Mencari Titik Temu Antara Budaya Tionghoa dengan Budaya Nusantara Jadi Solusi Yang Tepat

0
IMG_0111

Novi Basuki memiliki pemahaman lain  menyikapi pengaruh budaya Tionghoa di Indonesia. Santri lulusan Universitas di Tiongkok ini,  menilai kata pengaruh dalam budaya kurang tepat karena  di satu sisi, kelompok  yang mempengaruhi  merasa dirinya besar dapat mempengaruhi budaya lain, sedangkan yang dipengaruhi dianggap sebagai kelompok yang kecil, karena mudah untuk dipengaruhi.

Menurut Novi, yang perlu dilakukan adalah mencari titik temu atau persamaan antara budaya Tionghoa dengan budaya Nusantara. Upaya tersebut lebih bijak dibandingkan menggunakan kata pengaruh. Dengan mencari kesamaan maka dapat menyelaraskan dua budaya tersebut untuk jalan beriringan.

“Kalau menggunakan istilah pengaruh atau  menggunakan istilah kontribusi akan dianggap bahwa  orang-orang  yang mempengaruhi  berada di posisi yang tinggi.  sementara yang dipengaruhi akan  berada di posisi yang rendah,  sehingga mungkin yang perlu ditonjolkan adalah mencari titik temu atau  mencari unsur-unsur kesamaan,” kata Novi saat menjadi pembicara dalam seminar yang diselenggarakan Perhimpunan INTI di kantor sekretariat INTI di Mega Glodok Kemayoran Office Tower B, lantai 10, Jakarta, Senin (06/02/2023).

Selian Novi, ada nama Dahlan Iskan yang juga hadir sebagai narasumber. Seminar yang mengangkat tema “Pengaruh Budaya Tionghoa di Dalam Budaya Indonesia” ini, di moderatori oleh Wakil Ketua  INTI Bidang Pendidikan Robert Nyo.

Novi yang banyak menulis buku tentang suku Tionghoa ini, menjelaskan bahwa dirinya menemukan beberapa titik temu atau persamaan antara ajaran Tiongkok klasik dengan ajaran Islam.

Novi  mengungkapkan bahwa seorang filsuf Tiongkok abad ke-6 SM, Konfusius mengajarkan bahwa umat manusia senantiasa  untuk berada di posisi tengah, tidak memihak ke kiri atau ke kanan. Ajaran tersebut mirip dengan sabda Nabi Muhammad SAW bahwa tengah adalah akhlak yang mulia.

“Ajaran Tiongkok klasis yang juga sama  persis lainnya,  dengan ajaran Islam yaitu hormat kepada orang tua. Dalam Kitab Alquran disebutkan bahwa kalau orang tua memanggil kita atau kalau  orang tua memerintahkan,  kita tidak boleh mengatakan “Ah” nggak boleh menolak harus ditaati, demikian dalam ajaran Tiongkok klasik,  kalau orang tua memanggil kita kita harus cepat-cepat menyahut,” ujar Novi.

Novi mengajak masyarakat untuk mencari persamaan antara budaya Tionghoa dengan budaya Nusantara, bukan lagi mengklaim siapa yang mempengaruhi dan siapa yang dipengaruhi

“Nah tugas kita kedepannya seperti yang dikutip konfusius, bahwa kita harus mencari persamaan dengan di waktu yang  tapi  tetap mempertahankan keberagaman. Falsafah Nusantara juga punya falsafah serupa yang namanya kebhinekaan Bhineka Tunggal Ika, boleh berbeda tapi muaranya tetap sama yaitu keberagaman,” tegas Novi.

Apa yang disampaikan Novi diperkuat  oleh Dahlan Iskan. Menteri BUMN  di era  Presiden SBY ini, mengatakan  tidak perlu menonjolkan istilah pengaruh dalam budaya. Yang paling penting adalah adanya kemauan untuk saling mengenal dan saling mengetahui.  Hal itu dibuktikan Dahlan saat dirinya membuat program pertukaran anak suku Tionghoa di Indonesia untuk diasuh dengan masyarakat pribumi dan sebaliknya. 

Program ini berjalan selama 15 hari dan anak yang diasuh hanya anak yang berusia 7 hingga 9 tahun. Batasan usia tersebut ditentukan karena  jika lebih dari 9 tahun,  si anak sudah dipengaruhi dengan hal-hal lain.

Alhasil saat program ini berakhir, si orangtua asuh pribumi  tidak rela untuk mengembalikan anak suku tionghoa  kepada kedua orangtua kandungnya, begitu pun sebaliknya.

“Pada  hari terakhir itu,  pada  nangis-nangis, besok mau pisah dan banyak keluarga Tionghoa yang minta supaya kamu tetap aja di rumahku, nggak usah,  sangat mengharukan saya saya betul-betul menangis,” cerita Dahlan.

“Sebetulnya ini hanya tidak saling mengenal saja hanya tidak saling tahu, itu salah satu akar permasalahannya,” tambah Dahlan.

Wakil Ketua INTI Bidang Pendidikan  Robert Nyo mengatakan seminar ini, digelar untuk memperkuat persatuan dan kebersamaan antara suku Tionghoa dengan suku lain yang ada di Indonesia.

“Seminar ini kita cetuskan kira-kira sebulan yang lalu, maksud dan tujuannya adalah supaya pembauran itu lebih erat lagi antara suku Tionghoa dengan suku lain,” kata Robert Nyo.

Robert Nyo menyampaikan terima kasih atas pemaparan yang penuh inspiratif dari kedua pembicara. Robert Nyo menilai, dua pembicara yang dihadirkan  memiliki banyak pemahaman dan pengalaman tentang budaya Tionghoa, oleh karena itu,  tidak salah untuk menghadirkan Dahlan Iskan dan Novi Basuki sebagai narasumber dalam seminar yang bermanfaat ini.

“Mereka berdua lah yang menurut kami sebagai orang Tionghoa, adalah orang yang jauh lebih mengerti mengenai Tionghoa dari pada kami. Contoh saya tidak pernah belajar Bahasa Mandarin, sementara Pak Dahlan dengan Novi Basuki, mereka berbicara Bahasa Mandarin jauh lebih baik dari saya,” ujar Robert Nyo.

Lebih lanjut, Robert Nyo berharap seminar ini dapat mencari  titik temu antara budaya Tionghoa dengan budaya Nusantara

“Harapannya supaya kita bisa mencari titik temu antara etnis Tionghoa dengan umat yang beragama Islam, karena menurut Novi Basuki dan Pak Dahlan, sebetulnya ada persamaan hanya saja tidak boleh makan babi,” tutur Robert Nyo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *