Rupiah Melemah di Tengah Tekanan Global, CELIOS Ungkap Penyebabnya

0
Untitled Celios

Peneliti CELIOS Dyah Ayu menjadi narasumber pada program Flash Report El John News (Foto: tangkapan layar Youtube El John News)

El John News, Jakarta-Nilai tukar rupiah yang terus berada dalam tekanan terhadap dolar Amerika Serikat mencerminkan kondisi global yang masih sangat volatil. Pada perdagangan 15 Januari 2026, rupiah dibuka di kisaran sekitar Rp16.840 per USD, seiring laju dolar AS yang masih menunjukkan kekuatan relatif dalam pasar global.

Peneliti Ekonomi Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Dyah Ayu, menilai pelemahan rupiah tidak dapat dilepaskan dari kombinasi faktor eksternal dan domestik yang saling memengaruhi.

Dyah menjelaskan, tekanan global saat ini terutama berasal dari arah kebijakan moneter Amerika Serikat serta pergerakan indeks dolar yang cenderung menguat. Situasi tersebut membuat mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, berada dalam posisi rentan.

“Kita perlu melihat dua faktor global. Pertama adalah arah kebijakan The Fed dan bagaimana kecepatan penguatan indeks dolar. Sinyal suku bunga ini cenderung menguatkan dolar dan pada saat yang sama menekan rupiah,” ujar Dyah kepada El John News, Kamis (15/1/2026).

Di tengah tekanan tersebut, Bank Indonesia (BI) dinilai tetap konsisten menjaga stabilitas melalui kebijakan suku bunga acuan guna mengendalikan inflasi dan menjaga daya tarik aset keuangan domestik. Namun, Dyah menekankan bahwa tantangan rupiah tidak hanya berasal dari faktor moneter.

Menurutnya, Indonesia juga tidak boleh mengabaikan risiko geopolitik global, mulai dari ketegangan perdagangan internasional, konflik bersenjata, hingga gangguan rantai pasok. Ketidakpastian geopolitik ini meningkatkan tekanan terhadap arus modal dan memperbesar volatilitas nilai tukar.

“Dalam kondisi geopolitik yang masih bersitegang dan potensi konflik yang belum reda, perlindungan utama ekonomi Indonesia justru ada pada konsumsi masyarakat dalam negeri,” kata Dyah.

Ia menilai, menjaga daya beli masyarakat menjadi kunci untuk meredam dampak eksternal terhadap perekonomian nasional. Oleh karena itu, Dyah menekankan pentingnya peran pemerintah dalam menyikapi pelemahan rupiah, bukan hanya mengandalkan respons pasar atau imbauan kepada publik agar tidak bersikap panik.

Dyah menyarankan pemerintah untuk melakukan koreksi kebijakan fiskal, khususnya dengan memangkas belanja negara yang dinilai tidak produktif dan minim dampak jangka panjang. Ia menyoroti belanja populis yang berpotensi memperlebar defisit dan meningkatkan kebutuhan pembiayaan utang, terutama di tengah rupiah yang melemah.

“Kalau defisit melebar dan belanja tidak produktif terus jalan, sementara pembiayaannya dari utang berdenominasi dolar, itu justru menambah risiko,” jelasnya.

Sebaliknya, Dyah mendorong realokasi anggaran ke belanja yang memiliki multiplier effect besar, seperti infrastruktur produktif, kesehatan, pendidikan, serta penguatan jaring pengaman sosial. Dengan begitu, konsumsi domestik dapat tetap terjaga, dunia usaha bergerak, dan penerimaan negara memiliki basis yang lebih berkelanjutan di tengah tekanan global.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *