UNTAR, VERSHOME dan PLAYO Tampilkan Instalasi Inovatif dan Karya Ramah Lingkungan di MBDW 2024

0
WhatsApp Image 2024-10-07 at 11.49.37

Universitas Tarumanagara (Untar) berpartisipasi dalam M Bloc Design Week 2024 (MBDW 2024), sebuah perhelatan yang berlangsung selama 10 hari dari tanggal 27 September hingga 6 Oktober 2024. Acara ini merupakan bagian dari perayaan ulang tahun kelima M Bloc, yang diselenggarakan di M Bloc Space bekerja sama dengan Evoria. MBDW 2024 menjadi platform penting bagi kreator dan desainer untuk memamerkan inovasi serta ide-ide segar dalam dunia desain.

Salah satu kontribusi paling menarik dari Untar adalah instalasi yang ditampilkan oleh Program Studi Desain Interior, yang berkolaborasi dengan VERSHOME dan Playo. Instalasi bertajuk “Room No.09: The Labrary” dirancang untuk menggugah rasa ingin tahu dan kesadaran akan pentingnya penggunaan material yang lebih ramah lingkungan dan inovatif. Booth ini menonjolkan berbagai jenis material, mulai dari bahan bio-based hingga material daur ulang, yang bertujuan memperkaya pengalaman ruang.

Dua karya utama di booth Untar yang berhasil menarik perhatian pengunjung adalah Arkatana dan KidEco Set. Arkatana adalah hasil karya Ferdinand Kendall, seorang dosen Desain Interior Untar, yang terinspirasi oleh rumah adat Tongkonan. Karya ini terbuat dari 100% rotan alami dan memanfaatkan limbah kaos yang dianyam oleh komunitas ibu-ibu di Bantargebang. Proyek ini tidak hanya menampilkan penggunaan bahan daur ulang secara kreatif, tetapi juga memberdayakan komunitas lokal melalui kerajinan tangan yang bernilai tinggi.

Di sisi lain, KidEco Set adalah rangkaian furnitur edukatif yang dirancang oleh Maitri Widya Mutiara untuk anak-anak usia dini. Menggunakan material plastik daur ulang dari Mortier, KidEco Set dirancang dengan bentuk geometris yang tidak hanya mengedukasi anak-anak tentang konsep ruang dan bentuk, tetapi juga menanamkan nilai keberlanjutan sejak usia dini.

Instalasi “Room No.09: The Labrary” juga menunjukkan inovasi dalam desain interior. Dirancang oleh Shania Jessy dan Gladys Abellya dari VERSHOME, instalasi ini mengusung konsep smart modular design. Desain ini tidak hanya menonjolkan keindahan dan fungsionalitas, tetapi juga fleksibilitas serta aspek keberlanjutan. Dengan pendekatan modular, The Labrary dapat dirakit, dibongkar, dan diaplikasikan kembali sesuai kebutuhan, tanpa mengurangi nilai estetika dan fungsionalitasnya. Pendekatan ini menawarkan solusi konkrit terhadap masalah limbah yang sering muncul di industri eksibisi, di mana banyak instalasi berakhir sebagai sampah setelah acara selesai.

Sumber: Untar

Di hari terakhir MBDW 2024, acara ini menampilkan serangkaian sesi talkshow, salah satunya bertema “Reimagining Space: How Sustainability Shapes the Future of Interior Design Industry.” Talkshow ini dihadiri oleh narasumber-narasumber kompeten seperti Dwi Sulistyawati dari Untar, Eugenio Hendro dari Eugenio Hendro Studio, Hendro Hadinata dari Studio Hendro Hadinata, dan Roni Timothy dari VERSHOME. Dalam diskusi tersebut, para narasumber mengeksplorasi bagaimana keberlanjutan dapat membentuk masa depan industri desain interior.

Dalam era pembangunan berkelanjutan yang sejalan dengan tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), dosen Desain Interior UNTAR Dwi Sulistyawati menekankan pentingnya desain interior yang tidak hanya estetis, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi penggunanya. Menurutnya, desain yang baik harus mampu meningkatkan kualitas hidup individu yang menggunakannya.

“Desain yang bagus adalah ketika pengguna mengalami peningkatan nilai hidup yang lebih baik. Hal ini tercapai ketika mereka menggunakan desain yang kita buat, sehingga mereka merasa lebih sehat dan bahagia,” ujar Dwi dalam sebuah diskusi tentang pentingnya empati dalam desain.

Dwi menjelaskan bahwa untuk menciptakan desain yang efektif dan berkelanjutan, desainer perlu memahami kebutuhan dan keinginan pengguna.

 “Kita harus empati terhadap pengguna. Kita harus bertanya pada diri kita, apa yang sebenarnya mereka butuhkan? Jika kita hanya membuat desain untuk diri kita sendiri, maka desain tersebut tidak akan memberi manfaat bagi mereka,” tambahnya.

Menurut Dwi, setelah membangun empati, langkah selanjutnya adalah mendefinisikan kebutuhan pengguna secara spesifik.

“Kita perlu memahami masalah yang dihadapi pengguna sehingga mereka membutuhkan desain kita. Desain yang baik harus mampu mempermudah aktivitas sehari-hari mereka, memberikan kenyamanan, dan yang terpenting, membuat mereka merasa senang,” ungkapnya.

Sementara itu, Creative Director of VERSHOME Roni Timothy menyoroti pentingnya membangun kesadaran masyarakat mengenai keberlanjutan dalam desain interior. Roni menjelaskan bahwa VERSHOME berusaha menciptakan komunitas yang peduli terhadap isu-isu keberlanjutan melalui inovasi desain yang berkelanjutan.

“Nama ‘Laboratorium Library’ adalah representasi dari tujuan kami untuk meningkatkan kesadaran tentang keberlanjutan di masyarakat. Kami ingin agar lebih banyak orang memahami dan terlibat dalam gerakan ini,” ungkap Roni.

VERSHOME, selama lima tahun terakhir, berkomitmen untuk mengatasi masalah ini dengan mengurangi limbah dari setiap pameran yang mereka ikuti. “Kami berusaha untuk mengelola kembali barang-barang yang digunakan, sehingga dapat dipakai lagi di acara berikutnya. Kami tidak bisa menjamin 100% pengurangan limbah, tetapi kami berusaha mencapai hingga 80%,” ujar Roni.

Ketua Pelaksana M Bloc Design Week 2024 (MBDW 2024), Ferdinand, menegaskan bahwa tujuan utama dari acara ini adalah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya desain berkelanjutan serta memperkenalkan berbagai material alternatif yang dapat dihasilkan dari limbah, baik dalam bentuk bio-based maupun limbah industri.

“Harapan kami adalah agar masyarakat umum memahami betapa pentingnya desain yang berkelanjutan. Selain itu, kami ingin menunjukkan adanya material alternatif yang bisa digunakan dalam desain, yang berasal dari limbah,” ujar Ferdinand.

Ferdinand berharap bahwa melalui MBDW 2024, industri kreatif di Indonesia dapat lebih mendekati pencapaian SDGs. “Dengan mengenalkan material alternatif dan meningkatkan kesadaran, kita dapat berkontribusi pada pencapaian SDG. Ini adalah langkah penting bagi industri kita menuju masa depan yang lebih berkelanjutan,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *