Saat nya Perempuan Saling Berdaya dan Berkolaborasi
Wirausaha perempuan harus bisa berkolaborasi dan menggandeng kaum perempuan lain, utamanya wirausaha perempuan milenial dan wirausaha perempuan di daerah tertinggal untuk berdaya dan memperluas jejaring usaha di era digital.
Menteri PPPA Bintang Puspayoga Mengatakan, Kami berharap kaum perempuan tidak hanya berdaya secara diri sendiri, namun juga mampu memberdayakan para perempuan di sekitarnya sehingga seluruh perempuan di pelosok tanah air bisa berdaya. Jika perempuan bisa berdaya, kami yakin dan percaya angka kekerasan terhadap perempuan dan anak akan menurun, begitu juga dengan angka perkawinan anak dan pekerja anak yang akan menurun.
“Saya juga berharap perempuan Indonesia tidak hanya berdaya dalam bidang ekonomi, namun juga berdaya di bidang pendidikan, pengasuhan anak, dan sosial budaya,” tutur Menteri PPPA, Bintang Puspayoga.
CEO Hijup, Diajeng Lestari bercerita mengenai kebiasaannya sejak kecil yang sering mengikuti ibunya ke bazar dan keadaan ekonomi keluarganya yang membuat ia bangkit berwirausaha.
“Sejak umur 5 tahun, saya sering diajak ibu saya mengikuti bazar. Ibu saya juga suka berpartisipasi menjual produk kerajinan tangannya di bazar atau menjual produk dari perajin lainnya. Jadi, sejak kecil sudah terbiasa melihat proses produksi pakaian dan kerajinan tangan hingga proses penjualannya, dan bagi saya hal tersebut mengasyikkan,” tutur Diajeng.
Diajeng Mengungkapkan, ketika saya duduk di bangku kuliah, keadaan ekonomi keluarga saya terkena efek krisis moneter. Ternyata, salah satu penyebab krisis moneter adalah ketidakstabilan ekonomi negara, dan cara mengatasinya dengan memperkuat ekonomi dalam negeri, salah satunya dengan cara memperkuat kewirausahaan.
Co – Founder Du’Anyam, Hanna Keraf juga bercerita mengenai perjuangannya dalam memberdayakan perempuan lokal, terutama dari daerah tertinggal melaui produk anyaman. Hingga saat ini, Du’Anyam telah memberdayakan 1.005 Mama – mama di Nusa Tenggara Timur (NTT).
“Kami awalnya melihat permasalahan yang terjadi di masyarakat sekitar, lalu mencari potensi yang dimiliki oleh masyarakat, salah satunya di NTT. Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, anyaman telah digunakan dalam kehidupan sehari – hari dengan bahan yang berbeda -beda. Namun, belum ada wadah yang mengangkat anyaman untuk menjadi potensi ekonomi bagi perempuan di Indonesia” Tutur Hanna
Hanna Menambahkan, kami juga mengalami banyak penolakan dari klien perusahaan kami, namun kami tidak mau menyerah. Kita harus pintar beradaptasi dengan keterbatasan eksternal yang tidak bisa kita control, seperti infrastruktur terkait pengiriman barang. Saat ini, kami telah memiliki aplikasi internal, jadi Mama – mama di NTT bisa menggunakan aplikasi tersebut untuk memperlancar proses pemesanan hingga pengiriman produk mereka
