Industri Sawit Pegang Peranan Untuk Optimalkan Diplomasi Ekonomi

0
akurat_20180703095551_Fc3OcG

Menteri Pertanian RI 2000 – 2004 Prof. Dr. Bungaran Saragih mengatakan industry sawit memiliki peran penting dalam membantu pemerintah melakukan diplomasi ekonomi. Bahkan industri mencatatkan sejarah panjang dalam memuluskan upaya diplomasi tersebut.

Sebelumnya industri sawit pernah berada di posisi terendah namun bangkit dan sekarang berada di posisi kedua dalam industri sawit dunia. Namun, diplomasi ekonomi dalam industri sawit semakin baik sehingga pada tahun 2006 Indonesia menempati peringkat satu dalam industri sawit.

Karena keberadaan  industri sawit, diplomasi ekonomi Indonesia semakin baik dan pada tahun 2006, Indonesia menempati  peringkat satu dalam industri sawit.

“Bahwa diplomasi ekonomi sudah cukup baik dan efektif bahkan bisa menjadi contoh bagi industri pertanian lainnya,” terang Guru Besar IPB ini  saat membuka diskusi panel 1, bertajuk Diplomasi.  Diskusi yang dimoderatori  Ir. Gamal Nasir, MS, Dirjen Perkebunan RI 2010-2016 ini merupakan rangkaian kegiatan  dari n Forum “JCG C.A.L.M yang disiarkan langsung oleh EL JOHN TV,  Selasa (2/2/2021).

Hal senada juga disampaikan,  Joko Supriyono selaku Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia. Ia mengatakan  sustainability perlu dijadikan sebagai tema diplomasi ekonomi industri sawit.

“Tiga strategi yang bisa diterapkan dalam diplomasi ekonomi industri sawit, yaitu: promotion, trade negotiation dan diplomasi ekonomi,” ucapnya saat menyampaikan materi dalam diskusi panel 1 ini.

Sementara itu materi yang lain yang disampaikan Ketua Umum Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia M. P Tumanggor menyampaikan kesuksesan diplomasi ekonomi industri sawit dapat berhasil jika ada kerjasama antara pemerintah dan pihak pengusaha. “Selain itu, campaign industri sawit juga perlu dilakukan di dalam negeri,” ujarnya.

Materi terakhir dalam diskusi panel 1 ini disampaikan oleh Deputy Executive Director Council of Palm Oil Producing Countries Dupito D. Simamora. Ia mengungkapkan Indonesia harus bisa menyesuaikan diri untuk mengoptimalkan diplomasi melalui industry sawit.

“Perlu adanya penyesuaian apabila Indonesia ingin melakukan diplomasi ekonomi industri sawit ke luar negeri, karena setiap negara memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Selain perlu kehadiran CPOPC (Council of Palm Oil Producing Countries) untuk melakukan positive campaign, pentingnya peran smallholders, memperluas membership dan melkukan pendekatan dengan cara yang baru,” ungkapnya.

Kesimpulan dalam diskusi ini, yakni bahwa industri sawit merupakan salah satu industri unggulan yang dimiliki oleh Indonesia, perlu peningkatan diplomasi ekonomi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *