Yayasan St. Yohanes Dorong Edukasi Medis dan Inovasi Robotik di Indonesia Untuk Penyakit Tulang Belakang

Yayasan St. Yohanes Mutiara Karawaci bekerja sama dengan Foshan Fosun Chanceng Hospital sukses menggelar seminar kesehatan bertajuk “Bergerak Bebas Hidup Seutuhnya” di Aston Hotel Kemayoran, Jakarta, pada Minggu, 2 November 2025. Kegiatan ini menghadirkan lebih dari 100 peserta, mulai dari tenaga medis hingga masyarakat umum yang ingin menambah wawasan terkait kesehatan tulang belakang dan sendi.
Seminar ini menghadirkan narasumber internasional dari Tiongkok, yakni Prof. Jiahua Chen dan Prof. Linjian Chen, yang memiliki pengalaman luas dalam pengobatan penyakit tulang belakang. Sorotan utama seminar adalah paparan mengenai operasi robotik, teknologi mutakhir yang memungkinkan prosedur bedah dilakukan dengan presisi tinggi dan risiko minimal.
Spesialis Koreksi Kelainan Tulang Belakang dan Penanganan Nyeri Kronis Prof. Jiahua Chen, prosedur bedah konvensional memiliki risiko lebih tinggi, waktu operasi lebih lama, dan potensi komplikasi yang lebih besar bagi pasien, berbeda dengan operasi menggunakan robotic.
“Untuk operasi tradisional, risiko dan dampak terhadap pasien jauh lebih besar. Dengan robotik, pasien tidak menghadapi banyak risiko, waktu operasi lebih cepat, dan penanganannya sangat terukur karena kami bisa mengevaluasi langkah-langkahnya secara real time. Setiap prosedur sudah bisa diprediksi dan dikontrol secara akurat,” ujarnya.


Sejak penerapan teknologi ini, Foshan Fosun Chanceng Hospital telah berhasil menangani ribuan kasus. Prof. Jiahua menjelaskan, “Sejak 2020, kami sudah melakukan lebih dari seribu operasi dengan robotik, dan sebagian besar pasien menunjukkan hasil yang sangat baik. Awalnya, memang ada penyesuaian dan proses adaptasi, tapi sekarang rumah sakit dapat menangani 4-5 operasi sehari secara efisien.”
Selain itu, waktu operasi yang diperlukan pun jauh lebih singkat dibandingkan prosedur konvensional. “Jika sebelumnya operasi tulang belakang memakan waktu minimal tiga jam atau lebih, sekarang cukup satu hingga satu setengah jam. Hal ini sangat menghemat waktu dan mengurangi risiko efek samping,” tambah Prof. Jiahua.
Keunggulan utama dari operasi robotik terletak pada tingkat akurasi yang tinggi. Dengan bantuan teknologi ini, dokter dapat memvisualisasikan setiap langkah operasi, menyesuaikan teknik sesuai kondisi pasien, dan mengevaluasi hasil secara langsung. Metode ini memungkinkan penanganan yang lebih presisi dan aman, serta memberikan prediksi hasil jangka panjang yang lebih dapat diandalkan.


Founder Yayasan St. Yohanes Mutiara Karawaci, Dr. Theresia Dimiyati L., SKIM., MM., Ph.D., mengatakan pemilihan Foshan Fosun Chanceng Hospital sebagai mitra bukanlah kebetulan, namun karena pelayanan dan teknologi pengobatannya yang luar biasa canggih.
“Saya sudah tiga kali berkunjung ke Foshan dan melihat langsung bagaimana pelayanan mereka berjalan. Rumah sakit ini sangat profesional dan fasilitasnya canggih. Saya ingin Indonesia belajar dari pengalaman mereka, terutama dalam hal alih teknologi medis,” ujarnya.
Menurut Dr. Theresia kolaborasi ini merupakan kesempatan luar biasa bagi tenaga medis dan masyarakat Indonesia. “Ini adalah kesempatan berharga. Kami bisa belajar langsung dari pengalaman mereka, mulai dari prosedur hingga penggunaan teknologi robotik dalam operasi tulang belakang dan lutut. Tidak semua rumah sakit di dunia mau berbagi ilmu seperti ini, apalagi secara cuma-cuma,” jelas Dr. Theresia.


Lebih lanjut, Dr. Theresia menjelaskan topik tulang belakang dipilih karena prevalensi masalah ini di Indonesia sangat tinggi, khususnya pada orang tua. Banyak pasien mencoba pengobatan di berbagai rumah sakit, namun hasilnya belum memuaskan.
“Saya melihat banyak pasien yang masih kesulitan mendapatkan penanganan yang efektif. Foshan memiliki banyak kasus yang berhasil ditangani, dan metode robotiknya terbukti efektif,” jelas Dr. Theresia.
Dengan keberhasilan acara ini, Dr. Theresia berharap kolaborasi antara Indonesia dan Foshan Fosun Chanceng Hospital dapat terus berlanjut, membuka lebih banyak peluang bagi tenaga medis Indonesia untuk belajar dan mengimplementasikan inovasi teknologi kesehatan terkini.


Seminar ini menegaskan komitmen Yayasan St. Yohanes Mutiara Karawaci untuk menghadirkan inovasi medis terkini bagi Indonesia, sekaligus meningkatkan kapasitas tenaga medis lokal melalui transfer ilmu dan teknologi yang efektif. Antusiasme peserta yang tinggi menjadi bukti bahwa kebutuhan akan teknologi medis canggih dan edukasi kesehatan yang tepat semakin dirasakan di Tanah Air.
