Pemerintah NTB Berlakukan SOP Baru Pendakian Gunung Rinjani Mulai 11 Agustus 2025

0
rinjani-4009058755

Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) bersama Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) akan memberlakukan Standar Operasional Prosedur (SOP) terbaru untuk aktivitas pendakian Gunung Rinjani, salah satu destinasi wisata alam unggulan di Indonesia. SOP baru ini dijadwalkan mulai efektif diterapkan pada 11 Agustus 2025, dengan tujuan utama meningkatkan keselamatan pendaki dan meminimalisir risiko kecelakaan di jalur pendakian gunung yang memiliki ketinggian 3.726 meter di atas permukaan laut tersebut.

Kepala Dinas Pariwisata NTB, Ahmad Nur Aulia, menyatakan bahwa penyusunan SOP akan dilakukan dalam rentang waktu 1 hingga 10 Agustus 2025. Penyusunan dilakukan dengan pendekatan kolaboratif antara pemerintah provinsi dan pihak TNGR, termasuk melakukan verifikasi dan validasi terhadap seluruh poin yang akan dituangkan dalam dokumen tersebut.

“Kami terus berkoordinasi dengan Balai TNGR untuk memastikan SOP ini tidak hanya administratif, tetapi benar-benar berfungsi sebagai alat mitigasi di lapangan. Kami optimistis semuanya rampung tepat waktu,” ujar Aulia dalam keterangannya di Kantor Gubernur NTB, Mataram, pada Selasa (29/7/2025).

SOP baru ini akan langsung diberlakukan setelah masa pemeliharaan (maintenance) jalur pendakian selesai. Masa pemeliharaan sendiri digunakan sebagai momentum untuk menata kembali jalur pendakian yang rusak atau membahayakan.

Tak hanya memperbarui SOP, Dinas Pariwisata NTB juga tengah menggencarkan peningkatan kompetensi bagi para porter dan pemandu wisata (guide) yang bekerja di kawasan Gunung Rinjani. Program peningkatan keterampilan ini, yang merupakan hasil koordinasi dengan Kementerian Pariwisata, dijadwalkan berlangsung pada masa libur pendakian guna menghindari benturan dengan musim ramai (high season).

“Selama musim ramai, pemandu dan porter sibuk membawa tamu. Jadi pelatihan kita jadwalkan saat libur agar efektif,” ujar Aulia. Dari total 661 pemandu dan porter yang terdata di Gunung Rinjani, sekitar 371 di antaranya belum memiliki sertifikasi keahlian. Sebanyak 50 orang telah mengikuti pelatihan, sementara 321 sisanya akan dilatih dalam periode 1–10 Agustus mendatang.

Sementara itu, Balai TNGR juga aktif melakukan perbaikan fisik pada jalur pendakian guna menunjang implementasi SOP baru tersebut. Kepala Balai TNGR, Yarman, menjelaskan bahwa perbaikan dilakukan di titik-titik rawan, terutama jalur dari Pelawangan Sembalun menuju Danau Segara Anak, yang dikenal menantang dan berisiko tinggi.

“Perbaikan ini mencakup pemasangan tangga dari batu, tali pengaman, serta besi-besi penunjang agar jalur lebih aman. Pekerjaan ini melibatkan tim gabungan dari TNI, relawan, serta porter lokal,” kata Yarman.

Langkah-langkah ini diambil sebagai komitmen bersama untuk menjaga keselamatan pendaki serta memastikan aktivitas wisata alam di Rinjani tetap berkelanjutan.

“Setiap pijakan pendaki adalah tanggung jawab kita bersama. Ini upaya kami untuk memastikan para pendaki kembali dengan selamat,” tutup Yarman.

Sebelumnya, TNGR juga telah melakukan perbaikan serupa di jalur Torean dan jalur Senaru. Semua upaya ini menegaskan bahwa keselamatan pendaki kini menjadi prioritas utama dalam pengelolaan kawasan konservasi sekaligus destinasi wisata andalan ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *