Presiden Sebut Banyak Kekayaan Nasional Mengalir ke Luar Negeri Penyebab Rupiah Melemah
Presiden Prabowo Subinato saat memberikan pidato penutupan Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2026 di Bangkalan, Jawa Timur (Foto: tangkapan layar youtube Sekretariat Presiden)
El John News, Jakarta – Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan pandangannya terkait pelemahan nilai tukar rupiah yang dalam beberapa waktu terakhir sempat bergerak mendekati level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Menurutnya, salah satu faktor utama yang menekan mata uang nasional adalah terus mengalirnya kekayaan Indonesia ke luar negeri selama bertahun-tahun.
Pernyataan tersebut disampaikan Prabowo saat memberikan pidato penutupan Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2026 di Bangkalan, Jawa Timur, Selasa (23/6/2026).
Dalam kesempatan itu, ia menjelaskan hasil analisis data perdagangan internasional yang bersumber dari United Nations Comtrade dan diolah oleh Dewan Ekonomi Nasional (DEN).
Menurut Prabowo, data tersebut menunjukkan bahwa Indonesia sebenarnya mencatat kinerja perdagangan yang positif selama sebagian besar dua dekade terakhir. Dari total 22 tahun yang dianalisis, Indonesia mengalami surplus atau keuntungan bersih selama 17 tahun dan hanya mengalami kondisi kurang menguntungkan dalam lima tahun.
Meski demikian, keuntungan yang diperoleh dari aktivitas perdagangan internasional tidak sepenuhnya bertahan di dalam negeri. Sebagian besar kekayaan yang dihasilkan justru kembali mengalir ke luar negeri melalui berbagai bentuk arus modal dan perpindahan kekayaan lainnya.
“Kalau sekarang ada yang mengatakan rupiah kita lemah, ini dan itu, ya karena kekayaannya keluar. Kalau darah kita tiap hari darah kita keluar, di ujungnya badan kita kolaps, mati,” ujar Prabowo.
Presiden menilai kondisi tersebut menjadi bukti adanya fenomena yang selama ini kerap ia soroti, yakni net outflow of national wealth atau keluarnya kekayaan nasional ke luar negeri. Menurutnya, persoalan tersebut membuat manfaat ekonomi yang diterima masyarakat dan negara tidak maksimal, meskipun Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah serta mencatat surplus perdagangan dalam jangka panjang.
Berdasarkan data yang dipaparkan, Indonesia berhasil membukukan keuntungan kumulatif sebesar US$436 miliar dalam kurun waktu 22 tahun terakhir. Dengan asumsi kurs Rp17.867 per dolar AS, angka tersebut setara sekitar Rp7.790 triliun.
Namun pada periode yang sama, arus dana yang keluar dari Indonesia tercatat mencapai US$343 miliar atau sekitar Rp6.134 triliun. Besarnya dana yang meninggalkan Indonesia inilah yang menurut Prabowo menjadi salah satu penyebab manfaat ekonomi nasional tidak sepenuhnya dirasakan di dalam negeri.
“Kalau kita lihat selama 22 tahun bangsa Indonesia sebagai bangsa sebenarnya telah untung. Dari 22 tahun, 17 tahun kita untung dan keuntungan kita adalah US$436 miliar selama 22 tahun,” kata Prabowo.
Ia menegaskan bahwa Indonesia sejatinya merupakan negara yang sangat kaya. Namun, kekayaan tersebut dinilai belum sepenuhnya mampu memperkuat perekonomian nasional karena sebagian terus mengalir ke luar negeri.
“Begitu kayanya Republik kita, tiap tahun kekayaan kita diambil keluar, kita masih berdiri. Jadi kita lihat dari neraca itu inflow, outflow,” lanjutnya.
Seperti diketahui pada penutupan perdagangan Selasa (23/6), rupiah berada di level Rp17.859 per dolar AS atau melemah 16 poin dibandingkan posisi penutupan perdagangan sebelumnya.
