Presiden Jokowi Groundbreaking Proyek Hilirisasi Batu Bara Jadi DME

0
Screen-Shot-2022-01-24-at-11.09.28

Proyek hilirisasi batu bara menjadi dimetil eter (DME) yang terletak di Kabupaten Muara Enim, Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) resmi dimulai. Dimulainya proyek ini ditandai dengan peletakan batu pertama atau groundbreaking oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) di lokasi pembangunan proyek.

Presiden mengucapkan syukur akhirnya pembangunan Proyek hilirisasi batu bara menjadi dimetil eter (DME) dapat terlaksana.  “Ini sudah enam tahun yang lalu saya perintah. Meskipun dalam jangka yang panjang belum bisa dimulai, alhamdulillah hari ini bisa kita mulai groundbreaking proyek hilirisasi batu bara menjadi DME,” sambung Presiden dalam sambutannya.

Presiden  mengatakan, tidak hanya memberikan nilai tambah, hilirisasi ini juga dapat menekan impor, seperti impor LPG. Menurut Presiden, impor LPG saat ini nilainya terlalu tinggi yakni sekitar Rp80 triliun dari total kebutuhan yang mencapai sekitar Rp100 triliun per tahun. Dengan adanya hilirisasi ini, diharapkan impor proyek LPG dapat diperkecil.

Selain itu, dengan gencarnya impor, pemerintah harus mengeluarkan subsidi sebesar rp60 s/d 700 triliun, agar harga LPG dapat terjangkau untuk konsumsi rumah tangga, namun jika ada hilirasi maka subsidi akan ditiadakan dan masyarakat dapat membeli LPG dengan harga lebih terjangkau.

“Pertanyaan saya, apakah ini mau kita terus-teruskan? Impor terus? Yang untung negara lain, yang terbuka lapangan pekerjaan juga di negara lain, padahal kita memiliki bahan bakunya, kita memiliki raw material-nya, yaitu batu bara yang diubah menjadi DME,” ujarnya.

Presiden mengungkapkan, jika hilirisasi batu bara menjadi DME yang merupakan proyek kerja sama antara PT Bukit Asam, Tbk, PT Pertamina, dan Air Products and Chemicals ini mulai berproduksi nantinya, maka akan mengurangi subsidi dari APBN sekitar Rp7 triliun.

“Kalau semua LPG nanti disetop dan semuanya pindah ke DME, duit yang gede sekali Rp60-70 triliun itu akan bisa dikurangi subsidinya dari APBN. Ini yang terus kita kejar,” imbuhnya.

Jika impor dapat terus dikurangi, ujar Presiden,  maka akan dapat sekaligus memperbaiki neraca perdagangan dan neraca transaksi berjalan. Tak hanya itu, hilirisasi industri ini juga dapat membuka lapangan kerja.

“Kita ini sudah berpuluh-puluh tahun nyaman dengan impor, ada yang nyaman dengan impor. Memang duduk di zona nyaman itu paling enak, sudah rutinitas terus impor, impor, impor, impor, impor, enggak berpikir bahwa negara itu dirugikan, rakyat dirugikan karena enggak terbuka lapangan pekerjaan,” ujarnya.

Berdasarkan laporan dari Menteri Investasi/Kepala BPKM Bahlil Lahadalia. proyek hilirisasi ini akan membuka lapangan pekerjaan sekitar 12-13 ribu dari konstruksi yang dilakukan oleh Air Products and Chemicals serta sekitar 11-12 ribu untuk yang dilakukan di hilir oleh Pertamina.

“Kalau ada lima investasi seperti yang ada dihadapan kita ini, 70 ribu lapangan pekerjaan akan tercipta. Itu yang langsung, yang tidak langsung biasanya dua sampai tiga kali lipat. Inilah kenapa saya ikuti terus, saya kejar terus,” ujarnya.

Presiden pun mengungkapkan bahwa ia telah meminta semua jajaran terkait untuk menyelesaikan proyek ini sesuai dengan target yang ditetapkan, yaitu kurang dari tiga tahun. (Sumber Setkab)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *