Penghargaan Pariwisata Disebut Pencitraan, Ini Jawaban Menpar

0
WhatsApp Image 2026-01-22 at 10.03.02 AM

Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana memaparkan capaian sektor pariwisata Indonesia sepanjang 2025 dan rencana kerja Kementerian Pariwisata 2026 dalam rapat kerja bersama Komisi VII DPR RI di Gedung DPR RI, Jakarta, pada 21 Januari 2026 (Foto: Birkom Kemenpar)

El John News, Jakarta-Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana memberikan klarifikasi atas kritik Ketua Komisi VII DPR RI, Saleh Daulay, yang menilai penghargaan di sektor pariwisata hanya bersifat pencitraan jika tidak disertai dampak nyata bagi masyarakat.

Melalui akun resmi instagramnya yang diposting pada Senin (26/1/2026), Widiyanti menegaskan bahwa penghargaan pariwisata justru merupakan bentuk pengakuan global yang memiliki nilai strategis dan ekonomi yang konkret.

Menurut Widiyanti, penghargaan yang diterima sektor pariwisata Indonesia bukan bersifat berbayar, melainkan diberikan oleh institusi internasional yang kredibel, bergengsi, dan memiliki standar penilaian tinggi. Proses penilaiannya pun dilakukan secara independen dengan parameter yang jelas serta dapat dipertanggungjawabkan.

“Sebagian penghargaan tersebut juga berbasis pada pengalaman dan ulasan pelaku usaha internasional yang telah berkunjung ke Indonesia. Ini mencerminkan persepsi nyata terhadap kualitas destinasi, produk, dan layanan pariwisata nasional”

Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana

Ia menambahkan, penghargaan tersebut pada dasarnya merupakan apresiasi atas kerja keras seluruh pelaku pariwisata, mulai dari pengelola destinasi, hotel, restoran, hingga pelaku usaha pariwisata lainnya. Saat ini, sektor pariwisata tercatat menyerap sekitar 25,9 juta tenaga kerja, sehingga setiap pengakuan internasional memiliki dampak ekonomi dan sosial yang luas.

Dari sisi strategis, Widiyanti menilai penghargaan berperan penting dalam membangun citra positif Indonesia di mata dunia, yang pada akhirnya meningkatkan minat dan konversi kunjungan wisatawan mancanegara. Hal tersebut merupakan bagian dari upaya nation branding Indonesia di tingkat global.

Sebagai contoh, Resort Desa Paterohad di Bali yang meraih Best Eco Hotel Award dari The World’s 50 Best, dinilai menjadi bukti pengakuan dunia terhadap praktik pariwisata berkelanjutan di Indonesia. Selain itu, Desa Wisata Nglanggeran di Yogyakarta yang dinobatkan sebagai Best Tourism Village oleh UN Tourism pada 2021 menunjukkan dampak nyata bagi masyarakat desa.

Widiyanti menyebutkan, pada 2022 desa wisata tersebut mencatatkan peningkatan kunjungan wisatawan sebesar 49,62 persen dibandingkan tahun sebelumnya, sementara pendapatan desa pada 2024 meningkat hingga 196 persen dibandingkan 2023.

“Ini menunjukkan bahwa penghargaan bukan sekadar simbol, tetapi modal reputasi, bahan evaluasi, sekaligus pemacu peningkatan kualitas pariwisata nasional yang berdampak langsung bagi masyarakat,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *