PHRI Prediksi Okupansi Hotel 2026 Melemah, Apa Penyebabnya?
El John News-Prospek industri hotel dan restoran pada 2026 diperkirakan masih menghadapi tantangan serius. Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) menilai tekanan terbesar akan dirasakan sektor perhotelan, terutama dari sisi permintaan yang berpotensi menurun.
Ketua Umum PHRI Hariyadi Sukamdani mengatakan, kondisi tahun ini dinilai lebih rentan dibandingkan 2025, khususnya akibat kebijakan pengalihan alokasi anggaran pemerintah. Belanja perjalanan dinas dan kegiatan instansi yang selama ini banyak memanfaatkan fasilitas hotel mengalami perubahan prioritas.
“Jadi yang jelas di 2026 ini kalau kita bicara khususnya sektor hotel, agak rawan, agak rawan dari sisi okupansi,” ujar Hariyadi dalam Konferensi Pers Rakernas PHRI I 2026, Selasa (10/2/2026).
Menurutnya, segmen meeting, incentive, convention, and exhibition (MICE) serta kegiatan pemerintah selama ini menjadi salah satu penopang utama okupansi, terutama bagi hotel bintang menengah. Kontribusi permintaan dari sektor pemerintah bahkan bisa mencapai sekitar 40 persen.
“Karena pemerintah melakukan efisiensi anggaran yang lebih luas. Lebih luas maksudnya bukan efisiensi sebetulnya, tapi pengalihan alokasi anggaran. Jadi yang tadinya untuk anggaran perjalanan dinas, akomodasi, itu dipindahkan ke alokasi yang lain,” jelasnya.
Selain faktor kebijakan fiskal, sektor perhotelan dan restoran juga dibayangi ketidakpastian global. Risiko wabah penyakit hingga perlambatan ekonomi dunia dinilai sebagai ancaman eksternal yang sulit diprediksi.
Hariyadi menegaskan, pengalaman pandemi sebelumnya menunjukkan industri pariwisata menjadi sektor yang paling cepat terdampak ketika terjadi krisis kesehatan global.
Di sisi lain, tekanan juga datang dari kenaikan biaya operasional. Peningkatan tarif utilitas, kenaikan upah minimum, hingga beban pajak membuat biaya usaha terus meningkat di tengah permintaan yang belum sepenuhnya pulih.
Untuk merespons kondisi tersebut, PHRI mendorong pelaku usaha memperluas pasar, khususnya dengan menyasar wisatawan domestik dan mancanegara.
“Untuk mengatasi itu, maka kami melakukan upaya untuk mencari pasar-pasar baru. Dengan teman-teman airlines, dengan teman-teman tour operator dan destinasi, itu adalah salah satunya kita menggarap pasar-pasar yang terkait dengan wisatawan,” kata Hariyadi.
Selain ekspansi pasar, efisiensi operasional juga menjadi strategi utama agar bisnis tetap bertahan. PHRI memperkirakan, jika pengalihan anggaran pemerintah terus berlanjut, capaian sektor hotel pada 2026 berpotensi lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya.
“Kondisinya untuk 2026 ini, pastinya kalau pemindahan alokasi anggaran terjadi, pastinya di 2026 akan lebih rendah daripada 2025,” pungkasnya.
