Industri Perhotelan di Sulsel Cenderung Terpuruk
Okupansi hotel di Sulawesi Selatan pada triwulan I 2019 masih belum menggembirakan. Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sulsel mencatat tingkat hunian hanya berkisar antara 40-45%.
Ketua PHRI Sulsel, Anggiat Sinaga menyatakan hal itu dipicu oleh sejumlah faktor yang membuat masyarakat cenderung malas melakukan aktivitas di hotel, baik itu dalam rangka pekerjaan maupun menghabiskan waktu bersama keluarga.
“Di awal tahun okupansi hotel memang cenderung lambat, sebab kegiatan masih sepi. Secara otomatis itu berdampak pada tingkat hunian,” kata Anggiat Sinaga.
Salah satu faktor yang paling mempengaruhi turunnya pertumbuhan industri perhotelan adalah naiknya harga tiket pesawat.
Kondisi itu kata Anggiat, semakin menyempurnakan keterpurukan industri perhotelan di Sulsel. Apalagi, prospek industri perhotelan di Sulsel yakni 60% adalah MICE (meeting, incentives, conference, and exhibition).
Faktor lain, lanjut Anggiat yakni dipengaruhi dengan tahun politik, di mana pada 2019 ini pesta demokrasi dilakukan secara serentak atas pemilihan presiden dan pemilihan legislatif.
Dia menyebut fokus pemerintah pada pilpres dan pileg memberi dampak tersendiri bagi industri perhotelan.
