BusinessDestinationTransportation

Pembayaran Ganti Rugi Lahan Runway 3 Bandara Soetta Terus Dikebut

Ratusan warga dari Desa Rawa Burung dan Rawa Renget, Kecamatan Kosambi, Kabupaten Tangerang,menerima ganti rugi lahan untuk perluasan landasan pacu atau runway 3 di gedung AME Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Kamis (26/4).

Warga tersebut merupakan masyarakat yang pemukimannya terdampak proyek pembangunan landasan pacu pesawat atau runway 3 Bandara Soekarno-Hatta yang sempat terkatung katung, karena sebelumnya sempat ada penolakan dari sebagian warga yang menolak lahannya untuk dibebaskan.

“Kita menargetkan,paling cepat sebelum Idul Fitri dan paling lambat bulan September 2018 ini, semua lahan yang terdampak untuk pembangunan runway 3 sudah selesai semuanya dibebaskan,” terang Bambang Sunarso, ketua tim pembebasan tanah dari PT Angkasa Pura II.

Menurut Bambang, saat ini PT Angkasa Pura II telah mengakuisisi lahan warga kurang lebih 33 persen dari total yang dibutuhkan.Dari kebutuhan lahan tersebut, yang terbesar ada di dua desa, yaitu Desa Rawa Burung, Desa Rawa Rengas.

Ia menambahkan, luas tanah yang dibutuhkan untuk pembangunan runway 3 Bandara Soetta seluas 216 hektare. Dengan rincian, 42,8 hektare tanah yang merupakan aset AP II dan lahan yang akan dibebaskan kurang lebih 173,19 hektar yang terleletak di Kabupaten Tangerang dan Kota Tangerang

Berdasarkan pengamatan, pembayaran ganti rugi lahan untuk landasan pacu berjalan lancar.Sejak pagi ratusan warga dengan membawa sanak keluarga dan semua ahli waris mendatangi gedung AME Bandara Soetta untuk menerima uamg ganti rugi yang langsung dikirimkan ke rekeining masing amsing.

“Katanya semua hali waris harus ikut,makanya kami semua datang kesini,” ujar Ujang, seorang warga Desa Rawa Renged yang mengaku kediamanya seluas 300 meter terkena pembebasan lahan dengan harga Rp 1,2 juta per meter.

Sebelum dilakukan pembayaran ganti rugi, kepala BPN Kabupaten Tangerang,Himsar menjelaskan kepada warga, bahwa semua nilai ganti rugi yang masuk ke masing masing rekening adalah seutuhnya milik warga dan tidak dikenakan pajak,termasuk tidak ada komisi ataupun punguta lain dari pihak luar.

“Jadi jika nanti setelah uangnya masuk ke rekening warga, dan ada pihak lain yang meminta dengan dalih apapun agar segera dilaporkan kepada tim saber pungi,” ujar Himsar.

Himsar menegaskan, ganti rugi lahan yang diterima oleh warga tidak dikenakan pajak dan bersih dari pugutan apapun,sehingga tidak ada alasan pihak pihak yang mencoba untuk memanfaatkan situasi.” Sekali lag saya tegaskan, tidak ada pungutan apapun dari warga yang menerima ganti rugi,Semua yang masuk ke rekening itu adalah seutuhnya milik bapak dan ibu,” tegas Himsar.

Kepada INDOPOS Himsar menjelaskan, dari tiga desa yang ada di Kabupaten Tangerang yang terkena dampak pembangunan Runway 3,yaitu Desa Rawa Buru,Rawa Renged dan Desa Bojong Renget,baru satu desa yang sudah tuntas pembayarannya,yaitu Desa Bojong Renget,sebanyak 56 bidang seluas 9,1 hektare dengan nilai ganti rugi sebesar Rp 95 miliar.

Sementara Desa Rawa Burung,lahan yang sudah berhasil dibebaskan sebanyak 596 bidang seluas 25,2 hektare dengan nilai ganti rugi 468 miliar, dan Desa Rawa Renged sebanyak 612 bidang seluas 22,6 hektare dengan nilai ganti rugi sebesar Rp 584 miliar.“Jadi total ganti nilai rugi yang sudah dibayarkan mencapai 1.147 triliun,” cetusnya.

Terpisah,Kepala Desa Rawa Burung, Rukyat Idris yang dikonfirmasi, menyambut gembira adanya pembayaran ganti rugi lahan oleh Angkasa Pura II dan BPN.Namun demikian, pihaknya berharap agar pembayaran ganti rugi dapat lebih dipercepat lagi, mengigat warga kini sudah banyak yang terlilit hutang dan ingin segera pindah.

”Kami akui BPN sangat teliti dalam melakukan verifikasi dan validasi kepemilikan lahan.Namun, BPN jangan mudah menerima klaim dari pihak pihak yang mencoba menghalang halangi pembayaran ganti rugi,” kata Rukyat.

Ia mengaku kerap mendapat laporan dari warga,ketika ada lahan yang sudah jelas jelas kepemilkannya, namun belakangan ada klaim sepihak dari saudara tirinya kepada BPN untuk tidak dibayar,hal tersebutlangsung direspon oleh BPN.

Padahal,tanah yang diklaim oleh saudara tirinya itu bukan berasal dari tanah warisan atau hibah dari orangtuanya,melainkan tanah yang dibeli langsung oleh warga yang berasal dari Desa Rawa Bokor di Desa Rawa Burung.’Padahal secara hukum positif,saudara tiri itu tidak punya hak waris,” cetus Rukyat.

Selain itu,banyak warga yang mengeluhkan tidak dapat mencairkan langsung uangnya di bank yang sudah ditunjuk oleh PT Angkasa Pura dengan dalih uang kas sedang kosong.

”Katanya bank yang ditunjuk untuk pembayaran ganti rugi sudah online. Namun buktinya, warga tidak bisa mencairkan uangnya di bank cabang lain, dan mereka diharuskan mencairkan di bank yang ada di Bandara,tetapi ketika dicairkan di bank Bandara, mereka mengaku sedang mengalami kekosongan uang kas,” ungkap Rukyat.

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close