Pemprov DKI Perkuat Kampung Siaga untuk Tekan Penyebaran TBC di Jakarta

0
siaranpers_pemprov_dki-20251113160253_xt4474_832

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menegaskan komitmennya untuk memperkuat langkah-langkah pencegahan dan penanggulangan Tuberkulosis (TBC) di ibu kota melalui optimalisasi peran Kampung Siaga TBC. Pernyataan tersebut disampaikan saat menerima audiensi Wakil Menteri Kesehatan RI, Benjamin Paulus Octavianus, beserta jajaran di Balai Kota Jakarta, Kamis (13/11/2025).

Pertemuan tersebut menjadi wujud koordinasi erat antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam upaya mengendalikan penyebaran TBC yang masih menjadi tantangan kesehatan nasional, khususnya di wilayah perkotaan padat penduduk seperti Jakarta.

Dalam kesempatan itu, Gubernur Pramono menyampaikan bahwa Pemprov DKI Jakarta terus memperluas pelaksanaan Gerakan TOSS (Temukan, Obati, Sampai Sembuh). Program ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat agar mau melakukan pemeriksaan dini, berobat hingga tuntas, dan mencegah penularan di lingkungan keluarga.

“Kami sangat bersyukur memiliki dukungan langsung dari Pak Wamenkes, yang memang memiliki kepedulian tinggi terhadap penanganan TBC. Program TOSS yang sebelumnya kita luncurkan di Bundaran HI juga merupakan salah satu gagasan beliau,” ujar Pramono.

Ia menambahkan bahwa Wamenkes telah turun langsung ke lapangan bersama Kepala Dinas Kesehatan DKI untuk meninjau kondisi riil penanganan TBC di berbagai wilayah Jakarta.

Lebih lanjut, Gubernur Pramono menjelaskan bahwa Pemprov DKI Jakarta terus memperkuat Kampung Siaga TBC sebagai bentuk inovasi berbasis komunitas dalam menekan penyebaran penyakit tersebut. Program ini melibatkan warga di tingkat RW untuk melakukan edukasi, pendampingan pasien, dan kampanye hidup sehat.

“Kami menargetkan pada tahun 2030, seluruh RW di Jakarta sudah menjadi Kampung Siaga TBC yang aktif dan berkomitmen menuntaskan TBC. Saat ini sudah terbentuk 563 Kampung Siaga TBC di seluruh wilayah Jakarta,” jelasnya.

Selain penguatan berbasis komunitas, Pemprov DKI juga memperluas layanan penanganan TBC di 832 fasilitas kesehatan, termasuk 330 puskesmas, 118 rumah sakit swasta, 53 rumah sakit pemerintah, 265 klinik swasta, 46 klinik pemerintah, serta 20 praktik dokter mandiri.

Gubernur Pramono menegaskan bahwa upaya pencegahan TBC tidak hanya menjadi tanggung jawab sektor kesehatan, melainkan juga melibatkan dunia pendidikan, komunitas warga, dan pengelola rumah susun.

“Sekolah turut berperan mengedukasi siswa dan guru tentang bahaya TBC. Begitu juga dengan pengelola rumah susun dan komunitas warga yang membantu memperluas jangkauan pemeriksaan di permukiman padat,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa berbagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD) juga aktif bekerja sama dengan puskesmas untuk melakukan skrining rutin, menyediakan ruang isolasi sementara, dan menjalankan kampanye keluarga sadar TBC. Gerakan ini turut melibatkan kader PKK dan dasawisma dalam mendeteksi gejala TBC di tingkat rumah tangga.

“Kami ingin warga Jakarta berperan aktif. Semua harus bergerak bersama agar kota ini bebas TBC dan masyarakatnya hidup lebih sehat,” tegas Pramono.

Sementara itu, Wamenkes RI Benjamin Paulus Octavianus menuturkan bahwa pemberantasan TBC menjadi salah satu prioritas utama Presiden RI. Ia menyebut bahwa Kementerian Kesehatan tengah menyiapkan revisi Peraturan Presiden Nomor 67 Tahun 2021 agar koordinasi lintas sektor semakin kuat.

“Dalam revisi Perpres ini, kementerian dan lembaga yang terlibat akan bertambah dari 15 menjadi 35, termasuk TNI dan Polri. Karena pemberantasan TBC tidak cukup hanya mengobati, tapi juga memperbaiki faktor gizi, daya tahan tubuh, dan lingkungan,” ujarnya.

Benjamin menegaskan, langkah yang diambil bersama Gubernur DKI bukan hanya sebatas penyediaan obat dan alat diagnostik, tetapi juga menyentuh aspek sosial dan ekonomi penyebab TBC.

“Kita ingin penanganan yang komprehensif. Karena orang bisa sakit TBC bukan hanya karena tertular, tapi juga karena daya tahan tubuh yang lemah akibat gizi buruk dan kondisi lingkungan,” tambahnya.

Berdasarkan data Pemprov DKI Jakarta per 10 November 2025, sebanyak 323.796 warga telah menjalani pemeriksaan karena bergejala TBC. Dari jumlah tersebut, ditemukan 49.152 kasus positif, terdiri dari 48.278 kasus TBC sensitif obat dan 874 kasus TBC resistan obat (sekitar 2 persen).

Dari total kasus yang ditemukan, 90 persen atau 44.456 orang telah menjalani pengobatan. Tingkat keberhasilan pengobatan TBC sensitif obat pada 2024 mencapai 76 persen, sementara untuk kasus TBC resistan obat pada 2023 tercatat sebesar 63 persen.

Meski demikian, masih terdapat sekitar 11–13 persen pasien yang belum menuntaskan pengobatan. Kondisi ini menjadi perhatian serius bagi Pemprov DKI untuk memperkuat sistem pendampingan pasien agar tidak putus berobat.

“Kami terus memastikan agar semua pasien mendapatkan pengawasan dan dukungan hingga benar-benar sembuh. TBC bukan sekadar penyakit, tapi persoalan sosial yang membutuhkan solidaritas seluruh warga,” tutup Gubernur Pramono.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *