Polda Metro Jaya Bergerak Cepat Tangani Dampak Ledakan SMAN 72, Utamakan Trauma Healing dan Penyelidikan

0
14df4894-5056-4efc-9521-dccf7be1f65a_526784

Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta Raya (Polda Metro Jaya) bergerak cepat dalam menanggapi peristiwa ledakan yang terjadi di SMAN 72 Jakarta Utara. Sejak Jumat malam (7/11/2025), berbagai langkah penanganan dilakukan secara simultan, mulai dari proses penyelidikan penyebab ledakan hingga pendampingan psikologis (trauma healing) bagi para korban, keluarga, dan guru.

Upaya ini menunjukkan komitmen Polri untuk hadir secara menyeluruh — tidak hanya menegakkan hukum, tetapi juga memberikan perhatian terhadap pemulihan mental dan emosional masyarakat yang terdampak.

Tak lama setelah kejadian, Tim Psikologi Biro SDM Polda Metro Jaya langsung diterjunkan ke lapangan. Pada Jumat malam (7/11/2025), tim mendatangi Rumah Sakit Islam Jakarta Cempaka Putih, tempat beberapa korban mendapatkan perawatan medis.

Kegiatan pendampingan dipimpin oleh AKBP Ida Bagus Gede Adi Putra Yadnya, M.Psi., Psikolog, dan berjalan penuh empati. Tim memberikan ruang aman bagi korban dan keluarga untuk mengekspresikan perasaan mereka, sekaligus memberikan konseling ringan agar tidak larut dalam trauma mendalam.

Beberapa guru dan keluarga korban terlihat mulai tenang setelah mengikuti sesi konseling. Menurut keterangan tim psikologi, fase awal trauma healing ini penting untuk mencegah gejala stres berat pascakejadian.

Pada Sabtu pagi (8/11/2025), kegiatan pendampingan dilanjutkan dan diperluas ke tiga titik, yakni RS Islam Cempaka Putih, RS YARSI, dan SMAN 72 Jakarta Utara. Pendekatan yang digunakan mengacu pada metode Psychological First Aid (PFA) atau Bantuan Awal Psikologis, yang berfokus pada pemulihan emosi, pemulihan rasa aman, dan pengelolaan stres.

“Pendampingan ini kami lakukan agar keluarga korban, guru, dan siswa bisa mengelola rasa takut serta stres akibat kejadian yang mengejutkan ini. Kami ingin memastikan mereka mendapat dukungan emosional yang mereka butuhkan,” ujar AKBP Ida Bagus Gede Adi Putra Yadnya, M.Psi., Psikolog.

Trauma healing di rumah sakit diprioritaskan bagi korban dan keluarganya, sementara di sekolah, konseling difokuskan kepada kepala sekolah dan para guru yang mengalami guncangan emosional akibat insiden tersebut.

Selain fokus pada pemulihan psikologis, Polda Metro Jaya juga terus melakukan penyelidikan intensif untuk mengungkap penyebab pasti ledakan di SMAN 72. Tim gabungan dari berbagai satuan, termasuk Labfor dan Inafis, telah diterjunkan untuk melakukan pemeriksaan mendetail terhadap barang bukti yang ditemukan di lokasi.

“Hari ini kegiatan trauma healing tetap kami lanjutkan agar para korban bisa segera pulih. Sementara itu, proses penyelidikan juga terus dilakukan secara intensif oleh tim gabungan,” ungkap Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol. Budi Hermanto, S.I.K.

Budi Hermanto menegaskan bahwa seluruh proses penanganan dilakukan secara profesional dan terukur, mencakup olah TKP, penanganan medis, serta pendampingan psikologis bagi pihak-pihak terdampak.

Sebagai bagian dari langkah tanggap darurat, Polda Metro Jaya juga mendirikan posko pelayanan dan pendataan korban. Posko ini berfungsi untuk mengoordinasikan kebutuhan medis, psikologis, serta administrasi bagi korban dan keluarga.

Polisi juga menggandeng sejumlah instansi terkait seperti Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Dinas Pendidikan, dan lembaga psikologi profesional, agar proses pendampingan berjalan lebih komprehensif.

“Kami berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk memastikan seluruh korban mendapatkan perhatian dan bantuan terbaik, baik dari sisi medis maupun psikologis,” tambah Kombes Budi Hermanto.

Ia juga mengimbau masyarakat untuk tetap tenang, tidak terprovokasi, dan menunggu hasil resmi penyelidikan yang tengah dilakukan oleh tim kepolisian.

Langkah cepat yang dilakukan Polda Metro Jaya menjadi bagian dari implementasi nyata Transformasi Polri Presisi, yang menempatkan keselamatan dan ketenangan masyarakat sebagai prioritas utama.

Melalui kegiatan trauma healing, Polri menunjukkan sisi humanisnya — hadir untuk menenangkan, mendengarkan, dan memulihkan kondisi psikologis masyarakat setelah bencana atau kejadian traumatis.

“Polri tidak hanya hadir dalam penegakan hukum, tetapi juga memastikan masyarakat merasakan kehadiran negara dalam situasi krisis,” ujar Kombes Budi Hermanto.

Kegiatan trauma healing akan terus berlanjut selama beberapa hari ke depan hingga seluruh korban dan pihak sekolah benar-benar pulih secara mental. Sementara itu, hasil penyelidikan resmi terkait penyebab ledakan akan disampaikan kepada publik setelah proses investigasi selesai dilakukan.

Dengan langkah cepat dan empati tinggi, Polda Metro Jaya menunjukkan bahwa kehadiran Polri bukan hanya untuk mengusut kasus, tetapi juga untuk mengembalikan ketenangan dan rasa aman bagi masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *