Seluruh Finalis Putri Pariwisata Indonesia 2023 Tampilkan Bakat di Hadapan Juri

0
IMG-20230914-WA0215

Pada hari kedua karantina, seluruh finalis Putri Pariwisata Indonesia 2023 menampilkan unjuk bakat masing-masing di hadapan para juri. Kegiatan ini diselenggarakan di Permata Hijau Suites, Jakarta Selatan pada Selasa (12/9/2023).

Finalis perwakilan Maluku Kanidya Christandira menampilkan musikalisasi puisi, di mana puisi yang ia bawakan merupakan ciptaannya sendiri. Puisi tersebut dibuat untuk menggambarkan tentang keindahan laut dan alam Maluku. Tidak hanya itu, ia juga menyanyikan lagu tentang Ambon City of Music.

“Untuk bikin puisi sendiri sudah pasti saya harus komunikasi dulu sama Dinas Pariwisata, kira-kira apa yang mau saya tampilin. Jadi saya komunikasikan kemudian baru saya bikin puisinya. Jadi puisinya tentang laut, alam, kemudian mengajak orang-orang untuk datang ke Maluku,” ucap perempuan yang akrab disapa Nidia.

Perempuan kelahiran 30 Januari 2000 ini mengatakan, proses pembuatan puisi sekitar empat hari sebelum ia ke Jakarta. Hari pertama ia menulis syair terlebih dahulu, lalu dilanjutkan mencari chord ukulele sambil bernyanyi.

“Orang Ambon, Maluku sendiri dikenal dengan orang-orang yang musikalitasnya tinggi. Jadi di dalam daerah, orang Ambon dan Maluku kita sudah ada DNA bermusiknya. Jadi pariwisata bisa aku kenalkan lewat musik ini,” ucap Nidia.

Adapun finalis lain yang menampilkan unjuk bakat yaitu perwakilan dari Kepulauan Bangka Belitung Fradilla Misyel Kisandra. Perempuan yang akrab disapa Misyel ini menampilkan Tari Buluh yang berasal dari Kepulauan Bangka Belitung dengan menggunakan bambu warna merah.

“Kalau buluh merah, di mana wanita yang menari itu atau wanita yang memakai buluh itu bisa menarik orang untuk ditonton, makanya saya membawakan buluh. Nah untuk waktu durasinya memang agak cepat. Semua hitungannya itu 1/8 cuma ketukannya main cepat,” ucap Misyel.

Mahasiswi Psikologi di Universitas Mercu Buana ini, mengaku ada kendala selama melakukan persiapan. Namun hal itu tidak menyurutkannya untuk tampil maksimal di depan juri dan finalis lain.

“Persiapan narinya butuh dua hari. Itu improvisasi sebenarnya, cuma karena sebelumnya udah pernah ikut nari, masih mengikuti gerakan sebelumnya,” ucap perempuan kelahiran 30 Agustus 2005.

Selain Misyel, ada finalis lain perwakilan Kalimantan Timur Clara Claudya Umboh yang menampilkan tarian nusantara yang mencerminkan Indonesia serta dalam rangka menyambut Ibu Kota Negara baru, yakni Nusantara di Kalimantan Timur.

Tarian yang Clara bawakan berdurasi tiga menit, di mana menit pertama menampilkan tarian khusus Dayak pedalaman dengan mengenalkan burung-burung enggang.

“Oleh karena itu mengapa saya memakai kostum seperti ini karena ada headpiecenya paruh burung enggang, ada bulu-bulunya, manik-manik khas Dayak. Lalu saya kombinasi dengan unsur Melayu di baju, celana,” kata Clara.

Mahasiswi semeter lima jurusan Ilmu Komunikasi di Universitas Mulawarman Samarinda ini, berlatih sekitar satu bulan dan tidak ada kendalan serius untuk menghafalkannya karena tidak ada masalah serius untuk menghafalkannya.

“Setelah satu menit saya menari Dayak, saya menari campuran, ada Tari Saman dari Aceh, tarian dari Jakarta, dan terakhir Tari Rantak dari Sumatera. Jadi menarikan kompilasi,” ucap Clara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *