Wisata Melihat Pembuatan Perahu Pinishi Ada di Tanah Beru, Sulsel
Berwisata memang tidak melulu berkunjung ke destinasi-destinasi yang menyuguhkan pemandangan alam dengan keindahan dan kecantikan yang ditawarkan, namun mendatangi lokasi-lokasi pembuatan kerajinan tangan juga termasuk salah satu cara berwisata yang tergolong dalam kategori wisata edukasi yang mana memberikan kita pemahaman tentang sebuah kegiatan yang tidak biasa. Salah satu contoh wisata edukasi tersebut adalah mengunjungi pusat kerajinan pembuatan Perahu Phinisi yang tepatnya berada di Tana Beru, Makassar.
Di samping menjelajah destinasi wisata di Kota Makassar, sebaiknya Anda juga menjadwalkan kunjungan ke lokasi ini. Karena selain menambah pengetahuan tentang pembuatan Perahu Phinisi, tentu hal ini menjadi pengalaman yang cukup unik dan menarik.
Sebagaimana kita ketahui bahwa Perahu Phinisi merupakan perahu layar khas tradisional yang berasal dari Suku Bugis yang berada di Kabupaten Bulukumba, Makassar, Sulawesi Selatan. Suku Bugis yang dikenal sebagai pelaut handal, di mana sangat piawai mengarungi lautan dan samudera luas hingga berbagai kawasan Nusantara maupun dunia. Dalam mengarungi samudera, Suku Bugis menggunakan perahu yang disebut Perahu Phinisi.
Dalam proses pembuatannya, Perahu Phinisi dilakukan secara tradisional dan menggunakan tangan. Menurut naskah lontarak I Babad La Lagaligo perahu Phinisi sudah ada sekitar abad ke-14, di mana dibuat oleh Sawerigading yang merupakan putra mahkota Kerajaan Luwu. Dikutip dari situs Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), bahan yang dipakai untuk membuat Perahu Phinisi diambil dari pohon welengreng (pohon dewata). Pohon welengreng dikenal sebagai pohon yang kokoh dan tidak mudah rapuh.
Sebelum pohon welengreng ditebang, terlebih dahulu akan dilakukan upacara khusus agar penunggu pohon bersedia pindah ke pohon lain. Sawerigading membuat perahu tersebut untuk berlayar menuju negeri China. Di mana Sawerigading ingin meminang salah satu putri bernama Putri We Cudai. Setelah beberapa lama tinggal di China, Sawerigading rindu dengan kampung halaman. Dengan menggunakan perahu yang dulu, Sawerigading berlayar ke Luwu.
Ketika perahu memasuki Pantai Luwu, tiba-tiba gelombang besar menghantam perahunya hingga pecah. Pecahan-pecahan perahunya terdampar ketiga tempat wilayah Kabupaten Bulukumba, yakni Kelurahan Ara, Tana Beru, dan Lemo-Lemo. Oleh masyarakat setempat, bagian-bagian perahu tersebut kemudian dirakit kembali menjadi sebuah perahu yang megah. Setelah jadi perahu tersebut dinamakan Perahu Phinisi.
Kerainan pembuatan Perahu Phinisi, berkembang hingga sekarang dan Kabupaten Bulukumba masih dikenal sebagai produsen Perahu Phinisi. Di sini para pengrajin tetap mempertahankan tradisi dalam pembuatan perahu, terutama di Kelurahan Tana Beru.
Ketika melihat secara langsung proses pembuatannya, Anda pasti akan berdecak kagum melihat kepiawaian para pengrajin dalam membuat Perahu Phinisi tersebut. Para pengrajin membuat perahu yang sangat kokoh dan megah tanpa menggunakan gambar atau kepustakaan tertulis.
Pada masa sekarang ini, Perahu Phinisi sudah banyak berubah fungsi yang dulunya sebagai kapal barang kini berubah menjadi kapal pesiar mewah komersial maupun ekspedisi yang dibiayai oleh investor lokal maupun asing.
Karena sudah difungsikan sebagai kapal pesiar dengan interior mewah, maka Perahu Phinisi saat ini juga semakin canggih dengan dilengkapi peralatan menyelam, permainan air untuk wisata bahari. Awak yang terlatih dan diperkuat juga dengan teknik modern.

