Surplus Beras 3,52 Juta Ton, Presiden Umumkan Swasembada Pangan 2025

Presiden Prabowo bersama sejumlah Menteri Melakukan Panen Raya (Foto: Sekretariat Negara)
El John News, Jakarta-Produksi beras nasional yang menembus 34,71 juta ton pada 2025 menjadi penanda keberhasilan Indonesia mencapai swasembada pangan. Dengan surplus jutaan ton dan tanpa impor beras konsumsi sepanjang tahun, Indonesia mencatat capaian ketahanan pangan tertinggi dalam sejarah modernnya.
Keberhasilan tersebut diumumkan secara resmi dalam acara Panen Raya dan Pengumuman Swasembada Pangan Nasional 2025 yang digelar di Kabupaten Karawang, Provinsi Jawa Barat, pada Rabu, (7/1/2026). Momentum ini menandai babak baru ketahanan pangan nasional sekaligus mempertegas komitmen Indonesia untuk mengurangi ketergantungan pada impor pangan.
Presiden Prabowo Subianto menyampaikan apresiasi mendalam kepada para petani, penyuluh pertanian, dan seluruh pelaku sektor pertanian yang dinilai menjadi garda terdepan dalam pencapaian bersejarah tersebut. Presiden menegaskan bahwa swasembada pangan adalah bukti nyata kemampuan bangsa Indonesia untuk berdiri di atas kekuatan sendiri.
“Hari ini saudara memberi kepada bangsa dan negara bukti yang nyata. Saudara telah mencatat tonggak penting dalam kemerdekaan bangsa Indonesia,” ujar Presiden dalam sambutannya.
Presiden juga menekankan bahwa kemandirian pangan merupakan pilar utama kedaulatan nasional. Menurutnya, sebuah bangsa tidak dapat disebut sepenuhnya merdeka apabila kebutuhan pangannya masih bergantung pada negara lain.
“Tidak ada bangsa yang merdeka kalau makan tidak bisa tersedia untuk rakyat. Tidak mungkin bangsa itu merdeka kalau pangan tergantung bangsa lain,” tegas Presiden.
Produksi beras pada tahun 2025 sebesar 34,71 juta mengalami kenaikan yang cukup signifikan yakni mencapai ,09 juta ton atau 13,36 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan ini menghasilkan surplus beras sebesar 3,52 juta ton.
Dari sisi cadangan pangan, stok beras Perum Bulog pada akhir tahun 2025 tercatat sebesar 3,24 juta ton, bahkan sempat mencapai puncak 4,2 juta ton. Angka ini menjadi stok tertinggi sepanjang sejarah pengelolaan pangan nasional dan memperkuat posisi pemerintah dalam menjaga stabilitas harga serta pasokan beras di dalam negeri.
Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) yang juga menjabat sebagai Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menyatakan bahwa kondisi ketersediaan beras nasional berada pada level yang sangat aman. Ia memastikan stok yang ada cukup hingga menghadapi periode Ramadan dan Idulfitri tanpa perlu impor.
“Ini stok tertinggi di akhir tahun selama Indonesia merdeka. Bukan sekadar aman, tapi sangat aman. Tanpa impor, stok cadangan beras pemerintah lebih dari 3 juta ton. Beras kita surplus dan tidak ada masalah sampai Ramadan dan Lebaran,” ujar Amran.
Untuk tahun 2026, pemerintah menegaskan komitmennya dalam melindungi dan menyejahterakan petani. Sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto, kebijakan pangan ke depan akan memastikan petani tidak mengalami kerugian dan hasil produksi mereka terserap secara optimal untuk memenuhi kebutuhan nasional.
“Petani pangan tidak boleh rugi. Mereka harus sejahtera, dan hasil kerja keras mereka harus dirasakan manfaatnya oleh seluruh masyarakat Indonesia,” tegas Amran.
Keberhasilan swasembada pangan juga berdampak langsung pada peningkatan kesejahteraan petani. Hal ini tercermin dari Nilai Tukar Petani (NTP) tahun 2025 yang mencapai 125,35, tertinggi dalam 25 tahun terakhir, menandakan peningkatan daya beli dan pendapatan petani secara signifikan.
Di sektor perdagangan, pertanian nasional menunjukkan kinerja ekspor yang mengesankan. Nilai ekspor pertanian sepanjang Januari hingga Oktober 2025 mencapai Rp629,7 triliun, tumbuh 33,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Capaian ini menegaskan daya saing produk pertanian Indonesia di pasar global.
Pemerintah menegaskan bahwa swasembada pangan 2025 bukanlah tujuan akhir, melainkan fondasi awal bagi penguatan kemandirian nasional yang berkelanjutan. Ke depan, pemerintah berkomitmen menjaga konsistensi produksi, memperluas swasembada ke komoditas strategis lainnya, serta memastikan pembangunan sektor pangan memberikan manfaat merata bagi petani, nelayan, dan masyarakat luas.
