Tsunami Hancurkan Ekosistem Bawah Laut Pantai Palu

0
Tsunami Hancurkan Ekosistem Bawah Laut Pantai Palu

Gempa berkekuatan magnitudo 7,4 mengguncang Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah, pada Jumat (28/9) lalu. Gempa tersebut menyebabkan gelombang tsunami yang terjadi di pantai Palu dengan ketinggian 0,5 sampai 1,5 meter, di pantai Donggala kurang dari 50 sentimeter, dan pantai Mamuju dengan ketinggian 6 sentimeter. Akibat dari bencana tersebut menimbulkan efek kerusakan yang luar biasa di sejumlah area. Salah satu yang terdampak akibat tsunami adalah wisata bawah laut yang merupakan magnet bagi para wisatawan untuk datang ke Sulawesi tengah.

Peneliti bidang geofisika kelautan dari Pusat Penelitian Oseanografi LIPI, Nugroho Dwi Hananto menyebutkan adanya kemungkinan bahwa sesar mendatar Palu Koro yang memiliki komponen deformasi vertikal di dasar laut memicu terjadinya tsunami.

“Kawasan Teluk Palu hingga Donggala  juga mempunyai bentuk mirip  kanal tertutup dengan bentuk dasar laut yang curam. Akibatnya jika ada massa air laut datang, gelombangnya lebih tinggi dan kecepatannya lebih cepat,” kata Nugroho di Jakarta, Selasa (2/10).

Dirinya juga mencatat kemungkinan longsor bawah laut akibat tebih bawah laut runtuh akibat gempa. “Gempa dan tsunami Palu menjadi pelajaran penting perlunya data geo-sains yang lebih lengkap untuk bisa mengkaji potensi terjadinya gempa yang sumbernya berasal dari bawah laut,” pungkasnya.

Lanjut, Nugroho menjelaskan, bahwa tsunami sangat mempengaruhi kondisi pesisir dan bawah laut karena gelombang itu memiliki sifat menghantam. Kemungkinan ekosistem bawah laut di sana langsung mengalami perubahan drastis dan mengalami kerusakan, tergantung seberapa besar kekuatan gempa dan struktur dasar bawah lautnya.

“Ada tiga ekosistem di perairan Indonesia, ekosistem koral, mangrove, padang lamun. Kalau ada mangrove depan pantai maka kemungkinan tsunami bisa diredam karena banyak tumbuhan. Gelombangnya terpecah sehingga tidak kuat lagi,” ujar Nugroho di Jakarta, Selasa (2/10).

Pihak Kementerian Pariwisata melalui Tourism Crisis Center (TCC) juga terus melakukan monitoring dan pendataan terkait ekosistem pariwisata di Sulawesi Tengah, terutama atraksi, aksesibilitas, dan amenitas (3A).

Dari sisi atraksi, TCC Kemenpar mencatat ada tiga kategori atraksi yaitu alam, budaya dan buatan. Dari beberapa atraksi alam, Pantai Talise rusak diterjang tsunami. Pantai Talise merupakan venue event-event di Kota Palu dan Provinsi Sulawesi Tengah. Daya tarik wisata budaya seperti situs bersejarah/peninggalan dan cagar budaya hingga saat ini masih dalam upaya koordinasi pendataan dengan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Makassar. Namun dilaporkan beberapa peninggalan sejarah mengalami kerusakan.

“Untuk daya tarik wisata buatan, seluruh event festival budaya Palu dibatalkan, seperti Festival Palu Nomoni dan Rangkaian Peringatan Hari Habitat Dunia 2018 di Kota Palu yang rencananya diselenggarakan pada tanggal 29 September – 3 Oktober 2018. Jalur jalan lintasan event balap sepeda TdCC (Tour de Central Celebes) yang rencana dilaksanakan pada 14-18 Oktober 2018 juga mengalami kerusakan,” kata Menteri Pariwisata Arief Yahya melalui Ketua TCC Kemenpar Guntur Sakti.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *