FBTB

Festival Budaya Tua Buton akhirnya benar-benar mencapai puncaknya pada Rabu (24/8) kemarin. Tidak tanggung-tanggung ada sekitar 10 Ribu penari tumpah ruah dengan berbagai macam kostum, tarian dan atraksi-atraksi yang luar biasa.

Atas undangan Kementerian Pariwisata Republik Indonesia dan Pemerintah Kabupaten Buton, beberapa wartawan berangkat dari Jakarta dan ikut pula merasakan kemeriahan dari Festival Budaya Tua yang berlangsung di Alun-Alun Takawa Pasarwajo, Buton, Sulawesi Tenggara. Sekitar ribuan pengunjung hadir pula memadati festival yang sudah berlangsung untuk kali ke-4 ini.

“Diharapkan festival ini menarik wisatawan dalam dan mancanegara, untuk melihat budaya kita. Juga sebagai bukti bahwa kita (Buton) menjaga dan melestarikan budaya,” ujar Bupati Buton, Samsu Umar Abdul Samiun dalam sambutannya.

Acara Festival Budaya Tua Buton pun dimulai dengan tradisi sunatan tradisional bernama Tandaki. Sebagai informasi saja, tradisi sunatan ini ternyata sudah dilakukan sejak ribuan tahun silam bahkan konon kabarnya sudah ada sebelum Islam masuk ke Buton. Di zaman dulu pelaksanaan sunatan ini masih pakai bambu, tapi sekarang ini sudah memakai tenaga medis yang profesional. Jumlah peserta Tandaki ini terhitung ada sekitar 500 anak-anak.

Selanjutnya keseruan dari Festival Budaya Tua Buton berlanjut dengan tradisi lainnya yaitu acara Kandea-Kandea, tradisi ini merupakan kegiatan makan bersama-sama. Tempat makannya pun unik, namanya Talang yang berupa nampan berkaki.

Paling menarik lagi adalah Tari Lumense. Tarian ini bermakna pengusiran mahluk halus yang dilakukan dengan menebas pohon pisang. Tari Potimbe pun seru dilihat, karena inilah tarian perang dengan pedang dan tombak yang besar-besar.

“Festival ini sangat menarik, bikin saya merinding,” tutup Sekretaris Kementerian Pariwisata Republik Indonesia, Ukus Kuswara yang turut hadir di Festival Budaya Tua Buton ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *