N250 Gatot Kaca, Karya Emas BJ Habibie Untuk Kedirgantaraan Indonesia

0
habibie-n250-1

Presiden RI ke-3 Bacharuddin Jusuf Habibie atau yang dikenal BJ. Habibie telah berpulang ke Maha Kuasa pada usia ke-83 tahun. Bapak teknologi itu menghembuskan nafas terakhir pada pukul 18.05 WIB, Rabu (11/9/2019) di Rumah Sakit  Pusat Angkatan Darat (RSPAD), Jakarta.

Kepergian Habibie untuk selama-lamanya membuat bangsa Indonesia berduka, pasalnya tidak sedikit sumbangsih Habibie kepada negara, salah satunya adalah pesawat N-250  Gatot Kaca.

Pesawat ini merupakan  pesawat pertama Indonesia dan menjadi karya emas Habibie.Keberhasilan Habibie membuat pesawat N-250  telah membuktikan kepada dunia bahwa Indonesia sanggup membuat pesawat terbang.

Ilmu membuat pesawat, ia dapatkan saat kuliah di Universitas Teknologi Rhein Westfalen (RWTH) Aachen, Jerman, tahun 1955.Habibie salah satu mahasiswa yang berprestasi. Pada tahun 1960, ia meraih gelar diploma dengan predikat cumlaude. Lima tahun berselang tepatnya pada 1965, Habibie menyabet gelar doktor dengan predikat summa cumlaude. Rata-rata nilainya 10 alias sempurna. Sungguh pencapaian yang tak semua orang bisa meraihnya. Habibie pernah dijuluki Mr. Crack karena menemukan Proggresion Crack Theory yang akhirnya dikenal dengan istilah Habibie Theory.

Pesawat N250 Gatotkaca merupakan jenis pesawat baling-baling dengan rute penerbangan perintis yang memiliki kpasitas 50-70 penumpang.Desain awal pesawat ini membutuhkan waktu 5 tahun untuk penyelesaiannya. Berkat kerja keras Habibi,  pesawat ini jadi satu-satunya pesawat turbopop di dunia yang menggunakan teknologi Fly by Wire.

Bahkan, N250 Gatot Kaca sudah terbang selama 900 jam dan akan masuk program sertifikasi FAA (Federal Aviation Administration). Karena pesawat inilah, Habibie dipercayakan Presiden Soeharto menjabat sebagai Menteri Riset dan Teknologi (Menristek)

Ketika menjabat Menristek, salah satu gebrakannya adalah “Visi Indonesia” yang bertumpu pada riset dan teknologi, khususnya pula dalam industri strategis yang dikelola oleh PT. IPTN, PINDAD, dan PT. PAL. Targetnya, ketika itu, Indonesia sebagai negara agraris dapat melompat langsung menjadi negara Industri dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Puncak karier Habibie berlangsung pada tahun 1998, ketika diangkat sebagai Presiden Republik Indonesia (21 Mei 1998 – 20 Oktober 1999). Dibawah kepemimpinannya, transisi reformasi Indonesia berjalan dengan baik yang ditandai tumbuhnya demokrasi di Indonesia.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *