Privatisasi untuk Mencegah Kepunahan Satwa Liar Menuai Perdebatan

0
Rhinos_web_1024

Foto: ScienceAlert

Diancam kepunahan massal, para ahli memperkirakan sebanyak dua pertiga spesies di bumi terancam punah pada pertengahan abad ini, seperti dilansir dari ScienceAlert pada Kamis (2/2/2017). Perubahan iklim menjadi penyebab paling penting karena merusak ekosistem dan memaksa hewan bermigrasi atau beradaptasi dengan perubahan kondisi cuaca.

Pemimpun Republik Amerika Serikat mengisyaratkan memikirkan ulang penetapan Endangered Species Act yang tidak digunakan sesuai kongres yang ditetapkan tahun 1973. Bahkan seorang professor Australia memberikan alternatif dibolehkannya privatisasi satwa liar. George Wilson dari Australian National University mengusulkan negaranya memprivatisasi sebagian wilayah Afrika Selatan untuk swasta sebagai properti.

Seperti diketahui, Negara-negara Zimbabwe, Namibia, Botswana dan Afrika Selatan membolehkan orang mendapatkan kepemilikan atas tanah dan bisa mengontrol secara penuh dengan hukum atas hewan liar yang ada. Artinya aktivitas izin berburu, eco-tourism, konservasi diserahkan kepada pemilik tanah. Bukan lagi pemerintah setempat.

Dengan demikian masyarakat tidak bisa berperan secara intens membantu upaya perlindungan hewan. Di mana dalam hal ini satwa liar dianggap sebagai kekayaan publik. Namun dengan privatisasi, pihak swasta mendapatkan keuntungan dari pariwisata atau berburu. Sekaligus sebagai alasan berinvestasi demi menjaga populasi satwa yang terancam punah. Akibat dari kebijakan tersebut, pariwisata menjadi populer di Afrika.

Bahkan diperkirakan pada tahun 2000, 20 persen dari peternakan di Zimbabwe, Namibia dan Afrika Selatan adalah bagian dari pariwisata satwa liar. 63 persen dari jerapah dan 56 persen cheetah pun ditemukan sebagai bagian dari peternakan komersial.

Dalam jurnal yang ditulis Wilson itu, satwa liar bernilai tinggi diperdagangkan untuk melengkapi spesies dan membentuk populasi baru. Bahkan taman nasional melelang satwa mereka untuk membantu mendapatkan dana operasional. Dengan kebijakan ini, Afrika Selatan memiliki satwa liar dari 100 tahun lalu. Berbeda dengan bagian di benua lain yang populasinya telah menurun.

Tentu saja argumen yang disampaikannya banyak mendapat pertentangan. Di mana hewan yang dimiliki individu tidak tinggal sepenuhnya di habitat alami mereka. Selain memungkinkan orang membuat areal perburuan serta membuat orang-orang kaya bisa leluasa menumpuk koleksi spesies tertentu. Lantas menuntut harga tinggi bagi pengunjung yang ingin melihatnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *