Minyak Dunia Melejit, Purbaya Pastikan tak Naikan harga BBM Subsidi
El John News, Jakarta – Harga minyak dunia kembali menunjukkan tren kenaikan dalam beberapa pekan terakhir. Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, mengatakan pemerintah hingga saat ini belum memiliki rencana untuk menaikkan harga BBM subsidi, meskipun harga minyak internasional mengalami lonjakan akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Kenaikan harga minyak global tersebut memicu kekhawatiran di berbagai negara, termasuk Indonesia yang masih mengandalkan impor energi untuk memenuhi sebagian kebutuhan domestik. Namun pemerintah menilai kondisi fiskal negara saat ini masih cukup kuat untuk menjaga stabilitas harga bahan bakar bagi masyarakat.
“Sampai sekarang belum ada kebijakan untuk mengubah subsidi BBM, dalam pengertian menaikkan harga BBM,” kata Purbaya di Jakarta, Senin (9/3).
Menurut Purbaya, pemerintah masih memantau secara cermat perkembangan harga minyak dunia sebelum mengambil langkah lanjutan. Hingga kini, belum ada keputusan untuk menaikkan harga BBM bersubsidi yang digunakan masyarakat.
Ia menambahkan, kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) masih mampu menahan tekanan dari fluktuasi harga energi global. Selain itu, rata-rata harga minyak internasional juga masih berada di bawah asumsi harga minyak yang digunakan dalam perhitungan anggaran negara.
Pemerintah, akan terus melakukan evaluasi terhadap pergerakan harga minyak global dalam beberapa pekan ke depan untuk memastikan kebijakan energi tetap sejalan dengan kondisi ekonomi dan kemampuan fiskal negara.
Purbaya mengatakan, fluktuasi harga minyak mentah dunia saat ini masih dalam kisaran yang aman. Mengingat lagi, Indonesia Crude Price (ICP) ditetapkan dalam APBN 2026 sebesar USD 70 per barel.
“Jadi kita lihat apakah itu bagus atau jelek ke ekonomi. Tapi sekarang belum saatnya ngambil keputusan, karena ruangnya masih cukup,” tegas nya.
Pernyataan tersebut muncul di tengah lonjakan harga minyak mentah global. Data pasar energi menunjukkan harga minyak jenis Brent Crude Oil sempat menyentuh 118 dolar Amerika Serikat per barel, level tertinggi sejak pertengahan 2022.
Kenaikan harga minyak dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang memunculkan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan minyak global.
Meski demikian, pemerintah menilai situasi tersebut masih dapat diantisipasi. Pengalaman menghadapi lonjakan harga energi pada periode sebelumnya menjadi bekal bagi pemerintah dalam menentukan langkah kebijakan yang tepat.
Purbaya menambahkan, pemerintah akan terus memantau perkembangan harga minyak dunia dalam sekitar satu bulan ke depan sebelum menentukan kebijakan lanjutan terkait energi di dalam negeri.
