Mendalami Pengalaman Spiritual di Candi Borobudur Melalui Wisata Pilgrim Umat Buddha
Taman Wisata Candi (TWC) bersama Association of Buddhist Tour Operators Indonesia (ABTO) menyelenggarakan Famtrip Spiritual Borobudur untuk puluhan CEO Tour Operator dari enam negara, yakni Malaysia, Singapura Thailand, India, Nepal dan Indonesia , selama empat hari pada 4-7 September 2023 di Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah.
Kegiatan Paket Wisata Pilgrim di hari pertama Selasa (05/09/2023), diawali dengan melakukan meditasi di Bukit Dagi, Borobudur. Bukit Dagi adalah tempat yang istimewa untuk mengalami kedamaian, refleksi, dan keindahan alam yang menakjubkan. Tak hanya itu, Bukit Dagi juga menawarkan pemandangan matahari terbit dari bukit dan berhadapan langsung dengan bangunan atas Candi Borobudur. Proses meditasi dipandu Bhante Pornchai Palawadhammo Pinyapong dan berlangsung kurang lebih satu jam.
Setelah itu, para peserta famtrip melakukan ritual persembahyangan di Candi Borobudur. Ritual ini dilakukan dengan naik ke bangunan tertinggi candi. Sebelum naik ke atas Candi, para peserta famtrip melakukan puja atau persembahan, dengan menyalakan lilin, membakar dupa dan membawa bunga sedap malam. Kemudian para peserta dengan mengenakan kain dan sandal upanat naik ke atas Candi.

Saat di level 8, 9 dan 10 Candi, para peserta melakukan Pradaksina yakni ritual mengelilingi stupa, kuil, atau objek suci dalam arah searah jarum jam. Pradaksina adalah salah satu aspek utama dalam peribadatan Buddha dan menggambarkan penghormatan, pengagungan, dan makna mendalam dalam agama Buddha.Setelah menjalani Pradaksina, para peserta melakukan meditasi di atas Candi yang dibimbing oleh Bhante Pornchai dilanjutkan dengan ceramah singkat dari Bhante.
Vice President ABTO yang juga sebagai Duta Wisata Spiritual Candi Borobudur Efendi Hansen mengatakan para peserta sangat senang dapat menjalani wisata religi ini, apalagi saat berada di Bukit Dagi.

“Ternyata bukit Dagi indah sekali dan para Buddhism yang melakukan meditasi mereka merasakan satu energi yang luar biasa dan mereka semua menceritakan sepertinya ini tidak pernah di bayangkan sebelumnya karena keindahan tempat dan langsung menghadap Borobudur tentu ini langsung menjadi daya tarik tersendiri bagi mereka,” kata Efendi Hansen.
Setelah ritual selesai dilaksanakan di Candi Borobudur, para peserta diajak melihat produk tradisional dan menikmati objek wisata yang ada Magelang. Kunjungan pertama para peserta diawali di Lumbini art & Galeri di Dusun Tingal Kulon, Wanurejo, Kec. Borobudur. Tak hanya sekedar melihat, di tempat ini para peserta mencoba melakukan batik tulis dipandu oleh pengerajin batik.

Setelah dari Lumbini art & Galeri, para peserta berkunjung ke pusat gerabah di Desa Wisata Karanganyar, Di tempat ini, beberapa peserta juga mencoba membuat gerabah. Gerabah merupakan salah satu jenis karya seni rupa tertua yang bahanya mentahnya dari tanah liat yang dapat membentukk barang-barang peralatan rumah tangga.
Kemudian, perjalanan dilanjutkan dengan berkunjung ke Kelenteng Liong Hok Bio di Alun-alun Kota Megelang. Salah satu kelenteng tertua ini, sangat istimewa karena arsitekturnya unik dan masih utuh. Hanya beberapa bagian saja yang mengalami renovasi.

Bisa dibilang, Liong Hok Bio adalah klenteng kebanggaan masyarakat Magelang yang menyimpan banyak sejarah. Klenteng ini menjadi saksi perjuangan masyarakat Tionghoa yang ikut serta melawan penjajah Belanda dalam perang Jawa, yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro.
Selanjutnya di Magelang, para peserta dijamu oleh Pemerintah Kota Magelang melalui acara makan siang di Keresidenan Bakorwil. Acara famtrip di hari pertama ini, ditutup dengan berkujung ke Candi Mendut.

Menurut Efendi Hansen, wisata religi yang diselenggarakan TWC dan ABTO ini memiliki pengalaman yang baru bagi peserta, bahkan ada beberapa peserta yang menyebut wisata religi kali ini, merupakan wisata terbaik yang pernah dijalaninnya
“Tentu apa yang dilakukan ini, semuanya perserta yang terdiri tour operator, mereka jarang sekali menemukan satu Pilgrim seperti ini dan semuanya itu merasakan mendapat manfaat, mendapatkan energi yang sangat positif dan mereka berharap bagiaman kedepannya itu untuk Pilgrim ini waktunya diperpanjang,” ungkap Efendi Hansen.

“Memang di Borobudur di atas jam 9 pagi sudah panas. Paling bagus itu, jam sudah mulai naik ke atas Candi untuk melakukan satu Pilgrim, itu lah salah satu permintaan Tentu ini semua akan kita coba evaluasi bagaimana Pilgrim in dikemas sesuai dengan kebutuhan,” tambahnya.
Wisata religi yang digagas TWC berkerjasama dengan ABTO merupakan komitmen bersama dalam mewujudkan Candi Borobudur sebagai destinasi spiritual agama Buddha di dunia.
