Menpar Sebut Industri di Indonesia Nanti Hanya Ada Dua Yakni Industri Pariwisata dan Non Pariwisata
Menteri Pariwisata Arief Yahya benar-benar membangun semangat peserta Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Kepariwisataan ke-II tahun 2017, di Hotel Bidakara, Jakarta, yang digelar pada hari Jumat hingga Kamis, 18-19 Mei 2017. Pernyataan Menpar membuat keoptimisan para peserta Rakornas memuncak. Pernyataan Menpar itu yakni Pariwisata akan menjadi penghasil devisa terbesar untuk negara pada tahun 2020 mendatang. Bahkan nantinya Industri di Indonesia hanya ada dua kategori yakni Industri Pariwisata dan non Pariwisata. Pernyataan menpar itu disambut tepuk tangan yang meriah dari peserta rakornas yang hadir. Bahkan diantara peserta ada yang berteriak “hidup Menpar”.
“Tahun 2020 pariwisata akan menjadi penghasil devisa terbesar. Jadi saya sering bicara bahwa sekarang sampai dengan hari ini klo kita bicara tentang devisa dibagi dengan migas dan non migas, nanti kedepan hanya ada dua kategori yakni industry pariwisata dan industry non pariwisata,” tegas Menpar saat memberikan paparan dalam Rakornas.
Pernyataan Menpar ini bukan tanpa bukti. Bukti yang dipaparkan singkat oleh Menpar yakni bahwa produk domestik bruto (PDB) yang dihasilkan pariwisata telah mengantarkan pariwisata di posisi pertama ditingkat pertumbuhan, meskipun untuk devisa pariwisata masih bertengger di posisi ke empat.
“Untuk Indonesia pariwisata itu penghasil PDB pertumbuhan ekonomi, devisa dan tenaga kerja yang paling mudah dan paling jadi kita tahun PDB kita tertinggi di ASEAN nominalnya impactnya sangat besar kepada masyarakat dan devisa kita nomor 4 tapi pertumbuhannya nomor 1,” ujar Menpar.
Seperti diberitakan sebelumnya bahwa program pemerintah dalam pembangunan lima tahun ke depan akan fokus pada lima sektor yakni sektor infrastruktur, maritim, energi, pangan, dan pariwisata. Penetapan kelima sektor ini dengan pertimbangan signifikansi perannya dalam jangka pendek, menengah, maupun panjang terhadap pembangunan nasional.
Dari lima sektor tersebut, pariwisata ditetapkan sebagai leading sector karena dalam jangka pendek, menengah, dan panjang pertumbuhannya positif. Hal ini terlihat peran pariwisata dunia dalam memberikan berkontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) global mencapai 9,8 %; kontribusi terhadap total ekspor dunia sebesar US$ 7,58 triliun dan foreign exchange earning sektor pariwisata tumbuh 25,1 %; serta pariwisata membuka lapangan kerja yang luas yakni 1 dari 11 lapangan kerja ada di sektor pariwisata.
Presiden Joko Widodo menargetkan pertumbuhan pariwisata nasional dua kali lipat pada 2019; memberikan kontribusi pada PDB nasional sebesar 8 %, devisa yang dihasilkan Rp280 triliun. Lalu menciptakan lapangan kerja di bidang pariwisata sebanyak 13 juta orang, jumlah kunjungan wisman 20 juta. Wisnusnya, 275 juta, dan indeks daya saing pariwisata Indonesia berada di ranking 30 dunia.