Resmi Dideklarasikan, Mengembalikan Kemuliaan Borobudur Menjadi Tanggung Jawab Bersama

0
IMG_0921

Guna memperkuat pemanfaatan Candi Borobudur sebagai pusat kegiatan religi umat Buddha dunia, Association of Buddhist Tour Operators Indonesia (ABTO) bersama Vihara Avalokitesvara ( Vihara Kwan Im) mendeklarasikan komitmen “Restore The Glory Of Borobudur atau Mengembalikan Kemuliaan Borobudur.

Kegiatan mulia ini,  dilangsungkan di Vihara Avalokitesvara, Jalan Raya Mangga Besar, Tamansari, Jakarta Barat, Kamis (02/11/2023) 

Kegiatan tersebut  didukung oleh Ditjen Bimas Buddha Kementerian Agama; PT Taman Wisata Candi (TWC) Borobudur, Prambanan & Ratu Boko; para Bhikkhu Sangha,  Organisasi Buddhist , serta para pegiat wisata religi Borobudur. Kegiatan ini digelar bertepatan dengan perayaan Hari Besar Dewi Kwan Im.

Deklarasi ditandai dengan penandatangan di atas kotak kaca yang didalamnya terdapat replika Candi Borobudur. Penandatangan dilakukan oleh tamu-tamu kehormatan secara bergantian.

Vice President ABTO yang juga sebagai Duta Wisata Spiritual Candi Borobudur Efendi Hansen mengatakan , mengembalikan kemuliaan Borobudur bukan tugas pemerintah semata, bukan juga  tugas organisasi Buddhis maupun  para Bhante, namun sudah menjadi tugas kita semua untuk bergandengan tangan mewujudkan kemulian Borobudur seperti dahulu,  sesuai pesan dari Menteri Agama yakni  jadikan Candi Borobudur sebagai Mekahnya umat Buddha.

“Di mana-mana ayo kita deklarasikan seperti ini, sehingga seluruh Masyarakat dapat mengetahui dan mengunjungi Borobudur sebagai spiritual tourism dunia itu lah yang kita gaungkan dan ini Borobudur ada di negara tercinta kita, kalau bukan kita yang gaungkan atau promosikan, siapa lagi, makanya ini adalah tugas kita bersama,” kata Efendi Hansen saat diwawancarai tim liputan EL JOHN Media.

Efendi Hansen menjelaskan, deklarasi mengembalikan kemuliaan Borobudur  tidak hanya di Indonesia namun deklarasi sampai ke luar negeri. Hal ini penting dilakukan agar gaung Candi Borobudur sebagai pusat spiritual umat Buddha dunia di dengar oleh Masyarakat dunia, khususnya yang beragama Buddha, sehingga ada keinginan untuk datang ke Candi Borobudur.

“Jadi dua minggu lalu, kami baru balik dari India, di sana juga selama dua minggu, kami melihat dan kami juga deklarasikan bahwa Borobudur menjadi tempat spiritual umat Buddha dunia dan kami deklarasikan dengan slogan Mengembalikan Kemuliaan Borobudur,” ujar Efendi Hansen.

VP of Commercial & Experience PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan & Ratu Boko Emilia Eny Utari mengapresiasi acara deklarasi ini. Menurutnya, deklarasi tersebut merupakan upaya bersama  untuk menjadikan Candi Borobudur lebih terkenal,  baik untuk wisata ataupun  untuk kegiatan spiritual umat Buddha.

“Tentunya dengan deklarasi ini, Candi Borobudur  bisa menjadi lebih baik ya dan gaungnya lebih kencang hingga ke penjuru  dunia,  bahwa Candi Borobudur  adalah  candi terbesar Buddha,  yang bisa dikunjungi untuk kegiatan wisata, kegiatan keagamaan umat Buddha ataupun kegiatan yang  memadukan wisata dengan religi,” tutur Emilia.

Emilia mengungkapkan bahwa  TWC siap untuk memberikan pelayanan yang maksimal bagi umat Buddha yang melakukan wisata religi di Candi Borobudur. Bahkan TWC telah menyiapkan paket wisata pilgrim untuk mengoptimalkan pelayanan TWC kepada umat Buddha di dunia.

“Tentunya kita berharap semua ini menjadikan Borobudur sebagai sebagai destinasi yang luar biasa dan dapat memberikan dampak sosial ekonomi yang bagus bagi lingkungan Kawasan Borobudur,” tutur Emilia.

Bhante Wongsin LungPo merasa bangga, komitmen untuk Mengembalikan Kemuliaan Borobudur dapat dideklarasikan. Dengan deklarasi ini diharap dapat mendorong umat Buddha yang ada di Indonesia maupun Dunia untuk berkunjung ke Candi Borobudur untuk melakukan aktivitas keagamaan.

“Kami sangat mendukung dan bangga atas deklarasi hari ini, yang ingin mengajak umat Buddha dari seluruh dunia  untuk datang dan menyaksikan keluhuran  Candi Borobudur yang merupakan Candi terbesar di dunia. Semoga apa yang kita harapkan semua dapat terwujud,” ucap Bhante Wongsin.

Komentar tidak jauh berbeda juga disampaikan Maha Bhiksu Dutavira Sthavira atau yang akrab disapa Suhu Benny. 

Ia mengatakan deklarasi ini  dapat menciptakan momentum positif di antara umat Buddha Indonesia dan masyarakat luas dalam mendukung pelestarian warisan budaya ini, serta dalam memperkuat persatuan demi nusa dan bangsa.

“Tentu prinsipnya Buddhis, semoga semua makhluk hidup gembira dan bahagia itu doktrin Buddhis. Sama juga dengan  kebangkitan Borobudur,  diharapkan menjadi bagian ingat bagian anak bangsa berbakti untuk nusa dan bangsa bukan Berarti diplesetin kebangkitan agama Buddha bukan bukan itu tidak ada urusan karena prinsipnya umat Buddha adalah Semoga semua makhluk hidup gembira dan bahagia demikian adanya

“Kebangkitan Borobudur diharapkan menjadi bagian anak bangsa, bukan berarti diplesetkan menjadi kebangkitan agama Buddha, bukan, bukan itu dan tidak ada urusan ke situ.Karena prinsipnya umat Buddha adalah semoga semua makhluk hidup gembira dan Bahagia,” ujar Suhu Benny.

“Keberadaan Borobudur mengingatkan kepada kita, umat Buddha pun bisa berbuat sesuatu yang besar bila dilakukan dengan ketulusan hati,” tambah Suhu Benny.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *