Menteri Widiyanti: 2025 Tahun Penuh Ujian bagi Perhotelan
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana sampaikan kata sambuatan dalam Rapat Kerja Nasional PHRI, di Semarang, 10 Februari 2026 (Foto: Birkom Kemenpar)
El John News-Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana mengungkapkan bahwa industri perhotelan sempat mengalami tekanan cukup berat pada awal 2025. Tingkat hunian kamar hotel bahkan menyentuh titik terendah dalam beberapa tahun terakhir, terutama pada kuartal pertama.
“Seiring perubahan pola belanja pemerintah dan masyarakat di awal tahun,” ujar Widiyanti dalam Rapat Kerja Nasional PHRI, Selasa (10/2/2026).
Menurutnya, perubahan struktur pengeluaran baik dari sisi pemerintah maupun konsumsi masyarakat turut memengaruhi permintaan terhadap layanan akomodasi. Data Kementerian Pariwisata menunjukkan rata-rata tingkat okupansi hotel sepanjang 2025 tercatat lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya.
“Kilas balik dalam hal tingkat okupansi hotel, tahun 2025 menjadi tahun yang cukup berat bagi pelaku usaha perhotelan. Secara rata-rata, tingkat okupansi tercapai lebih rendah 3,27 poin persentase dibandingkan tahun sebelumnya, terutama karena penurunan signifikan pada awal tahun 2025”
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana
Tekanan terdalam terjadi pada Maret 2025. Pada bulan tersebut, tingkat keterisian kamar hanya mencapai 33,56 persen, atau turun 9,58 poin persentase dibandingkan periode yang sama tahun 2024.
“Tingkat okupansi terendah terjadi pada bulan Maret 2025 yakni sebesar 33,56 persen atau lebih rendah 9,58 poin persentase dibandingkan Maret 2024. Kondisi ini juga dipengaruhi oleh perubahan pola belanja pemerintah dan masyarakat pada awal tahun. Pada saat ini, ekonomi kita juga tumbuh rendah sebesar 4,87 persen,” paparnya.
Meski menghadapi situasi yang tidak mudah, Widiyanti menilai pelaku industri mampu menunjukkan daya tahan. Secara bertahap, tren hunian kamar mulai membaik hingga akhir tahun.
“Meskipun demikian, industri ini terus menunjukkan ketangguhan dan kemampuan untuk bangkit kembali. Pelaku usaha perhotelan tetap resilient, tercermin dari tren peningkatan okupansi yang berlangsung secara bertahap. Pada Desember 2025, tingkat okupansi mencapai 56,12 persen, pencapaian tertinggi sepanjang tahun,” ungkapnya.
Selain perbaikan tingkat hunian, sektor akomodasi nasional juga mencatat pertumbuhan jumlah unit usaha. Secara nasional, jumlah akomodasi meningkat 4,49 persen, meskipun di beberapa provinsi terjadi penurunan.
Widiyanti menilai hal ini menjadi sinyal bahwa minat investasi di sektor pariwisata masih terjaga, sekaligus menunjukkan kontribusi hotel dan restoran tetap penting dalam mendukung aktivitas ekonomi daerah.
