadakan kegiatan Focus Group Discussion tentang Pelayanan Kepabeanan, Keimigrasian, Karantina dan Kepelabuhanan terhadap Kedatangan Kapal Wisata (Yacht) Asing ke Indonesia. TNI AL, Badan Keamanan Laut (BAKAMLA), Direktorat Jenderal Perhubungan Laut, Badan Karantina, Direktorat Jenderal Imigrasi, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dan Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (BNPP) turut hadir dalam pembahasan ini. FGD dibuka oleh Wakil Ketua Tim Percepatan Pengembangan Pariwisata Bahari Kementerian Pariwisata Asep D. Mohammad.
Asep memaparkan bahwa pada tahun 2018 telah teragendakan 5 kegiatan yacht dalam rangkaiann Wonderful Sail to Indonesia. Wonderful Sail to Indonesia akan melewati 15 provinsi dan singgah di 53 destinasi wisata. Asisten Deputi Jasa Pariwisata Okto Irianto menambahkan “Secara keseluruhan Sail ini akan mengarungi 5000 km jadi bisa dikatakan yacht rally terbesar di dunia”.
Lima yacht rally tersebut adalah Sail Anambas-Natuna, Sail Kalimantan Barat, Sail Back to Down Under, Sail Indonesia (Bawean) dan Wonderful Sail to Indonesia. 5 kegiatan ini dijadwalkan akan berlangsung dari bulan Mei sampai dengan November.
“Kunjungan yacht ke berbagai pulau di Indonesia ini harus bisa mendorong ekonomi lokal”, kata Asep, “Saat yacht ini sandar, wisatawan kita dorong untuk menikmati kuliner lokal dengan bahan baku lokal, agar warga langsung dapat menerima manfaat dari pariwisata.
Selain itu, investasi swasta untuk mengembangkan marina di Indonesia cukup tinggi. Pada tahun 2017 tercatat pada log yachters.co.id, Indonesia dikunjungi 130 kapal yacht yang telah terdaftar dalam kegiatan sail. Sementara kapal-kapal yacht yang berlayar ke Indonesia secara individu (diluar agenda sail) mencapai 2000 kapal.
Kapal-kapal ini membutuhkan marina untuk bersandar, sementara telah ditegaskan oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Laut (Ditjen Hubla), bahwa Ditjen Hubla tidak melakukan pembangunan marina, padahal pada tahun 2018 dengan adanya 5 agenda sail ditargetkan setidaknya 150 yacht akan berlayar ke Indonesia ditambah pelayaran secara individu bisa jauh lebih banyak lagi.
Asisten Deputi Jasa Kemaritiman Okto Irianto pada kesempatan ini menyampaikan bahwa sampai saat ini Indonesia baru memiliki 7 full scale marina. “Bayangkan Indonesia seluas ini, dengan pulau-pulau yang sangat cantik baru memiliki 7 full scale marina. Padahal idealnya tiap 200 km seharusnya ada marina.
Dengan potensi wisata bahari seperti ini, investasi pembangunan marina sangat bisa dikembangkan”. Asdep Okto mengatakan saat ini sudah ada investor dari Australia mengembangkan marina di Lombok, “Investor ini juga telah punya komitmen untuk membangun satu marina lagi. Saya pikir swasta memang perlu lebih banyak didorong untuk mengembangkan marina di Indonesia”. Pungkasnya.