Sindrom kepala meledak, tapi tidak sampai meledakkan kepala anda
Waspadalah dengan sindrom kepala meledak (EHS). Kondisi ini terdengar seperti dibuat-buat, tapi sindrom kepala meledak termasuk gangguan medis yang menakutkan yang membuat seseorang tak bisa tidur. Orang yang mengalami sindrom kepala meledak mendengar suara yang keras ketika akan tidur atau bangun tidur. Jenis kebisingan ini bisa bervariasi dari ledakan, suara kembang api hingga pintu dibanting, bunyi tembakan senjata, raungan besar, teriakan, guntur, atau petir. Suara tersebut mulai dengan tiba-tiba dan berlangsung beberapa detik.
Sebelum mendengar suara keras, satu dari 10 penderita mengalami gangguan penglihatan seperti melihat petir. Ini mirip dengan gejala yang dialami beberapa orang sebelum sakit migrain.Penelitian sindrom kepala meledak tersebut dilakukan oleh Universitas Negeri Washington. Sekitar 211 mahasiswa diperiksa untuk meneliti sindrom kepala meledak dan kelumpuhan tidur. Dari responden mahasiswa tersebut, setidaknya 18 persen melaporkan merasakan sindrom kepala meledak setidaknya satu kali. Penelitian tersebut juga menemukan, EHS seringkali menyebabkan rasa takut klinis yang signifikan. Para responden tidak dapat merasionalisasi apa yang mereka dengar. Penderita EHS biasanya kerap mendengar suara mendenging di kepala mereka, terutama saat mereka hendak terlelap dan ketika bangun tidur.
Suara mendenging yang didengar penderita EHS bisa bervariasi, mulai dari denging halus hingga ledakan keras. Biasanya suara tersebut terdengar mendadak dan bertahan selama beberapa detik. Sebelum mendengar suara, beberapa detik sebelumnya, penderita EHS juga menderita gangguan penglihatan, seperti melihat cahaya yang terlalu terang, mirip seperti yang dialami penderita migrain. Beberapa pengidap EHS mengaku hanya mendapat serangan satu kali sepanjang hidup, beberapa yang lain mengaku mendapat serangan hingga tujuh kali semalam. Tidak hanya itu, EHS juga bisa terus-menerus berlangsung selama beberapa bulan bahkan tahun, dengan frekuensi serangan bervariasi, mulai harian hingga sangat jarang. Mereka yang mengidap EHS kerap mengalami gangguan tidur akibat dengingan yang tak kunjung berhenti atau sakit kepala yang tak tertahankan. Serangan EHS parah bahkan diketahui bisa menyebabkan takikardia atau denyut jantung ekstracepat hingga 100 kali per menit dan palpitasi jantung.
American Sleep Association (ASA) mengutarakan, gejalanya tidak selalu sama antara satu orang dengan orang lain, dan biasanya tidak menimbulkan sakit fisik. Beberapa orang menjelaskan, adanya terpaan sinar dan suara-suara keras. Gelisah, jantung berpacu, dan sesak napas juga gejala-gejala umum selain suara keras. Brian Sharpless, profesor psikologi di Washington State University mengatakan bahwa fenomena ini provokatif dan sedang dipelajari. “Saya sudah bekerja dengan beberapa orang yang mengalaminya tujuh kali dalam semalam, jadi mungkin sindrom ini dapat mengarahkan ke konsekuensi-konsekuensi buruk.” Bahkan beberapa orang bisa menjadi gelisah saat masuk ke kamar tidur atau saat mereka ingin tidur. Hal ini juga dapat mengacu kepada kantuk di siang hari, yang merupakan masalah lain.
Dalam kasus lain, suara tersebut terdengar dari kepala si penderita sendiri. Sebagian besar peneliti menemukan bahwa sindrom ini terjadi di antara orang-orang yang mengalami stres tingkat tinggi dan kelelahan fisik maupun mental. Sindrom ini menyerang pria dan wanita, namun lebih banyak dialami oleh wanita di umur 50 tahun ke atas. Dalam jangka panjang, sindrom ini bisa menyebabkan gangguan panik, depresi dan catastrophising, di mana pasien salah menafsirkan gejala sebagai tanda-tanda kondisi yang lebih serius, seperti stroke.
Para profesional medis berpikir, EHS terjadi ketika otak mengalami kesulitan untuk mematikan fungsinya ketika akan tidur atau memulainya kembali ketika bangun, kata laporan penelitian tersebut. Sharpless mengatakan, suara keras yang terjadi karena kondisi tersebut terjadi karena saraf pendengaran mengaktifkan semua sekaligus bukan mematikannya secara benar. Sejauh ini, perawatan atas sindrom ini masih kurang. Namun penelitian menunjukkan bahwa penyebaran informasi tentang sindrom ini bisa membantu mengurangi rasa takut orang-orang mengalaminya.
