Menteri Arief Yahya Akan Bertemu Menpar Tiongkok Bahas Mafia Penjualan Pariwisata Bali

0
45886676_2156837031035747_3490843027553910784_n

Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya akan bertemu dengan Menteri Pariwisata Tiongkok untuk membicarakan penjualan pariwisata Bali secara murah oleh oknum travel yang diduga sebagai mafia di Tiongkok. Direncanakan pertemuan akan berlangsung Minggu depan.

Menpar menjelaskan, penjualan pariwisata Bali sudah ada pembahasan dan kerja samanya antara Asita dan otoritas Tiongkok. Dalam kerja sama itu,  disepakati hanya travel yang terdaftar di kedua negara yang dapat menjual pariwisata Bali.

“Masing-masing negara mengeluarkan daftar tavel agen yang resmi. Ini menurut saya paling efektif. Jadi kalau tidak masuk dalam daftar resmi dari kedua negara tidak boleh beroperasi. Kalau yang masuk dalam list membuat kenakalan, maka dia bisa dicabut izinnya. Ini akan saya ulangi lagi dalam pertemuan ke depan. Karena ini adalah kesepakatan 3 tahun lalu dengan Menpar Tiongkok,” kata Menpar di Nusa Dua Bali, Senin, 12 November 2018.

Menurut Menpar, bukan hanya Bali, namun ada destinasi lain di Indonesia yang paket wisatanya dijual sangat murah. Bahkan, peristiwa ini sudah menjadi fenomena global. Hanya saja Bali memunculkan kasus itu ke permukaan. Di Thailand dulu ada persoalan yang sama yang disebut dengan zero dolar tour dan zero fee tour.

“Di Thailand paling ramai. Ada dua istilah yang sangat terkenal. Zero dolar tour dan zero fee tour. Bukan hanya di Bali, tetapi hampir terjadi di seluruh dunia. Di Bali sekarang sudah kita atasi,” ujarnya. Menpar menegaskan permasalahan ini akan diselesaikan secara G to G sehingga tidak merugikan semua pihak.

Menpar  memilih untuk menggunakan istilah kartel dalam menjual pariwisata Bali dengan harga yang tidak ideal. Bahkan, hal ini sudah teroganisis mulai dari keberangkatan hingga membeli souvernir saat berada di Bali.

“Kalau terjadi secara massif sebenarnya tidak. Tetapi peluang itu ada. Sebenarnya apa sih yang terjadi? Kalau kita mau sebut satu kata yaitu kartel, yakni satu industri yang dikuasai oleh satu badan usaha atau seseorang. Mulai dari berangkat dari Cina, tiba di Bali, membeli di tokonya sendiri ketika di Bali, dan seterusnya,” ungkap Menpar.

Selama ini, belum terasa dampak yang  dilakukan mafia tersebut dalam menjual pariwisata Bali. Namun jika dibiarkan, dapat merugikan pariwisata Indonesia. Pasalnya wisatawan Tiongkok menjadi salah satu wisatawan terbesar yang datang ke Indonesia, Jumlahnya pun terus meningkat dari tahun ke tahun.

Seperti diberitakan selama ini, praktek penjualan pariwisata Bali secara murah akhirnya terbongkar setelah adanya protes dari beberapa stakeholder pariwisata di Bali. Protes tersebut sampai akhirnya membuat Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Arta Ardhana Sukawati melakukan sidak ke beberapa toko dan agen asal Cina yang diduga telah bekerja sama dengan orang lokal.

Dan terbukti, di beberapa toko di kawasan Benoa, tenaga kerjanya asal Cina yang diduga juga ilegal, pembayaran melakukan mata uang Cina, tamu asal Cina diajak hanya ke toko yang menjual barang asal Cina dan sebagainya. Kasus ini akhirnya membuka mata para stakeholder pariwisata Bali, dan DPRD Bali. Bahkan, anggota DPRD Bali sampai melaporkan kasus tersebut ke Polda Bali.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *