Tanda-Tanda Keguguran dan Penyebabnya Yang Perlu Diketahui

0
EL JOHN Medical 1

Kehamilan merupakan hal yang selalu diimpikan oleh setiap pasangan suami istri. Oleh karena itu, masa kehamilan harus dijaga dengan baik hingga melahirkan. Terkadang ada juga kehamilan yang dialami seorang ibu tidak berjalan mulus, seperti mengalami keguguran.

Keguguran adalah kehilangan kehamilan saat 20 minggu pertama kandungan. Kebanyakan kondisi keguguran terjadi antara minggu ke-7 sampai 12, atau yang dikenal dengan trimester pertama.Keguguran biasanya terjadi karena perempuan tersebut, tidak menyadari kehamilannya. Di sisi lain, perempuan yang menyadari kehamilannya, memiliki risiko 10-20% mengalami keguguran.

Hal tersebut disampaikan dokter spesialis kandungan yakni  dr. Atika Ayu, Sp.OG saat menjadi narasumber dalam program EL JOHN Medical Forum yang di tayangan EL JOHN TV. Program ini dipandu oleh Cinthia Kusuma Rani (Miss Earth Indonesia 2019).

“Jadi keguguran sendiri itu adalah kematian dari buah kehamilan yang berusia kurang dari 20 minggu. Jadi biasanya kita bedakan berdasarkan usia ya, di atas 20 minggu kita sudah tidak mengatakan keguguran tetapi dikatakan kelahiran prematur. Namanya,  premature organnya belum matang. Kalau kurang dari 20 minggu untuk hidupnya sangat kecil, sedangkan kalau di atas 20 minggu masih bisa untuk dipertahankan apalagi saat ini dengan kemajuan teknologi, jadi bayi terkadang ukuran 900 gram  atau 1000 gram itu bisa bertahan hidup walaupun lahir secara prematur,” terang dokter Atika.

Dokter Atika menjelaskan penyebab keguguran berbagai macam, namun dalam penelitian yang paling banyak mempengaruhi keguguran adalah karena kelainan kromosom. Kromosom itu adalah struktur yang bentuknya bisa diibaratkan seperti tali dan terdapat di dalam nukleus atau inti sel. Di dalamnya, ada protein serta satu buah molekul DNA. Komponen inilah yang bisa membuat Anda memiliki kemiripan karakteristik secara fisik dengan orang tua, namun dengan ciri khasnya sendiri.

Normalnya, jumlah kromosom dalam setiap sel manusia adalah 23 pasang atau 46 buah, dengan 1 pasang di antaranya adalah kromosom seks yang menentukan jenis kelamin manusia. Sementara 22 pasang lainnya disebut kromosom autosomal.

Kromosom manusia berpasang-pasangan, dengan setengah berasal dari ibu dan setengahnya lagi berasal dari ayah.

“D mana kelainan kromosim ini bisa disebabkan oleh dari faktor ibu dan faktor ayah. Jadi untuk bisa kita hidup ini ya, kita ini 50 persen ditentukan oleh ibu, 50 persen lagi ditentukan oleh ayah. Apabila salah satu kelainan kromosom itu atau DNA dari ibu atau ayah ini ketemu kemudian menjadi embrio maka embrio ini tidak bisa berkembang dengan baik, kemudian tidak bisa menempel pada Rahim dengan baik sehingga terjadi keguguran. Biasanya penyebab utamanya seperti itu,” jelas dokter Atika

“Selain itu, dari faktor fisik, ibu mengalami trauma atau kecelakaan yang cukup parah sehingga menyebabkan keguguran atau mungkin karena kondisi Covid dan juga karena kondisi ibunya kurang bagus serta si janin juga tidak bagus sehingga tidak bisa bertahan hidup. Tapi utamanya 70 persen karena kelainan kromosom,” tambahnya.

Menurut dokter Atika, penelitian untuk  kelainan kromosom ini lebih banyak dilakukan di negara lain. Biasanya orang tua di negara tertentu memperbolehkan si janin yang gugur dilakukan otopsi atau diperiksa DNA-nya  untuk mengetahui penyebab keguguran ini. Untuk di Indonesia, hal seperti itu jarang terjadi, biasanya  setelah keguguran si janin langsung dikubur.

“Cuma memang kelainan kromosom ini, penelitiannya kebanyakan dari luar negeri, karena kalau di Indonesia ini jarang kalau sudah keguguran, bayinya kemudian diotopsi  atau diperiksakan DNA itu jarang sekali terjadi. Karena pertama, akses pemeriksaan DNA ini tidak mudah. Kemudian kedua biayanya juga mahal. Ketiga karena faktor budaya kita ya biasanya kita kalau sudah keguguran langsung pengen segera dikuburkan. Dari literature di luar negeri karena kelainan kromosom itu,” ujar dokter Atika.

Dokter Atika  mengungkapkan ada dua tanda seorang ibu mengalami keguguran, yakni nyeri pada bagian perut dan pendarahan. Selama kehamilan, tidak boleh diremehkan jika seorang ibu mengalami tanda-tanda seperti itu.

“Nyerit perut dan pendarahan yang normal hanya pada saat menjelang persalinan itu hal yang normal. Tetapi sebelum itu setiap pendarahan, setiap nyeri perut harus kita perhatikan dengan benar-benar. Selain nyeri perut dan pendarahan sebagai tanda keguguran, dia juga bisa menjadi tanda kehamilan  di luar kandungan. Jadi misalkan sudah ada keluhan seperti itu, nyeri perut dan pendarahan kita harus benar-benar memastikan ke dokter,” ungkap dokter Atika.

Dokter Atika menyarankan kepada para ibu untuk selalu memeriksakan kandungannya ke dokter spesialis kandungan, pasalnya observasi yang dilakukan dokter kandungan lebih maksimal. Hal ini dilakukan agar dapat diketahui perkembangan di janin. (Sigit)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *