Healthy LifeLife Style

Mengenal Kejang Demam Pada Anak

Ketika mengalami kejang demam, tubuh anak akan berguncang hebat diiringi gerakan menyentak di lengan dan tungkai, serta kehilangan kesadaran. Kejang demam akan terlihat menyeramkan, terutama bagi orang tua. Padahal, kejang pada anak-anak yang terjadi saat demam umumnya tidak berbahaya dan bukan merupakan gejala penyakit serius.

Kejang demam berbeda dengan epilepsi atau ayan. Epilepsi ditandai dengan kejang berulang tanpa perlu menyertai demam.  Meskipun umumnya tidak berbahaya dan hanya terjadi sebentar, segera hubungi dokter jika anak mengalami kejang demam untuk pertama kalinya. Orang tua juga perlu waspada jika kejang demam terjadi selama lebih dari 5 menit dan diiringi muntah, leher kaku, dan sesak napas.

Koordinator Medis Sun Clinic Bangka dr. Supriadi menyampaikan, Kejang demam ditandai oleh terjadinya kejang saat demam. Gejala kejang demam adalah hentakan pada tungkai dan lengan yang berulang (kelojotan), mata mendelik ke atas, dan anak kehilangan kesadaran.

“Kejang demam biasanya terjadi kurang dari 2 menit. Namun pada beberapa kasus, kejang demam dapat terjadi hingga 15 menit. Anak yang mengalami kejang demam akan langsung sadar setelah kejang reda, walaupun tampak bingung atau lelah. Biasanya kejang juga tidak berulang dalam kurun waktu 24 jam. Kejang demam seperti ini disebut kejang demam sederhana” Ujar dr. Supriadi

Adi menambahkan Jika kejang terjadi lebih dari 15 menit, atau terjadi lebih dari sekali selama kurun 24 jam, kejang demam tersebut dapat digolongkan sebagai kejang demam kompleks. Kejang yang muncul pada kejang demam kompleks juga bisa terjadi hanya pada salah satu bagian tubuh. Anak yang pernah mengalami kejang demam berisiko untuk mengalaminya lagi ketika demam, terutama bila usia anak masih di bawah 15 bulan.

Adi menjabarkan. Penyebab terjadinya kejang demam belum diketahui dengan pasti. Akan tetapi, demam yang menimbulkan kejang pada anak-anak dapat dipicu oleh beberapa hal, yaitu:

  • Setelah imunisasi
    Pada beberapa anak, pemberian imunisasi dapat menimbulkan demam yang bisa memicu kejang demam.
  • Infeksi
    Anak dapat mengalami kejang pada saat mengalami demam akibat infeksi virus atau infeksi bakteri.

Anak yang berusia 12-18 bulan memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami kejang demam dibandingkan anak yang lebih tua. Selain itu, anak yang lahir dari keluarga dengan riwayat kejang demam juga lebih berisiko mengalami kejang demam.

Pada banyak kasus, kejang demam akan berhenti dengan sendirinya setelah beberapa menit. Namun untuk melindungi anak dari cedera selama mengalami kejang, orang tua dapat melakukan beberapa hal berikut di rumah:

  • Baringkan anak di lantai. Pada bayi, rebahkan di pangkuan dengan posisi wajah bayi menghadap ke bawah. Jangan menahan tubuh anak.
  • Miringkan posisi tubuh anak agar muntah atau air liur dapat keluar dari rongga mulut, serta mencegah lidah menyumbat saluran pernapasan.
  • Longgarkan pakaian anak dan jangan menaruh apa pun pada mulut anak untuk mencegah tergigitnya lidah.
  • Hitung durasi terjadinya kejang demam dan perhatikan tingkah laku anak saat kejang. Beritahukan hal tersebut saat berkonsultasi ke dokter

dr. Adi mengatakan, Jika anak mengalami kejang demam sederhana, Anda boleh tidak membawa anak ke dokter setelah kejang berhenti. Meski begitu, akan lebih baik jika Anda tetap memeriksakannya ke dokter untuk mengetahui penyebab demam yang dialami anak.

“Bila tidak ada penyebab khusus dari kejang demam, dokter bisa tidak memberikan pengobatan apa pun. Dokter juga bisa meresepkan obat penurun panas, seperti paracetamol, atau obat antikejang, seperti diazepam. Umumnya, anak tidak perlu dirawat inap di rumah sakit, namun hal ini tergantung pada penyakit yang menyebabkan demam” Ucap dr. Adi

Kejang demam atau penyakit step merupakan kondisi yang tidak berbahaya, dan bisa terjadi pada anak yang menderita demam tanpa menimbulkan komplikasi. Setelah mengalami kejang demam, umumnya anak dapat beraktivitas kembali seperti biasa.

 

 

 

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button