Knock King 9 Tembus Pasar Amerika Serikat Lewat Trial Order Kedua
Fptp bersama sebelum Knock King 9 dikirim ke pasar Amerika Serikat (Foto: Untar)
El John News, Jakarta-Desain furnitur rotan Indonesia kembali menunjukkan daya saingnya di pasar internasional. Produk kursi rotan bongkar pasang atau knock-down generasi terbaru bernama Knock King 9 (Tipe KDC-9909) berhasil memasuki pasar Amerika Serikat melalui skema trial order atau pesanan uji coba kedua.
Pencapaian tersebut menjadi tonggak penting bagi pengembangan furnitur rotan nasional setelah sebelumnya produk Rosa Rasa Stacking Chair juga menjalani pengujian pasar serupa. Kehadiran Knock King 9 di Amerika Serikat melalui buyer furnitur ternama, Safavieh Furniture, dinilai menjadi indikator kuat bahwa kualitas desain dan produksi furnitur Indonesia semakin diterima di pasar global.
Knock King 9 merupakan hasil karya Dr. Eddy Supriyatna Marizar dari Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Universitas Tarumanagara (UNTAR) Jakarta. Produk ini lahir melalui proses penelitian dan pengembangan yang berlangsung selama bertahun-tahun dengan berbagai penyempurnaan desain guna memenuhi kebutuhan pasar internasional.
Pengembangan kursi tersebut didukung pendanaan Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan (RISBANG) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Tarumanagara yang dipimpin Dr. Hetty Karunia Tunjungsari. Riset terapan telah dimulai sejak periode 2017–2018 dan terus dikembangkan melalui berbagai uji pasar pada ajang Indonesia International Furniture Expo (IFEX) serta Trade Expo Indonesia (TEI).
Eddy mengatakan di dalam konteks riset terapan, desain dapat digunakan sebagai alat untuk menciptakan nilai daya saing yang dapat diwujudkan secara nyata untuk membuka peluang pasar baru di ranah global. Penetrasi ke pasar Amerika Serikat melalui trial order kedua ini menjadi bukti nyata bahwa riset akademik mampu menjawab kebutuhan industri global.
“Desain kursi Knock King 9 ini telah melewati penyempurnaan visual maupun struktural yang berulang kali guna memastikan produk ini memenuhi regulasi ketat, efisiensi logistik pengiriman, dan standar ergonomi pasar internasional,” sambungnya.

Menurut Eddy, keberhasilan pengembangan produk tersebut juga melibatkan sejumlah peneliti muda dan mahasiswa FSRD UNTAR. Selain itu, tim riset memperoleh dukungan dari para praktisi yang berpengalaman di bidang pemasaran ekspor, produksi furnitur rotan, hingga hak kekayaan intelektual desain industri.
“Riset terapan ini melibatkan peneliti muda, Mariana, Ferdinand, dan mahasiswa FSRD Untar, juga didukung tim narasumber sebagai pendamping: Tenggono Ch. Phoa yang berpengalaman sebagai praktisi ahli pemasaran ekspor Amerika, Djaso Saputra sebagai praktisi ahli produksi furniture rotan, Andy Mawardi, ahli pemeriksa HKI Desain Industri. Mereka adalah mitra diskusi yang handal,” ungkap Eddy.
Keberhasilan menembus pasar Amerika Serikat turut mendapat apresiasi dari Dekan FSRD UNTAR, Dr. Maitri Widya Mutiara. Ia menilai capaian tersebut menjadi bukti bahwa hasil penelitian di perguruan tinggi dapat memberikan dampak nyata bagi dunia industri dan perekonomian.
“FSRD UNTAR berkomitmen penuh mendukung iklim inovasi dalam desain berbasis riset. Keberhasilan ekspor Knock King 9 membuktikan bahwa karya akademisi kita tidak hanya berhenti di atas kertas atau ruang laboratorium, tetapi mampu menembus pasar komersial global yang sangat kompetitif, selaras dengan jiwa creativepreneurship,” ungkapnya.
Dari sisi metodologi dan keberlanjutan penelitian, pengembangan Knock King 9 juga mendapat pendampingan dari Prof. Dr. A. Purna Irawan dan Jap Tji Beng, Ph.D. Keduanya menilai proyek tersebut sebagai contoh nyata keberhasilan hilirisasi riset kampus yang mampu menghasilkan produk bernilai ekonomi tinggi.
“Inovasi dalam konteks desain ini adalah contoh ideal dari hilirisasi riset terapan yang konsisten. Dari pengajuan dana DIKTI/BRIN tahun 2017 (kini RISBANG, 2026), hingga uji pasar beberapa tahun di IFEX dan TEI, seluruh tahapan diukur dengan indikator performa yang ketat. Ini menjadi cetak biru (blueprint) bagaimana riset kampus dikelola hingga menghasilkan produk ekspor bernilai ekonomi tinggi,” jelas Purna Irawan.

Sementara itu, proses produksi dan komersialisasi Knock King 9 dilakukan bersama mitra industri, CV. Blotan Asian Art yang berkantor pusat di Yogyakarta dengan fasilitas produksi di Cirebon. Perusahaan tersebut optimistis produk ini memiliki prospek cerah di pasar internasional.
“Kami melihat potensi besar pada Knock King 9 sejak awal. Kolaborasi bersama FSRD UNTAR ini memungkinkan kami memproduksi kursi rotan bernilai estetika tinggi khas Indonesia, namun dengan sistem knock-down yang sangat efisien untuk pengapalan kontainer ke Amerika Serikat. Trial order kedua dari buyers terkemuka ini menjadi sinyal hijau bahwa pasar Amerika siap menyerap produk ini dalam skala yang lebih besar,” papar Heru Prasetyo dan Ina Tatia dalam pernyataan bersama.
Keberhasilan Knock King 9 diharapkan menjadi inspirasi bagi dunia akademik dan industri nasional untuk terus memperkuat kolaborasi berbasis riset. Dengan dukungan pemerintah, inovasi desain dan pengembangan produk lokal diyakini mampu membuka peluang ekspor yang lebih luas sekaligus meningkatkan daya saing furnitur Indonesia di pasar global.
