6 Jurus Insentif Padat Karya ala Kang Yoto

0

Pemerintah Kabupaten Bojonegoro menyambut dengan baik program Bojonegoro Investment Day. Tujuannya adalah untuk dapat menggaet investor menanamkan investasinya di Bojonegoro, Bupati Suyoto mengeluarkan 6 jurus insentif padat karya.

“Pemkab Bojonegoro memberikan insentif kepada usaha padat karya di kawasan pedesaan dengan tingkat kemiskinan tinggi,” kata Bupati Bojonegoro Suyoto saat menerima kunjungan 30 investor yang juga nasabah BNI di acara Bojonegoro Investment Day di Pendopo Pemkab Bojonegoro, Sabtu (28/5).

Ada 6 jurus insentif yang diperuntukan bagi investor dengan usaha padat karya yaitu, pertama, Pemberlakuan upah umum pedesaan (UPP) sebesar Rp 1.005.000. Jumlah upah tersebut lebih rendah dari upah minimum kabupaten (UMK) di Bojonegoro sebesar Rp 1.462.000.

Kedua, pengurusan perizinan oleh pemkab. “Investor datang, kita dari Pemkab yang mengurus perizinannya sampai selesai,” tuturnya.

Ketiga, penyediaan infrastruktur yang diperlukan. Keempat, biaya training tenaga kerja yang berasal dari penduduk sekitar. Kelima, diskon pajak lokal selama lima tahun. Keenam, menyiapkan data yang dibutuhkan oleh investor.

“Biaya training bagi tenaga kerja asal penduduk sekitar, akan ditanggung Pemkab,” jelasnya.

Bupati yang akrab disapa Kang Yoto ini mengatakan, kebijakan insentif investasi Pemkab Bojonegoro semakin terasa dampaknya pada pertumbuhan industri dan penyerapan tenaga kerja.

Jurus insentif tersebut juga dinilai ampuh menurunkan angka pengangguran dan kemiskinan.

“Kami tidak membuat pemetaan kawasan industri, karena di Bojonegoro tidak punya wilayah kelautan,” ujarnya.

Suyoto juga menerangkan, industri padat karya disebar di wilayah kantong-kantong kemiskinan, serta tanah yang kering. Dengan hadirnya industri, maka warga sekitarnya terserap menjadi tenaga kerja dan tidak menganggur. Angka kemiskinan menjadi menurun.

“Jadi program insentif ini menjadi jurus yang ampuh untuk menurunkan angka kemiskinan dan pengangguran,” terangnya.

Berdasarkan dari data tahun 2015, pertumbuhan ekonomi Bojonegoro dengan migas tumbuh 19,43% dan indeks rasio 0,24%.

“Itu menunjukkan tingkat pertumbuhan ekonomi yang berkualitas tanpa menimbulkan kesenjangan yang meninggi,” tuturnya sambil menjelaskan, World Bank mencatat Kabupaten Bojonegoro termasuk 10 kabupaten di Jawa Timur yang berhasil cepat menurunkan angka kemiskinan dari 28,31 persen pada tahun 2008 menjadi 13,98 persen di tahun 2015.

Kang Yoto pun menilai, program Bojonegoro Investment Day di Bojonegoro sangat baik sekali dampaknya karena mampu mempertemukan para investor serta pengusaha dari berbagai bidang bertemu, berkeliling lapangan ke berbagai kawasan pedesaan bersama-sama.

“Bojonegoro Investment Day cukup bagus dan baru pertama kali di Indonesia. Ini sudah klop. Investor hadir dan ingin menanamkan investasinya, pemkab siap memberikan pelayanan. Sedangkan BNI juga siap memberikan pinjaman,” tandasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *