5 Tradisi Betawi Ciri khas Jakarta yang Unik dan Masih Dilestarikan Hingga Saat ini
Suku Betawi dikenal sebagai kelompok etnis yang berasal dari Batavia, kini Jakarta. Keberadaan mereka tidak hanya terpusat di Ibu Kota, tetapi juga tersebar di wilayah sekitar seperti Depok, Tangerang, dan Bekasi. Sejak pada abad ke-17, suku Betawi telah membentuk identitas budaya yang khas, salah satunya melalui tradisi yang masih lestari hingga sekarang. Berikut lima tradisi Betawi yang tetap hidup dan menjadi ciri khas budaya Jakarta yaitu;
1. Roti Buaya

Roti buaya merupakan simbol kesetiaan dalam pernikahan adat Betawi. Roti ini selalu hadir dalam prosesi seserahan, di mana ukuran besar melambangkan mempelai pria dan ukuran kecil mewakili mempelai perempuan. Selain menjadi simbol kemakmuran, roti buaya dahulu hanya dipajang, namun kini lebih sering dimakan agar tidak terbuang sia-sia.
2. Palang Pintu

Palang pintu adalah prosesi penyambutan mempelai pria dalam pernikahan Betawi. Dalam tradisi ini, perwakilan dari kedua mempelai berbalas pantun sambil menunjukkan kemampuan silat. Tradisi ini berasal dari kebiasaan masyarakat Betawi menjaga keamanan wilayahnya, dengan sosok jawara sebagai penjaga kehormatan.
3. Nyorog

Nyorog merupakan tradisi mengantarkan bingkisan makanan kepada sanak saudara menjelang bulan Ramadhan. Umumnya dilakukan oleh generasi muda kepada yang lebih tua, tradisi ini menjadi sarana mempererat tali silaturahmi dan menjaga kebersamaan antar keluarga.
4. Tanjidor

Tanjidor adalah kesenian musik khas Betawi yang dimainkan secara berkelompok menggunakan alat musik tiup dan perkusi. Musik tanjidor kerap tampil dalam acara pernikahan, arak-arakan, dan perayaan hari besar, meskipun kini semakin jarang dijumpai.
5. Ondel-ondel

Ondel-ondel adalah boneka raksasa yang identik dengan budaya Betawi dan menjadi simbol DKI Jakarta. Awalnya digunakan untuk mengusir roh jahat, kini ondel-ondel lebih sering tampil dalam pertunjukan seni dan menjadi ikon kebanggaan masyarakat Betawi.
Melestarikan tradisi Betawi adalah bagian dari menjaga kekayaan budaya bangsa. Kita semua dapat berperan, minimal dengan mengenal, mencintai, dan membagikannya kepada generasi selanjutnya.
Penulis: Aliya Lutfi Rakhmawati
