Peringati Hari Sumpah Pemuda, Untar Gelar Tari Nusantara Libatkan 100 Mahasiwa

0
WhatsApp Image 2023-10-30 at 18.56.30

Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara (Untar) mempersembahkan Pagelaran Tari Nusantara yang melibatkan 100 lebih mahasiswa Fakultas Psikologi di halaman Kampus I Universitas Tarumanagara, Jalan Letjen S Parman, Jakarta Barat, Senin (30/10/2023).

Kegiatan budaya ini, digelar dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober dengan mengusung tema “Bersama Majukan Indonesia”

Kegiatan tersebut dihadiri Rektor Untar Prof. Dr. Ir. Agustinus Purna Irawan, M.T., M.M., I.P.U., A.E; Wakil Rektor I Dr. Rasji, S.H., M.H; jajaran dekan dan ratusan mahasiswa.

Ada lima tarian daerah yang ditampilkan yakni Tarian Pelasraya (Kalimantan),  Tarian Kretek (Jawa Tengah), Tari Piring (Minangkabau, Sumatra Barat), Tari Kembang Kipas (Jakarta) dan Tari Saman (Aceh).

Untuk Tari Saman, Fakultas Psikologi mengerahkan lebih dari 100 mahasiswa-nya. Penampilan mereka tidak kalah dengan penari profesional, gerakan tariannya terlihat rapi dan kompak. Alhasil penampilan para mahasiswi ini mendapat sambutan meriah dari penonton.

Tari Saman memiliki akar yang dalam dalam budaya Aceh. Tarian ini diperkirakan berasal dari abad ke-17, dan telah menjadi bagian integral dalam upacara adat dan perayaan di Aceh. Sejarah Tari Saman terkait dengan penyebaran agama Islam di wilayah Aceh, dengan gerakan dan pantun dalam tarian ini seringkali berisi pesan-pesan moral dan religius.

Tari Saman awalnya dikenal sebagai “Tari Seribu Tangan” karena melibatkan gerakan tangan yang cepat dan rumit. Para penari duduk dalam formasi melingkar atau berbaris sambil bergerak, menciptakan tampilan yang menakjubkan.

Peringatan Hari Sumpah Pemuda di Untar, tidak hanya diisi oleh Pagelaran Tari Nusantara, namun pihak Universitas juga menggelar upacara  Peringatan Hari Sumpah Pemuda di Auditorium lt.8 Gedung. M Kampus I Untar.

Upacara yang dipimpin langsung Rektor Untar ini,  juga mengangkat budaya daerah melalui pakaian adat.  Pakaian adat ini dikenakan oleh sejumlah mahasiswa yang menjadi petugas upacara termasuk rektor Untar.

Prof. Agustinus mengatakan budaya daerah yang ditampilkan pada Peringatan Sumpah Pemuda ini merupakan salah satu bentuk komitmen Untar dalam melestarikan budaya yang dikemas melalui kegiatan kampus maupun kemahasiswaan, seperti selalu mengangkat salah satu budaya dalam setiap kegiatan wisuda dan Lomba Karawitan tingkat nasional untuk pelajar  yang beberapa waktu lalu digelar.

Menurut Prof Agustinus, komitmen UNTAR dalam melestarikan budaya melalui kegiatan kampus ini mencerminkan pentingnya kesadaran akan keberagaman budaya sehingga dapat  memperkaya pengalaman pendidikan mahasiswa.

“Nanti pada saat mereka jadi pemimpin mereka tidak melupakan budaya nasional kita, termasuk juga bagaimana mereka bisa bersikap bertoleransi ya kemudian tepo seliro. Saya kira itu sesuatu yang nilai-nilai itu budaya asli Indonesia yang kemudian harus terus digunakan,” kata Prof Agustinus.

Menurut Prof Agustinus, Lembaga Pendidikan harus dapat menyelaraskan proses pembelajaran secara akademik dengan kegiatan berbasis budaya. Perpaduan ini dinilai penting untuk menanamkan rasa cinta terhadap budaya daerah sehingga ada tekad untuk melestarikannya.

“Seharusnya semua perguruan tinggi semua lembaga pendidikan mengkombinasikan proses pembelajarannya dengan kegiatan-kegiatan yang bersifat budaya.  Karena kalau kita hanya pengetahuan saja tanpa budaya, tanpa apa menyentuh ke Nurani ke hati, itu nggak lengkap, g tidak seimbang. Oleh karena itu pembahasan kesehatan jasmani, kesehatan rohani pintar secara intelektual, tapi juga pintar secara hati, Nah saya kira ini semua bisa diperoleh dari budaya,” ujar Prof Agustinus.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *