Boyke Yanus Anshory Resmi Sandang Gelar Doktor, Hadirkan Terobosan Bagi Industri Rotan Nasional

0
740ef15e-8332-4ced-b50f-246a0bb9b00c.png OK

Pengukuhan gelar doktor oleh promotor setelah menerima putusan dari Ketua Sidang (Foto: El John Media)

El John News, Jakarta-Dosen program studi Desain Interior di Pradita University, Boyke Yanus Anshory, S.Sn., M.Ds., resmi meraih gelar doktor (S3) pada Program Studi Antropologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Indonesia. Gelar tersebut diperoleh setelah berhasil mempertahankan disertasinya dalam sidang promosi terbuka yang berlangsung di Auditorium FISIP UI, Selasa (30/6/2026).

Dalam sidang tersebut, Boyke memaparkan hasil penelitiannya yang berjudul “Model Kemitraan ‘Pingitan’ Perkuat Keberlanjutan Industri Rotan Lokal di Cirebon”. Disertasi ini mengkaji pola hubungan antara pengrajin rotan dan perusahaan furnitur di Desa Tegal Wangi, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat.

Penelitian disertasi di bidang Antropologi ini mengungkap bahwa hubungan antara pengrajin dan perusahaan furnitur rotan di Desa Tegal Wangi, Kabupaten Cirebon, tidak hanya bersifat eksploitatif. Meski perusahaan memiliki kendali atas modal, teknologi, dan akses pasar global, para pengrajin tetap mampu beradaptasi melalui negosiasi, inovasi keterampilan, penguatan jaringan sosial, serta strategi bertahan yang membuat industri rotan lokal tetap berkembang.

 Penelitian ini menggunakan metode etnografi melalui observasi, wawancara mendalam, dan analisis dokumen untuk menggambarkan dinamika tersebut.

Foto bersama dengan Pimpinan sidang, penguju dan promotor (Foto: El John Media)

Penelitian ini juga melahirkan konsep baru “Pingitan”, yaitu model kemitraan hibrid yang memadukan nilai-nilai budaya lokal dengan praktik industri modern.

 Konsep tersebut menunjukkan bahwa keberlanjutan industri rotan tidak hanya bergantung pada modal dan pasar, tetapi juga pada kemampuan adaptasi, solidaritas komunitas, dan kapabilitas budaya para pengrajin. Temuan ini diharapkan menjadi referensi bagi pengembangan kebijakan kemitraan industri kreatif dan pemberdayaan UMKM berbasis budaya lokal.

Boyke mengaku lega dan bersyukur setelah resmi meraih gelar doctor. Menurutnya, keberhasilan tersebut merupakan puncak dari perjalanan panjang yang tidak hanya menjadi pencapaian akademik, tetapi juga bentuk pengakuan atas kompetensinya di bidang furnitur yang telah lama digeluti.

Boyke mengatakan, proses yang dilalui hingga sidang promosi doktor menjadi pengalaman yang penuh tantangan dan menguras emosi. Meski merasa gugup selama menjalani sidang terbuka, ia bersyukur seluruh rangkaian proses akhirnya dapat diselesaikan dengan baik.

“Ya, terima kasih. Jadi sebetulnya ini proses perjalanan panjang dan tentu saja apa yang terjadi di ruang sidang ini adalah representasi dari perjalanan saya sebagai background kompetensi di bidang furniture. Dan divalidasi di pendidikan tertinggi doktoral, yang tentu saja validasi ini hasilnya bisa memberikan dampak juga untuk masyarakat secara luas. Dan proses ini benar-benar membuat saya nervous juga, akhirnya selesai,” ujar Boyke.

Foto bersama dengan perwakilan keluarga dan tamu dari sejumlah pimpinan universitas (Foto: El John Media)

Ia mengungkapkan, tantangan terbesar dalam penyusunan disertasinya bukan hanya saat melakukan penelitian di lapangan, tetapi juga ketika mengolah seluruh temuan menjadi karya ilmiah yang sistematis.

“Tantangannya menurut saya pada waktu proses di lapangan. Jadi banyak hal-hal yang memang di luar dugaan, dan itu bisa menjadi masukan buat kami. Yang kedua, pada waktu menyusun hasil lapangan ke dalam bentuk tulisan, itu yang menjadi tantangan terbesarnya,” katanya.

Foto bersama keluarga setelah sidang promosi (Foto: El John Media)

Ke depan, Boyke berharap hasil penelitiannya tidak berhenti sebagai karya akademik, tetapi dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, khususnya dalam mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif dan mendukung program hilirisasi industri furnitur yang tengah dijalankan pemerintah.

“Ya tentu saja hasil ini saya berharap bisa memberikan dampak secara ekonomi, ekonomi kreatif. Dan itu bisa terkait dengan program pemerintah untuk hilirisasi furniture. Jadi pada waktu kita sudah bisa mengkondisikan masyarakat, pengrajin, dan perusahaan besar bisa berakselerasi dengan baik,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *