Tanamkan Rasa Cinta Terhadap Budaya, Untar Gelar Festival Karawitan Untuk Pelajar
Lantunan gamelan dan nyanyian lagu jawa terdengar indah dari Auditorium Lt 8 Gd M Kampus 1 Universitas Tarumanagara (Untar), Jalan S.Parman, Jakarta Barat. Suara gamelan tersebut sedang dimainkan oleh para pelajar yang sedang mengikuti Festival Karawitan Untuk Pelajar Tingkat Nasional yang diselenggarakan Untar, pada Selasa (23/08/2023).
Festival Karawitan ini digelar dalam rangka menyambut HUT Untar ke-64. Ada 8 peserta yang ikut dalam festival ini. Mereka berasal dari sekolah jenjang SMP, SMA/SMK di Jakarta maupun luar Jakarta. Para pelajar tampil menakjubkan memainkan alat music karawitan seperti Demung, Bonang, Gambang dan Kenong.
Tak hanya memainkan instrumen gamelan, para pelajar juga terlibat dalam vokal tradisional yang mengiringi irama gamelan. Mereka mengekspresikan semangat dan antusiasme mereka terhadap budaya dan seni tradisional Indonesia.

SMAN 8 Jakarta tampil sebagai juara I dalam festival ini, dengan mengumpulkan 639 poin dari tiga dewan juri. Sementara itu, untuk juara II, diraih SMA Penabur Tangerang, dengan nilai 627 poin dan untuk juara III, dengan nilai 624 poin, disabet oleh SMP Citra Nusantara.
Rektor Untar Prof. Dr. Ir. Agustinus Purna Irawan, M.T., M.M., IPU,AE, mengatakan digelarnya Festival Karawitan ini merupakan bentuk komitmen Untar dalam mempertahankan dan memperkenalkan keindahan budaya melalui seni musik tradisional Indonesia kepada generasi muda.
“Ini permainan kebersamaan di antara banyak pemain terus kemudian juga ada banyak peralatan yang digunakan. Saya kira ini sesuatu budaya yang sangat tinggi baik itu dari sisi seni maupun dari sisi makna jangan sampai nanti budaya kita sendiri hilang karena kita tidak mau memainkannya atau menikmatinya,” kata Prof. Agustinus.

Prof Agustinus merasa kagum dengan penampilan para pelajar. Kemahiran mereka membuktikan bahwa generasi muda mencintai budaya sendiri dan ikut melestarikannya, Untuk memperkuat agar kecintaannya tidak hilang maka harus ada upaya yang dilakukan Pemerintah.
“Saya kira memang harus ada disusun suatu kurikulum yang eee mendukung para siswa ini mulai dari muda masih mulai dari SD SMP SMA ya itu memainkan alat-alat musik seperti ini kalau itu diprogramkan di sekolah-sekolah itu akan menjadi kegiatan ekstrakurikuler yang menarik tentu harus difasilitasi negara,” ujar Prof. Agustinus.

“Oleh karena itu menurut saya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ristek bisa nih memberikan alokasi dana tertentu bagi sekolah-sekolah yang memprioritaskan budaya-budaya Nusantara untuk di support sehingga nanti bisa terus bisa dikembangkan,” tambahnya, sembari mengatakan Festival Karawitan akan menjadi event rutin yang digelar Untar.
Sementara itu, Ketua Dewan Juri Suraji mengatakan, para peserta sudah cukup mahir dalam memainkan gamelan dan memiliki kemampuan yang sama rata. Oleh karena itu, dewan juri membutuhkan ketelitian untuk menilainya. Ada tiga unsur yang dinilai dari para peserta yakni Wiraga, Wirama dan Wirasa.

“Dalam penilaian kami itu menggunakan tiga yaitu Wiraga, wirama dan Wirasa. Wiraga itu bagaimana mereka menerapkan tehnik-tehnik gamelan menurut estetika gamelan, setelah itu Wirama bagaimana seorang pemain gendang itu memberi instruksi pada instrumen yang lain dan yang lain harus bisa menangkap. Dan terakhir Wirasa itu, bagaimana sajianya enak atau tidak untuk didengar, itu yang kita nilai,” kata Suraji.
