CultureDestinationHeadline NewsTourism

Pemilik Tempat Wisata Diminta Waspadai Pelaku Paedofil

Kawasan wisata ternyata menjadi tempat aman bagi para pelaku paedofilia atau kekerasan seksual terhadap anak. Pelaku memilih tempat wisata karena aksi jahatnya diyakini tidak akan ketahuan. Dengan pura-pura menjadi wisatawan, para pelaku dengan  leluasa melancarkan aksinya tersebut.

Kondisi itulah yang kini sedang diperhatikan  End Prostitution, Child Pornography and Trafficking of Children For Sexual Purposes (ECPAT). Koordinator ECPAT Ahmad Sofyan menghimbau para pemilik tempat wisata untuk dapat mengawasi tempat usaha agar tidak dikunjungi oleh pelaku-pelaku paedofilia. Menurut Ahmad kebanyakan mereka berbaur dengan warga sekitar sebagai wisatawan, dan mendapatkan sambutan baik karena dianggap tamu dan mendatangkan rejeki.

“Dengan memanfaatkan situasi tersebut mereka (pelaku paedofilia) mendekati anak dan melakukan eksploitasi,” katanya ditemui di sela Pelatihan Pencegahan kekerasan dan eksploitasi terhadap anak di wilayah destinasi wisata, di Pantai Kukup, Gunungkidul, Yogyakarta, Rabu 13 September 2017.

Ahmad mengapresiasi sikap yang diambil pemerintah Indonesia untuk mencegah terjadinya kasus-kasus paedofilia. Sikap tegas yang dilakukan pemerintah yakni menolak keras 300 visa wisatawan karena dari negaranya diindikasikan sebagai paedofilia.

“Pemerintah yang memiliki catatan bagus mengenai kasus paedofilia memberitahukan kepada pemerintah indonesia, dan imigrasi menolak sebanyak 300 orang masuk. Itu yang diketahui, tetapi jika menggunakan teori gunung es bisa 30 kali lipat dari jumlah itu,” tuturnya.

Menurut Ahmad, paedofilia yang merupakan gangguan seksual berupa nafsu seksual terhadap remaja atau anak-anak di bawah usia 14 tahun, masih kurang dipahami masyarakat. Sebab, selama ini pelaku tidak hanya melakukan hubungan seks ke anak, tetapi juga melakukan hal lain seperti membelai, hingga memfoto untuk disebar ke komunitasnya.

Yang perlu dikhawatirkan sebut dia,  ialah para predator juga mencuci otak anak-anak untuk menyimpang. Ahmad mengatakan, ketidaktahuan ini karena sebagian besar mereka melakukan pada sesama jenis, hanya 10 persen yang melakukan dengan anak perempuan.

“Dari laporan aktivis dan berbagai sumber kasus paedofil di Indonesia terus meningkat, tahun 1998 sekitar 40.000, meningkat menjadi 80.000 di tahun 2015,” tuturnya.

Dari data yang dihimput ECPAT, kota yang  paling banyak terjadi kasus paedofilia yakni di Bali, lombok, Yogyakarta, Semarang, Medan, Batam, Jakarta dan Bandung. “Indonesia timur mungkin ada, tetapi belum ada yang melaporkan,” ucapnya.

Dia mengatakan, untuk meminimalisasi kasus paedofilia, pengawasan terhadap anak harus lebih ditingkatkan.

Sementara itu lanjut dia, para pelaku wisata juga harus memahami mengenai hal itu. Seperti pemilik hotel wajib menolak tamu yang membawa anak namun tidak memiliki hubungan kekeluargaan.

“Di hukum kita anak di bawah 13 tahun keterangannya belum bisa dijadikan alat bukti, seharus tidak bisa disamakan dengan kasus kekerasan pada orang dewasa,” katanya.

Dia mengingatkan, jangan sampai kasus paedofilia merusak destinasi wisata, apalagi menyediakan protitusi anak. “Kami melaksanakan pelatihan agar pemangku kebijakan dan pelaku wisata mengetahui bagaimana mencari wisatawan yang bertanggung jawab dan tidak merusak anak,” ujarnya.

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button