WMO: Dunia Terancam Pecahkan Rekor Suhu Panas Baru hingga 2030

0
f925faa1-011d-4e16-96e0-3ddc610cdcbc (1)(1)

Ilustrasi World Meteorological Organization (WMO) prediksi suhu panas tinggi akan terjadi pada lima tahun kedepan (Foto: Generated AI)

El John News-Laporan terbaru dari World Meteorological Organization (WMO) mengungkapkan bahwa suhu rata-rata global diperkirakan akan tetap berada pada level tertinggi dalam lima tahun mendatang. Kondisi ini mempertegas kekhawatiran dunia terhadap dampak perubahan iklim yang semakin nyata di berbagai kawasan.

Dalam laporan yang disusun bersama badan meteorologi Inggris, Met Office, disebutkan bahwa periode 2026 hingga 2030 berpotensi menjadi salah satu fase terpanas yang pernah tercatat dalam sejarah modern. Bahkan, kemungkinan besar salah satu tahun pada rentang waktu tersebut akan melampaui 2024 sebagai tahun terpanas di dunia.

WMO memperkirakan suhu rata-rata permukaan bumi selama 2026–2030 berada di kisaran 1,3 hingga 1,9 derajat Celsius di atas rata-rata era pra-industri atau periode 1850–1900. Peluang suhu global sementara melampaui ambang 1,5 derajat Celsius juga dinilai sangat tinggi.

“Peluang terjadinya pelampauan suhu 1,5 derajat Celsius kini semakin sering terjadi seiring meningkatnya suhu bumi secara global,” demikian isi laporan tersebut.

Fenomena pemanasan global diperkirakan semakin dipengaruhi oleh kemunculan El Niño yang diprediksi terjadi pada akhir 2026. Kondisi ini dapat memicu peningkatan suhu global yang lebih signifikan pada tahun berikutnya.

Penulis utama laporan, Leon Hermanson, mengatakan bahwa El Niño memiliki peran besar dalam memperkuat suhu panas global. “Adanya El Niño pada akhir 2026 meningkatkan kemungkinan tahun 2027 menjadi tahun dengan suhu tertinggi berikutnya,” ujarnya.

Selain suhu global yang terus meningkat, wilayah Arktik juga diperkirakan mengalami pemanasan lebih cepat dibanding rata-rata dunia. Kondisi tersebut dapat mempercepat pencairan es dan memengaruhi sistem iklim global secara luas.

Laporan ini disusun berdasarkan analisis dan prediksi dari 13 lembaga iklim internasional. Para ilmuwan menilai tingkat keakuratan prediksi cukup tinggi karena model iklim yang digunakan telah menunjukkan hasil yang konsisten dalam berbagai simulasi sebelumnya.

Meski peluang kenaikan suhu terus meningkat, WMO menegaskan bahwa target Perjanjian Paris belum sepenuhnya gagal. Ambang batas 1,5 derajat Celsius dalam perjanjian tersebut mengacu pada rata-rata pemanasan jangka panjang selama puluhan tahun, bukan hanya lonjakan suhu dalam satu tahun tertentu.

Namun demikian, meningkatnya frekuensi suhu panas ekstrem menjadi sinyal bahwa dunia perlu memperkuat upaya pengurangan emisi dan adaptasi terhadap perubahan iklim yang dampaknya semakin dirasakan di berbagai negara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *