Pembangunan Politeknik dan Akademi Komunitas Kawasan Industri Jadi Magnet Bagi Para Investor

0
Pembangunan Politeknik dan Akademi Komunitas Kawasan Industri Jadi Magnet Bagi Para Investor

Koordinator Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) Kementerian Perindustrian Mujiyono mengatakan, pembangunan politeknik dan akademi komunitas di kawasan industri, selain dapat memasok kebutuhan tenaga kerja yang kompeten, juga dinilai menjadi magnet bagi para investor untuk menanamkan modalnya di kawasan industri.

“Guna mendorong peningkatan investasi dan memberdayakan masyarakat di sekitar kawasan industri atau Wilayah Pusat Pertumbuhan Industri (WPPI), Kemenperin memfasilitasi pembangunan politeknik dan akademi komunitas,” kata Mujiyono.

Kemenperin mencatat, investasi di sektor industri manufaktur pada tahun 2014 sebesar Rp195,74 triliun, naik menjadi Rp226,18 triliun di tahun 2018. Serapan tenaga kerja di sektor industri juga ikut meningkat, yakni dari 15,54 juta orang pada tahun 2015 menjadi 18 juta orang di tahun 2018 atau naik 17,4 persen.

Mujiyono menyebutkan, saat ini Kemenperin telah memiliki 10 politeknik dan 2 akademi komunitas. “Selama empat tahun ini, kami telah membangun Akademi Komunitas Tekstil di Solo, Politeknik Industri Logam di kawasan industri Morowali, Akademi Komunitas Industri Manufaktur di Bantaeng, dan Politeknik Industri Furnitur dan Pengolahan Kayu di Kawasan Industri Kendal,” ungkapnya.

Tahun ini, Kemenperin sedang memfasilitasi pembangunan Politeknik Industri Petrokimia di Cilegon, Banten dan Politeknik Industri Agro di Lampung. “Pembangunan politeknik dan akademi komunitas ini sejalan dengan upaya pemerintah untuk memacu pertumbuhan dan daya saing industri nasional. Dengan menyiapkan tenaga kerja kompeten, industri akan lebih produktif dan inovatif,” imbuhnya.

Untuk itu, penyelenggaraan pendidikan di politeknik dan akademi komunitas baik itu melalui kurikulum maupun fasilitas praktikum, tidak saja disiapkan untuk menghasilkan SDM yang sesuai kebutuhan industri saat ini, tetapi juga mengantisipasi kompetensi SDM yang diperlukan ke depan khususnya menghadapi penerapan industri 4.0 di Indonesia.

“Berdasarkan peta jalan Making Indonesia 4.0, salah satu program prioritasnya adalah peningkatan kualitas SDM. Apalagi, Indonesia sedang menikmati masa bonus demografi hingga tahun 2030 nanti. Ini menjadi peluang bagi kita untuk semakin maju dan sejahtera,” tutur Mujiyono.

Oleh karenanya, Indonesia perlu merombak kurikulum pendidikan dengan lebih menekankan pada bidang Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematics (STEAM). “Contohnya, peluang dan kebutuhan SDM di bidang logistik, yang saat ini masih sangat besar. Ini tentunya perlu didukung oleh ketersediaan SDM yang menguasai pengetahuan dan keterampilan sesuai kebutuhan,” tegasnya.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengungkapkan, dalam menyiapkan SDM kompeten di bidang industri, Kemenperin siap menggelontorkan anggaran sebesar Rp1,78 triliun untuk program pendidikan vokasi industri pada tahun 2019. Program ini menjadi salah satu andalan pemerintah untuk menyiapkan angkatan kerja di Tanah Air yang dapat menerapkan industri 4.0.

“Program itu sangat penting, karena tahun ini merupakan tahun pertama di Kemenperin punya Badan Pengembangan SDM Industri. Sebab, pengembangan SDM akan menjadi tumpuan dalam pembangunan dan perekonomian Indonesia,” tuturnya.

Melalui program-program strategis tersebut, Kemenperin optimistis memasang target pertumbuhan industri nonmigas sebesar 5,4 persen pada tahun 2019. Adapun sektor-sektor yang diproyeksikan tumbuh tinggi, diantaranya industri makanan dan minuman (9,86%), permesinan (7%), tekstil dan pakaian jadi (5,61%), serta kulit barang dari kulit dan alas kaki (5,40%).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *