Minimnya Anggaran Jadi Penyebab Sulitnya Promosi Kuliner di Luar Negeri
Menteri Pariwisata (Menpar) Airef Yahya mengakui Indonesia belum dapat mengikuti Thailand dalam membangun restoran di negara lain, guna mempromosikan makanan nasional. Untuk membangun restoran di luar negeri membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
“Karena Thailand ada anggarannya, di kita harus diusulkan, In Average sekitar US$100 ribu membangun satu restoran . Itulah yang dilakukan Thailand,” kata Menpar usai jumpa pers Wonderful Indonesia Culinary & Shopping Festival 2018, di Balairung Soesilo Soedarman, Gedung Sapta Pesona Kementerian Pariwisata, Selasa, 17 September 2018.
Bahkan, Menpar pernah mencoba membangun restoran di luar negeri, namun tidak berkembang karena biaya yang dikeluarkan terlampau mahal.
Menurut Menpar, yang paling mudah untuk mempromosikan makanan nasional dengan Co-Branding restoran-restoran Indonesia yang sudah ada di luar negeri. “Bukan hanya restoran saja, food truck pun kita mau meng –Co Branding, kalau bahasa jelas kita mau memberikan promosi untuk mereka , itu lebih mudah. Jadi tidak masuk kuliner apa yang dijual secara spesifik, tapi bagaimana mempromosikan yang sudah ada,” ungkap Menpar.
Selain itu, menu-menu yang dihidangkan di restoran Indonesia tersebut akan dikembangkan agar promosinya semakin kuat. “Di semua itu kita adakan, kalau di budaya itu ada curator kalau kuliner ada chef-nya. Kita bentuk semacam kuratornya dan kita lihat 5 makanan nasional,”
Seperti yang dikutip Kompas.com, untuk saat ini sudah ada 10 restoran di seluruh dunia yang akan di-branding oleh Wonderful Indonesia. Beberapa restoran ada di Amerika dan Eropa. Kemenpar menargetkan 100 restoran yang di co-branding dengan Wonderful Indonesia pada tahun mendatang.
