Putri Pariwisata Indonesia 2015 Memukau pada Banyuwangi Ethno Carnival

0
18db2316-d02d-452e-bc2e-06d1348f2017_169

Perhelatan Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) 2016, Sabtu (12/11) berlangsung sangat mengesankan serta mampu memukau para masyarakat yang menyaksikan secara langsung. Event ini merupakan satu di antara 53 atraksi pariwisata yang digelar Banyuwangi selama 2016 dengan tajuk “Banyuwangi Festival”.

BEC yang merupakan singkatan untuk Banyuwangi Ethno Carnival pada tahun ini temanya adalah “The Legend of Sritanjung Sidopekso” menggangkat cerita legenda rakyat terkait asal usul nama Banyuwangi. Ditampilkan juga dalam ajang itu, fragmen legenda Sritanjung – Sidopekso, sebelum digelar karnaval spektakuler tersebut.

Rangkaian parade diawali oleh ratusan penari Gandrung sebagai tarian pembuka disetiap acara seni dan budaya di Banyuwangi. Mereka menari gemulai di depan ribuan undangan yang duduk berderet di sepanjang jalan Veteran, Banyuwangi. Selanjutnya, barisan BEC Kids yang tampil dengan kostum yang menggambarkan Alas Purwo. Satu per satu peserta BEC Kids ini menampilkan pula flora dan fauna Alas Purwo.

Devile selanjutnya, adalah parade dari kostum Sidopekso. Kostum yang dibawakan oleh peserta laki-laki ini dominan berwarna merah, hitam dan emas. Sama seperti devile Sritanjung, sang Sidopekso menari dan tersenyum gagah saat berjalan di catwalk.

Parade kostum terakhir adalah Sulahadikromo. Kostum yang menggambarkan seorang raja yang angkuh dan sombong didominasi warna biru dan silver menari dan berjalan didepan para undangan yang hadir menyaksikan. Wajah sangar dan angkuh dipamerkan dalam setiap kali penampilan para peserta ketika berfoto, sungguh mampu menyampaikan pesan dan karakter dari setiap tokoh yang diperankan.

Sebanyak 160 peserta BEC memberikan penampilan yang luar biasa. Mereka merupakan anak anak muda Banyuwangi yang penuh dengan ide dan kreativitas tanpa kehilangan semangat tradisi dalam menuangkan segenap potensinya.

“Banyuwangi Ethno Carnival merupakan event budaya yang melibatkan segenap masyarakat dalam penyelenggaraannya. Budaya lokal menjadi pakem yang tidak boleh ditinggalkan dalam menentukan temanya. Seniman dan budayawan Banyuwangi berperan utama dalam setiap pemilihan tema,” ujar Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas saat membuka BEC 2016.

Kejutan dan penampilan apiknya tidak hanya sampai di situ saja, ada juga penampian khusus dari Putri Pariwisata Indonesia 2015, Dikna Faradiba yang juga ikut tampil dengan mengenakan kostum Barong. Kostum yang bernama “Sunar Udara” ini ditampilkandengansangat baik sekali oleh Dikna Faradiba. Penampilan Dikna pun mampu menyihir para pengunjung yang hadir menyaksikan langsung BEC ini.

Karnaval yang mengisahkan asal mula berdirinya Banyuwangi ini juga diikuti oleh 40 wisatawan mancanegara yang ikut berparade. Di antaranya berasal dari Rusia, Belarusia, Amerika Serikat, Perancis, dan Italia. Mereka berpakaian layaknya penari Gandrung dan ikut berjalan menyapa masyarakat Banyuwangi. Para wisatawan itu kebetulan sedang berlibur di Banyuwangi lalu ditawari untuk ikut tampil dan mereka menyambut antusias.

BEC ini dihadiri sejumlah tokoh penting. Antara lain Bupati Raja Ampat, Bupati Bandung Barat, dan Konsulat Jenderal Jepang, Yoshiharu Kato. Bahkan Konjen Jepang mengatakan sangat terkesan dengan parade kostum etnik kontemporer ini.

“Kostumnya bagus. Saya benar-benar kagum,” kata dia.

Sebagai penutup, para undangan bersama dengan Bupati Anas dan Forpimda turut serta dalam pawai tersebut. Mereka mengikuti peserta hingga garis finish sepanjang 5 kilometer. Tak lupa ada pula parade pengusung tema BEC 2017 yakni “Majestic Ijen”. Mereka adalah para penambang belerang yang membawa belerang dipundaknya. Sangat mengagumkan!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *