Tindakan Operasi Cara Terbaik Untuk Penanganan Penyakit Usus Buntu
Penyakit usus buntu merupakan penyakit yang harus dilakukan penindakan. Penyakit ini muncul akibat adanya peradangan pada usus buntu atau apendiks. Bentuknya menyerupai kantong kecil atau seperti tabung dan tipis yang memiliki ukuran 5 hingga 10 cm yang terhubung pada usus besar dan letaknya ada perut kanan bagian bawah.
“Penyakit usus buntu disebabkan oleh adanya peradangan pada usus buntu tersebut. Itu kenapa, karena adanya inspeksi usus buntu. Kenapa bisa terjadi infeksi, karena adanya penyumbatan di bagian apendiks. apendiks itu panjangnya sekitar 10 centimeter dan dia itu berbentuk seperti tabung. Jadi adanya penyumbatan yang biasanya terjadi akibat dari sisa makanan. Jadi lama kelamaan terjadinya gangguan aliran darah di usus buntu tersebut yang menyebabkan infeksi,” kata dr. M. Nisril Syahputra, M.Ked(Surg), Sp.B saat menjadi nara sumber dalam program EL JOHN Medical Forum yang ditayangkan EL JOHN TV. Program ini dipandu oleh Miss Earth Indonesia 2019 Cinthia Kusuma Rani
Penderita penyakit usus buntu akan merasakan sakit yang jika dibiarkan akan menyebabkan infeksi dan tidak dapat membahayakan nyawa penderitanya jika usus buntunya mengalami pecah. Oleh karena itu penanganan terbaiknya adalah operasi.
Dokter Nisril yang merupakan dokter spesialis bedah di Rumah Sakit Metta Medika ini, mengatakan ada tiga operasi yang dilakukan untuk mengatasi penyakit usus buntu yakni operasi usus buntu terbuka (Apendektomi terbuka) , operasi usus buntu laparoskopi (Apendiktomi laparoskopi) dan laparotomi.
Apendektomi terbuka dilakukan dengan membuat sayatan sepanjang 5–10 cm pada bagian kanan bawah perut. Sayatan ini menjadi akses untuk mengangkat usus buntu. Usai usus buntu diangkat, sayatan akan ditutup kembali.
Apendektomi terbuka umumnya dilakukan ketika usus buntu pasien sudah pecah dan infeksinya menyebar. Apendektomi terbuka juga menjadi metode yang umum dipilih pada pasien yang pernah menjalani pembedahan di bagian perut.
Sedangkan untuk Apendiktomi laparoskopi dilakukan dengan membuat 1–3 sayatan kecil di bagian kanan bawah perut. Setelah sayatan dibuat, laparoskop dimasukkan melalui sayatan tersebut untuk mengangkat usus buntu. Laparoskop merupakan alat berbentuk tabung tipis panjang yang dilengkapi kamera dan alat bedah.
Saat dilakukan apendiktomi laparoskopi, dokter akan memutuskan apakah perlu dilanjutkan dengan apendektomi terbuka atau tidak. Dibandingkan apendektomi terbuka, apendiktomi laparoskopi lebih sedikit menimbulkan rasa nyeri dan bekas luka.
“Misalnya yang terbaik dengan usus buntu biasa , sebentar untuk melihat usus buntu itu, kita harus melakukan pemeriksaan fisik, penunjang. Dari situlah kita akan menentukan operasi yang mana yang harus kita tempuh. Tetapi kalau yang terbaik sih adalah Metode laparoskopi memakai alat. Di samping operasinya sangat minim, luka operasinya juga minim juga dan hasil ke pasien juga bagus,” ujar dokter Nisril.
Selanjutnya operasi Laparatomi bertujuan untuk membuka dinding perut agar dapat memiliki akses ke organ perut yang memerlukan tindakan tertentu atau sebagai prosedur diagnostik. Laparotomi dilakukan dengan cara membuat sayatan besar pada area di sekitar perut pasien yang didahului dengan pemberian anastesi.
“Beberapa contoh kondisi yang memerlukan laparotomi sebagai bagian dari penanganannya adalah penyumbatan atau obstruksi usus, perforasi atau kebocoran usus, perdarahan rongga perut, dan terkadang untuk pengangkatan tumor ganas di sekitar perut,” terang dokter Nisril.
Lebih lanjut dokter Nisril menjelaskan, untuk penderita penyakit usus buntu yang memiliki penyakit penyerta harus dilakukan koordinasi dengan dokter yang menangani penyakit penyerta si pasien. Hal ini dilakukan agar tindakan operasi tidak membahayakan bagi pasien.
“Biasanya kalau pasien-pasien disertai penyakit penyerta, penyakit bawaan yang lain, maka kita perlu untuk bentuk tim kolaborasi dengan dokter lain seperti kolaborasi dengan dokter anastesinya, dengan dokter penyakit dalam, dokter anak kalau misalkan si pasien adalah anak-anak atau dengan dokter jantung, spesialis bedah,” tutur dokter Nisril.
Untuk Ibu hamil yang mengalami usus buntu tindakannya pun sama dengan pasien yang memiliki penyakit penyerta. Karena ibu hamil penanganan kehamilannya ditangani dokter kandungan, maka koordinasinya pun dengan dokter kandungan agar tidak beresiko pada kandungan.
“Kita harus memeriksa dengan teliti dan menyeluruh karena dengan si pasien dengan kondisi seperti itu sedang hamil. Hal seperti ini, kita juga harus kolaborasi dengan dokter kandungannya untuk penanganan yang terbaik seperti apa,” ujar dokter Nisril.
