62 Persen Bus Wisata Tak Layak Jalan, MTI Angkat Suara
Dewan Penasehat MTI Djoko Setijowarno sedang menjadi pembicara dalam program Prime Report yang ditayangkan EL JOHN TV (Foto: tangkapan layar Youtube EL JOHN TV)
El John News, Jakarta-Dewan Penasehat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Djoko Setijowarno, menyoroti berbagai persoalan dalam penyelenggaraan mudik Lebaran 2026, khususnya terkait transportasi wisata yang dinilai masih jauh dari standar keselamatan.
Djoko menyampaikan, lonjakan perjalanan ke destinasi wisata selama mudik belum diimbangi dengan pengawasan yang memadai. Salah satu masalah utama adalah masih banyaknya angkutan wisata yang tidak memenuhi standar operasional, termasuk tidak melalui uji kelaikan kendaraan atau ramp check (RAM check).
“RAM check ini tampaknya hanya dilakukan di terminal utama, sementara di terminal daerah masih banyak yang lolos tanpa pemeriksaan,” ujarnya saat menjadi narasumber dalam program Prime Report yang ditayangkan EL JOHN TV, Rabu (25/3/2026)
Menurutnya, kondisi ini diperparah oleh keterbatasan anggaran pengawasan. Ia menilai, pemangkasan anggaran berdampak langsung pada minimnya inspeksi kendaraan di lapangan.
“Untuk melakukan pengawasan itu butuh anggaran. Namun yang terjadi justru dipangkas. Ini tentu berdampak pada keselamatan”
Berdasarkan temuan MTI, sekitar 62 persen angkutan wisata pada periode mudik 2026 dinyatakan tidak layak jalan. Hal ini menjadi peringatan serius bagi pemerintah untuk meningkatkan pengawasan di sektor transportasi wisata.
Dorong Sistem Shuttle dan Buffer Zone
Selain aspek keselamatan, Djoko juga menyoroti kemacetan parah di sejumlah destinasi wisata. Ia mendorong pemerintah daerah untuk menerapkan sistem buffer zone atau zona penyangga.
Konsep ini memungkinkan kendaraan pribadi parkir di area tertentu, kemudian wisatawan diangkut menggunakan transportasi umum menuju lokasi wisata.
“Dengan sistem ini, kemacetan bisa dikurangi dan daerah juga mendapat manfaat ekonomi dari layanan transportasi tersebut,” jelasnya.
Soroti Kesejahteraan Sopir
MTI juga menyoroti kondisi pengemudi bus wisata yang dinilai memprihatinkan. Banyak sopir yang dipaksa bekerja melebihi batas waktu tanpa istirahat yang layak.
Djoko mengungkapkan, masih ditemukan sopir yang hanya satu orang dalam satu bus dan harus bekerja lebih dari delapan jam. Bahkan, ada yang beristirahat di bagasi kendaraan.
“Seharusnya satu bus minimal dua pengemudi. Selain itu, perlu disediakan tempat istirahat yang layak di kawasan wisata”
Ia menambahkan, kelelahan pengemudi berpotensi besar menyebabkan kecelakaan, terutama pada siang hari saat kondisi fisik mulai menurun.
Evaluasi dan Rekomendasi Mudik 2027
Untuk mudik 2027, MTI memberikan sejumlah rekomendasi strategis. Salah satunya adalah penanganan khusus di wilayah seperti Bali dengan menyediakan program mudik gratis ke daerah asal di Jawa Timur guna mengurangi kepadatan.
Selain itu, Djoko menilai pengelolaan arus di Pelabuhan Merak sudah cukup baik, namun masih perlu optimalisasi pada waktu-waktu tertentu, khususnya untuk distribusi angkutan barang di pagi hari.
Di Sumatera, ia mendorong percepatan operasional jalan tol, setidaknya secara fungsional, guna mengurai kemacetan di jalur lintas timur.
Sementara di Pulau Jawa, fokus utama ke depan adalah peningkatan keselamatan, termasuk optimalisasi rest area di jalur arteri dan penguatan angkutan umum hingga ke wilayah perdesaan.
“Penggunaan sepeda motor untuk mudik, terutama yang membawa lebih dari dua orang, harus mulai dikurangi. Ini penting untuk meningkatkan keselamatan,” pungkasnya.
