Pemulihan Telekomunikasi Aceh Dikebut: 1.789 BTS Sudah Kembali Aktif

0
dXBsb2Fkcy8yMDI1LzEyLzA1LzAyODk3NWMwLWI5MjktNDVmOS1iMzI3LTVhNmNkYTA3MGI3NS5wbmc=

Upaya pemulihan layanan telekomunikasi di Aceh dan sejumlah wilayah Sumatra terus dikebut pemerintah setelah banjir merusak infrastruktur jaringan serta memutus akses listrik dan jalan. Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) bersama seluruh operator seluler nasional terus melakukan langkah percepatan untuk memastikan masyarakat kembali mendapatkan akses komunikasi yang stabil.

Aceh menjadi daerah dengan gangguan layanan terbesar akibat luasnya wilayah terdampak dan kerusakan jaringan yang ditimbulkan. Karena itu, pemulihan jaringan di provinsi tersebut menjadi fokus utama pemerintah dalam masa tanggap darurat ini.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, yang turun langsung meninjau progres pemulihan di Balai Monitor Spektrum Frekuensi Radio Kelas II Banda Aceh, menegaskan bahwa pemerintah memprioritaskan percepatan aktivasi BTS agar komunikasi masyarakat dapat pulih.

“Kita bergotong royong memulihkan seluruh layanan, dan berharap masyarakat tetap saling menguatkan dalam situasi yang berat ini,” ujar Wamen Nezar.

Berdasarkan data per 5 Desember 2025, dari total 3.414 Base Transceiver Station (BTS) di Aceh, 1.789 BTS atau 52,4 persen telah kembali aktif. Namun angka tersebut masih terus berubah seiring meningkatnya pasokan listrik di sejumlah daerah.

Menurut Wamen Nezar, apabila pemulihan listrik berlangsung lancar, aktivitas BTS dapat meningkat hingga 75 persen dalam waktu dekat. “Mudah-mudahan pekan ini bisa kembali seperti normal, karena kendala utama yang kami temui masih terkait energi listrik,” jelasnya.

Di lapangan, Kemkomdigi dan operator seluler melakukan pemantauan rutin guna memastikan perbaikan berjalan cepat dan terukur. Setiap perkembangan disampaikan secara berkala. “Laporannya setiap hari, bahkan jam per jam, untuk memastikan tidak ada hambatan yang luput dari perhatian,” tambahnya.

Untuk menjangkau daerah yang masih terisolasi jaringan telekomunikasi, Kemkomdigi mengerahkan perangkat komunikasi berbasis satelit menggunakan Starlink. Perangkat tersebut dipasangkan dengan genset agar dapat beroperasi tanpa bergantung pada pasokan listrik setempat.

Teknologi komunikasi darurat ini menjadi penyangga utama (buffer system) di lokasi terdampak, memungkinkan layanan penting—seperti evakuasi, penyaluran logistik, layanan kesehatan, dan pelaporan data korban—tetap berjalan secara real-time dan terkoneksi.

Seluruh layanan komunikasi berbasis satelit tersebut diberikan secara gratis dan hanya digunakan untuk kebutuhan kemanusiaan.

Selain itu, koordinasi dengan PLN terus dilakukan agar perbaikan listrik berjalan paralel dengan perbaikan jaringan BTS. “PLN menyampaikan bahwa pada hari Jumat listrik diharapkan sudah pulih. Ini akan mempercepat proses pemulihan telekomunikasi di Aceh,” ujar Nezar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *